Ads

Rabu, 04 Mei 2016

Si Tangan Sakti Jilid 036

Thian To-cu dengan susah payah menuruni Bukit Naga, dibantu oleh empat orang sutenya yang juga menderita luka guncangan dalam dada. Mereka terpukul oleh tenaga mereka sendiri yang membalik, akan tetapi yang paling parah adalah Thian To-cu karena dia bukan saja terguncang hebat oleh pukulannya yang membalik, juga dia dilanda hawa beracun yang membuat dadanya sesak dan warna kulit dadanya menghitam! Setelah tiba di kaki bukit, Thian To-cu tidak tahan lagi dan roboh pingsan!

Pada saat empat orang tosu dengan bingung merubung suheng mereka dan berusaha menyadarkannya, mereka mendengar suara seorang wanita yang bertanya,

“To-tiang sekalian, apakah yang terjadi dan kenapa To-tiang itu? Eh, bukankah kalian tosu-tosu dari Bu-tongpai?”

Empat orang tosu itu menengok. Seorang gadis telah berdiri di situ. Gadis yang masih amat muda, belum dua puluh tahun usianya. Cantik jelita dan gagah sekali sikapnya. Pakaiannya berwarna merah.

“Aih, bukankah dia Thian To-cu Totiang dari Bu-tong-pai?” kata lagi gadis itu dengan nada suara heran. “Kenapa dia?”

Kini dua di antara empat orang tosu itu teringat bahwa gadis ini pernah satu kali singgah di kuil mereka.

“Kiranya Ang-ho Li-hiap (Pendekar Wanita Bangau Merah)!” seru seorang di antara mereka. “Kami berlima baru turun dari bukit, berkunjung ke Thian-li-pang dan kami dilukai oleh ketuanya.”

“Ahhhhh?”

Gadis itu adalah Tan Sian Li Si Bangau Merah. Tentu saja ia merasa heran bukan main mendengar ketua Thian-li-pang melukai lima orang tosu Bu-tong-pai.

Bukankah Thian-li-pang merupakan perkumpulan para patriot gagah perkasa? Bahkan Yo Han menjadi pemimpin besar mereka. Kenapa kini ketuanya memukul orang-orang Bu-tong-pai? Kalau ia tidak salah ingat, Yo Han pernah bercerita tentang Thian-li-pang dan ketuanya adalah Lauw Kang Hui, seorang kakek yang gagah perkasa.

Akan tetapi yang lebih penting adalah menolong tosu yang terluka itu. Bu-tong-pai adalah perkumpulan orang gagah, para muridnya banyak yang menjadi pendekar. Bahkan ayahnya menghormati Bu-tong-pai, maka sudah sepantasnya kalau ia mencoba menolong para tosu itu.

“Biarkan aku memeriksanya, siapa tahu akan dapat mengobati dan menyembuhkannya,” katanya.

Melihat sikap gadis muda itu yang tenang dan tegas, empat orang tosu itu mundur dan membiarkan Sian Li melakukan pemeriksaan. Sian Li berjongkok dekat tubuh Thian To-cu yang masih pingsan, lalu memegang pergelangan tangannya, merasakan denyut nadinya. Ia mengerutkan alisnya. Dari denyut nadi itu ia maklum bahwa keadaan tosu itu cukup gawat dan dia menderita luka dalam yang mengandung hawa beracun!

“Coba ceritakan, apa yang terjadi bagaimana dia sampai terluka dalam seperti ini.” katanya.

Empat orang tosu itu menceritakan tentang perkelahian mereka melawan ketua Thian-li-pang, tentang adu tenaga yang mengakibatkan mereka semua terluka.

Sian Li mengerutkan alisnya.
“Hemmm, sungguh aneh. Aku harus memeriksa keadaan tubuhnya. Tolong bukakan bajunya, aku ingin memeriksa dadanya.”

Seorang tosu membuka baju yang menutupi dada Thian To-cu dan mereka terkejut melihat dada itu kehitaman. Sian Li meraba dada itu dan mengangguk-angguk.

“Dia telah terkena hawa beracun yang aneh sekali. Bagaimana mungkin ketua Thian-li-pang dapat melakukan pukulan sekeji ini?”

“Pemuda itu memang keji, aneh, seperti iblis!”

“Pemuda? Bukankah ketua Thian-lipang sudah tua?”

“Dia masih muda sekali, Lihiap, paling tua dua puluh empat tahun.”

“Ahhh? Bukankah ketuanya bernama Lauw Kang Hui dan sudah tua?”

“Bukan. Lauw Kang Hui sudah mati, dan dialah ketua baru yang penuh rahasia.”

Sian Li merasa heran.
“Biarlah kucoba mengobati suheng kalian ini lebih dahulu.” katanya dan gadis murid Yoksian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat) ini lalu mengeluarkan dua batang jarum emas.

