Ads

Minggu, 19 Juni 2016

Pusaka Pulau Es Jilid 081 (TAMAT)

Keng Han maklum. Gadis kekasihnya ini tidak ingin melihat perasaannya terpukul. Maka dia mengangguk dan menunjukkan di mana kamar ibunya. Akan tetapi dia tidak pergi meninggalkan begitu saja. Dia tetap melihat dari situ, siap untuk menghibur kekasihnya kalau nanti keluar sambil menangis.

Dengan langkah yang tegap Cu In menghampiri Silani dan mengetuk pintunya.

"Siapa?" terdengar wanita itu bertanya dari dalam.

"Saya, Bibi. Saya Cu In, ingin menghadap dan bicara dengan Bibi."

"Ahhh, engkau Cu In, pintunya tidak terkunci, buka saja dan masuklah."

Cu In mendorong pintu kamar dan masuk. Jantung Keng Han berdebar tegang melihat gadis itu memasuki kamar ibunya. Dia memandang pintu kamar itu penuh perhatian, seolah pandang matanya ingin menembus pintu dan melihat apa yang terjadi di dalam. Dia mengira bahwa tak lama kemudian akan mendengar teriakan ibunya, disusul keluarnya Cu In sambil menangis.

Akan tetapi tidak terjadi hal seperti yang dia khawatirkan itu. Setelah menanti sampai lama sekali, akhirnya daun pintu terbuka dan Keng Han sudah siap menyambut dan menghibur kekasihnya yang keluar sambil menangis.

Akan tetapi kembali dia kecelik. Gadis itu keluar tidak menangis, bahkan matanya bersinar-sinar, diikuti ibunya yang juga tersenyum-senyum.

Keng Han menyongsong mereka dan bertanya kepada ibunya.
"Ibu, apakah Ibu sudah melihat wajah Cu In? Bagaimana pendapat Ibu? “

"Keng Han, manusia tidak dapat dinilai dari cantik tidaknya wajahnya, melainkan dari budi pekertinya. Dan aku mendapatkan bahwa calon isterimu ini seorang yang bijaksana. Engkau memang pandai dan cocok sekali memilihnya sebagai isterimu."

"Akan tetapi, wajahnya....?" Saking herannya Keng Han bertanya.

"Jangan mempersoalkan tentang wajah. Melihat ia seorang gadis yang bijaksana sudah cukup bagiku!"






"Terima kasih, Ibu!" Keng Han girang bukan main, "Akan tetapi aku belum meminangnya dengan resmi kepada ayah bundanya, Ibu."

"Kenapa begitu?"

"Karena aku ingin memberi tahu dulu kepada Ibu dan minta persetujuan Ibu."

"Aku menyetujui sepenuhnya dan cepat-cepat engkau melamarnya, Keng Han. Karena ibumu berada di tempat jauh, biar engkau saja melamar sendiri. Kalau sudah menikah saya harap kalian suka menjenguk ibumu."

"Tentu saja, Ibu!"

Demikianlah, setelah tinggal di rumah ibunya sampai dua pekan, Keng Han dan Cu In kembali melakukan perjalanan ke timur, menuju ke kota raja.

Hati Keng Han gembira bukan main. Satu-satunya persoalan yang selama ini mengganggu pikirannya adalah bagaimana kalau ibunya melihat wajah Cu In yang cacat. Dia khawatir kalau-kalau ibunya akan menolaknya. Akan tetapi ternyata tidak. Ibunya menerima kenyataan itu dengan hati terbuka, dengan bijaksana.

Akan tetapi baru saja dia kematian ayahnya. Untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang putera, ketika mereka diterima oleh Panglima The dan membicarakan tentang perjodohannya dengan Cu In, dia mengatakan tentang perjodohannya dengan Cu In, dia mengatakan bahwa untuk melaksanakan pernikahan dia harus menunggu setahun setelah kematian ayahnya.

Mendengar ini, Panglima The bahkan mengagumi calon mantunya dan menyatakan setuju. Demikian pula Ang Hwa Nio-nio sepenuhnya menyetujui Cu In sendiri tentu saja merasa senang melihat calon suaminya membuktikan bahwa dirinya seorang anak yang berbakti.

Beberapa bulan kemudian, Keng Han dan Cu In menerima undangan dari Toat-beng Kiam-sian Lo Cit yang menikahkan Lo Siu Lan dengan Tang Hun, dan Gan Bu Tong dengan Bi-kiam Nio-cu Siang Bi Kiok. Perayaan mempelai kembar itu amat meriah. Mereka juga menghadiri pernikahan yang dirayakan secara besar-besaran antara Cia Kun dan Tao Kwi Hong sebagai mempelai bangsawan.

Setelah lewat setahun meninggalnya Pangeran Tao Seng, maka pernikahan antara Cu In dan Keng Han dapat dilaksanakan. Semua tamu merasa heran karena mempelai wanita tetap memakai cadar. Setelah sepasang mempelai berada dalam kamar berdua saja, Keng Han hendak membuka cadar isterinya.

"Jangan dulu, Han-ko!"

"Eh? Kenapa, In-moi? Bukankah engkau berjanji akan membuka cadar setelah kita menikah?"

"Nanti dulu, berjanjilah dulu bahwa engkau akan tetap mencintaku, bagaimanapun juga rupaku?"

"Ha-ha-ha, In-moi. Aku sudah pernah melihat wajahmu. Apakah ada perubahan kau lihat dalam sikapku kepadamu? Aku tetap mencintamu, bagaimanapun juga bentuk wajahmu."

"Benarkah? Engkau berani bersumpah?"

"Aku bersumpah, disaksikan Tuhan, Langit dan Bumi, bahwa aku akan tetap mencintamu, bagaimanapun juga bentuk wajahmu!" kata Keng Han dengan suara tegas.

Terdengar gadis itu terisak.
"Dan aku.... aku pun hanya isterimu yang buruk dan bodoh, aku.... aku selamanya mencintamu! Nah, sekarang bukalah cadarku, perlahan-lahan saja, Han-ko!"

Biarpun dia sudah tahu bahwa dari atas hidung ke bawah, wajah isterinya ini cacat menghitam, akan tetapi kedua tangannya gemetar juga ketika dia membuka cadar, disingkapkan ke atas. Setelah cadar dibuka, Keng Han meloncat ke belakang seperti diserang ular.

"Kau.... kau.... kau bukan Cu In!!" Keng Han menatap wajah yang cantik jelita itu. "Siapa kau....?"

Wanita itu menutupkan kembali cadarnya.
"Aku adalah The Cu In, Han-ko. Engkau ini mengapakah?"

"Tapi, tapi.... wajahmu itu....!" Kembali dia menyingkap cadar itu, bahkan merenggut lepas dari kepala Cu In. "Engkau.... benarkah engkau Cu In isteriku?"

Cu In bangkit berdiri dan tersenyum manis sekali.
"Aku memang Cu In, isterimu. Dan mulai malam ini aku meninggalkan cadarku, juga menghapus penyamaranku"

"Jadi selama ini engkau menyamar? Kenapa engkau membohongi aku dengan penyamaranmu sebagai gadis yang cacat mukanya?"

"Aku memang sengaja hendak menguji cintamu, Han-ko. Akan tetapi engkau tetap mencintaku dengan wajahku yang buruk. Aku.... aku bersyukur dan berterima kasih sekali, suamiku...."

Keng Han melangkah maju dan merangkul Cu In yang menyembunyikan mukanya di dada suaminya sambil menangis.

"Akan tetapi mengapa? Mengapa engkau selama ini menyamar sebagai dara yang cacat mukanya dan mengenakan cadar?"

"Semua ini gara-gara sikap ibuku. Ibuku selalu menceritakan bahwa semua laki-laki itu jahat, bagaikan kumbang yang setelah menghisap madunya kembang lalu meninggalkannya begitu saja. Aku lalu menyamar sebagai gadis yang buruk muka karena cacar, lalu memakai cadar agar jangan ada laki-laki mencintaku. Tidak tahunya muncul engkau, laki-laki bodoh yang jatuh cinta kepadaku! Tidak ada yang mengetahui rahasiaku ini kecuali ibuku. Suciku sendiri pun tidak tahu. Yang mengetahui hanya ibuku dan ibumu."

"Ibuku....?"

"Ya, ibumu. Lupakah engkau betapa ibumu ingin melihat mukaku? Nah, ketika itulah aku melepas penyamaranku sehingga ibumu dapat melihat wajah aselinya. Akan tetapi aku berpesan agar beliau tidak membuka rahasiaku, juga tidak kepadamu."

"Ih, engkau nakal, In-moi!" kata Keng Han sambil menciumnya. "Kenapa engkau terus menyembunyikan dariku pada hal engkau tahu bahwa bagaimanapun rupamu aku tetap mencintamu?"

"Aku ingin menguji cintamu sampai penghabisan, sampai kita menikah. Tidak senangkah engkau melihat aku tidak cacat?"

"Tidak senang? Tentu saja aku bahagia sekali karena kalau begini aku tidak perlu menghajar orang!"

"Menghajar orang?"

"Ya, kalau engkau sudah membuka cadarmu dan ada orang yang mengejekmu, pasti kuhajar orang itu. Akan tetapi sekarang tidak akan, tidak ada yang mengejekmu, yang ada hanya memujimu."

Keng Han lalu merenggangkan dirinya dan memegang wajah itu pada kedua pipinya untuk dipandang dengan penuh perhatian. Hatinya menjadi sebesar gunung karena wajah isterinya benar-benar cantik seperti bidadari.

"Kenapa engkau....?"

"Mengagumi wajahmu yang begitu cantik seperti seorang dewi turun dari kahyangan saja."

"Ihhh, engkau membuat aku malu!"

"Biar, sebagai hukumanmu menggodaku sejak dahulu!" kata Keng Han sambil mendekatkan mukanya dan mencium isterinya.

Sampai di sini selesailah kisah ini yang berakhir dengan kebahagiaan orang-orang yang membela kebenaran dan keadilan, dan berakhir dengan kesengsaraan bagi mereka yang berwatak jahat dan menjadi budak dari nafsu mereka sendiri. Semoga ada manfaatnya bagi kita semua.
T A M A T
Pusaka Pulau Es







http://khopingho-spjt.blogspot.com/2010/02/pedang-kayu-harum.html