Ia mengobati Thian To-cu dengan cara menusuk jarum. Tidak sampai setengah jam ia mengobati tosu tua itu, warna hitam di dada pendeta itu lenyap dan tosu Bu-tong-pai itu siuman, dan biarpun masih agak lemah, telah mampu bangkit.

“Siancai...., kiranya Si Bangau Merah yang telah mengobatiku. Terima kasih atas pertolonganmu, Tan-lihiap.” kata Thian To-cu.

“Totiang, apa sih yang telah terjadi di Thian-li-pang? Bukankah ketuanya bernama Lauw Kang Hui, dan bagaimana sekarang tiba-tiba muncul ketua baru yang masih muda dan memiliki ilmu pukulan keji itu? Aku sendiri hendak naik ke sana dan mencari kalau-kalau Han-koko berada di sana.”

“Siapakah Han-koko itu, Lihiap?” tanya Thian To-cu.

“Yang kumaksudkan adalah koko Yo Han, Sin-ciang Tai-hiap. Bukankah dia merupakan pemimpin besar Thian-li-pang?”






Mendengar ini, Thian To-cu menghela napas panjang dan wajahnya berubah muram.
“Siancai....,suatu keanehan terjadi di atas sana, Lihiap.” Dia memandang ke atas bukit.
“Karena terjadinya perubahan aneh di Thian-li-pang, maka kami berlima datang berkunjung untuk melakukan penyelidikan dan meminta keterangan. Akan tetapi, kami dihadapkan kepada kenyataan pahit, bahkan kami sampai terluka.”

Tentu saja, Sian Li tertarik sekali.
“Ceritakan, Totiang. Apa sih yang terjadi dengan Thian-li-pang?”

“Mula-mula kami mendengar berita yang meresahkan hati, bahwa para pimpinan Thian-li-pang, yaitu Lauw Kang Hui dan beberapa orang pembantunya telah tewas. Kemudian terdengar berita bahwa Thian-li-pang mempunyai seorang ketua baru dan sejak itu sepak terjang Thian-li-pang menjadi aneh. Mereka menundukkan hampir semua perkumpulan silat dan tokoh kang-ouw di daerah ini, membujuk atau memaksa mereka untuk bekerja sama. Bahkan golongan sesat, bersekutu pula dengan golongan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, sebetulnya kami dari Bu-tong-pai tidak ingin mencampuri urusan dalam, sampai ada sebuah berita yang membuat kami merasa penasaran sekali dan memaksa kami untuk datang berkunjung. Berita itu adalah bahwa para pemimpin Thian-li-pang itu dibunuh oleh Sin-ciang Tai-hiap Yo Han.”

“Ahhhhh.... tidak mungkin....!!” Sian Li berseru, kaget bukan main.

“Kami juga tidak percaya akan berita itu, Lihiap. Kami mengenal siapa Sin-ciang Tai-hiap. Apalagi membunuh para pimpinan Thian-li-pang padahal dia pemimpin besar di sana, bahkan para penjahat pun tidak ada yang dibunuhnya. Dia menundukkan penjahat dan menasihatinya, membujuknya sehingga banyak penjahat kembali ke jalan benar. Akan tetapi, ada berita lain yang terlalu aneh. Yang mendorong kami melakukan penyelidikan, yaitu bahwa baru beberapa hari ini, Sin-ciang Tai-hiap dibunuh oleh ketua baru Thian-li-pang!”

“Ahhhhh....!!” Kini Sian Li meloncat berdiri dan mukanya berubah pucat sekali, matanya terbelalak. “Aku.... aku tidak percaya!!”

“Kami juga tidak percaya akan keterangan yang diberikan ketua baru Thian-li-pang itu sehingga terjadi bentrokan antara kami dan dia. Akan tetapi, dia ternyata amat lihai dan memiliki ilmu pukulan yang amat keji. Kami kalah dan pergi dalam keadaan.luka.”

“Kalau begitu, aku harus menyelidiki ke sana. Selamat berpisah, Totiang!”

Setelah berkata demikian, nampak berkelebat bayangan merah dan Sian Li sudah lenyap dari depan para tosu itu.

Thian To-cu menghela napas panjang dan menggeleng kepalanya.
“Sungguh berbahaya sekali, akan tetapi mudah-mudahan Tan-lihiap akan mampu menandingi iblis itu,” katanya. Mereka berlima merasa prihatin sekali, akan tetapi juga tidak berdaya.

Dengan hati diliputi kegelisahan mendengar Yo Han dibunuh ketua baru Thian-li-pang yang kabarnya masih muda itu, Sian Li berloncatan dan mempergunakan ilmu berlari cepat mendaki Bukit Naga.

“Berhenti!!”

Tiba-tiba terdengar seruan dan dari balik pohon dan semak belukar, berloncatanlah sepuluh orang anggauta Thian-li-pang dan mereka mengepung Sian Li. Ketika melihat bahwa yang datang tanpa diundang dan mereka kepung itu hanya seorang gadis cantik berpakaian serba merah, sepuluh orang anggauta Thian-li-pang itu tertegun lalu mereka tertawa-tawa dan mereka menyarungkan kembali golok mereka karena mereka tentu saja memandang rendah seorang gadis cantik seperti Sian Li.

Akan tetapi biarpun mereka kagum akan kecantikan Sian Li, mereka tidak berani bersikap kurang ajar. Ketua mereka mempunyai hubungan luas dengan dunia kang-ouw dan kalau ternyata gadis ini seorang sahabat ketua mereka, maka kekurang-ajaran mereka cukup untuk menjadi alasan mereka dihukum berat oleh ketua mereka.

“Nona, siapakah Nona dan ada keperluan apakah mendaki Bukit Naga? Apakah Nona seorang tamu dari Thian-li-pang?”

Karena merasa amat khawatir akan keselamatan Yo Han yang kabarnya dibunuh ketua Thian-li-pang, Sian Li langsung saja bertanya,

“Apakah kalian ini anak buah Thian-li-pang?”

“Benar, Nona. Siapakah Nona dan ada keperluan apa Nona datang berkunjung?”

“Siapakah nama ketua Thian-li-pang sekarang?” tanya Sian Li.

Orang-orang itu saling pandang, masih ragu-ragu karena belum tahu apakah gadis ini teman ataukah lawan,

“Ouw pangcu kami bernama Ouw Seng Bu,” kata pemimpin mereka, seorang yang bertubuh kurus kering dan mukanya kuning.

“Katakan kepada Ouw-pangcu bahwa aku ingin bertemu. Namaku Tan Sian Li.”

Mendengar bahwa gadis cantik ini hendak bertemu dengan ketua mereka, orang-orang Thian-li-pang itu tidak berani bersikap lancang. Si kurus kering berkata,

“Mari silakan mengikuti kami, Nona. Kami akan melaporkan kepada ketua kami.”

Sian Li mengikuti mereka memasuki perkampungan Thian-li-pang dan berhenti di depan gedung induk yang menjadi tempat tinggal ketua Thian-li-pang. Si kurus kering segera masuk untuk melaporkan kepada Ouw Seng Bu.

Pada saat itu, Ouw Seng Bu sedang bercakap-oakap dengan Cu Kim Giok dan Siangkoan Kok. Siangkoan Kok sedang melaporkan tentang hasilnya menaklukkan partai-partai persilatan dan perkumpulan besar di dunia kang-ouw untuk bekerja sama dengan mereka mendukung perjuangan mereka menentang pemerintah penjajah.

Cu Kim Giok hanya sebagai pendengar saja. Gadis ini semakin kagum kepada Ouw Seng Bu dan tidak lagi memandang rendah kepada Siangkoan Kok atau para tokoh perkumpulan sesat yang telah bergabung dengan Thian-li-pang. Ia menganggap bahwa di dalam perjuangan menentang penjajah, memang semua kekuatan harus dipersatukan, seperti yang dikatakan pemuda yang dicintanya itu.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa kadang-kadang kekasihnya itu bertindak kejam, namun ia menghibur hatinya yang merasa tidak cocok itu bahwa memang demikianlah perjuangan. Ia menganggap kekasihnya seorang pejuang sejati, seorang pahlawan dan pendekar. Dan sikap Ouw Seng Bu terhadap dirinya demikian baik, sopan, ramah dan penuh perhatian, penuh kasih sayang! Daun pintu ruangan itu diketuk orang. Ouw Seng Bu mengerutkan alisnya.

“Masuk!” katanya lantang.

Si kurus kering membuka daun pintu dan masuk, disambut bentakan Ouw Seng Bu.
“Ada urusan apa sampai engkau berani mengganggu kami?”

“Maaf, Pangcu. Kami mengadakan penjagaan di lereng dan bertemu dengan seorang gadis berpakaian merah yang menanyakan Pangcu dan minta bertemu dengan Pangcu. Karena itu, kami mengajaknya datang dan sekarang ia menanti di ruangan depan.”

“Siapakah namanya dan apa keperluannya?”

“Ia tidak mengatakan keperluannya, hanya ingin bicara dengan Pangcu dan namanya Tan Sian Li.”

“Ah, ia Sian Li....!!” seru Cu Kim Giok kaget, heran dan juga girang.

“Si Bangau Merah....!!” Seru pula Siangkoan Kok.

“Kalian sudah mengenalnya?” tanya Ouw Seng Bu heran. “Siapakah gadis itu, Giok-moi?”

“Bu-koko, Tan Sian Li adalah puteri paman Tan Sin Hong.” jawab Kim Giok. “Kami pernah saling bertemu dalam pesta ulang tahun Paman Suma Ceng Liong.”

“Ia adalah Si Bangau Merah, puteri Pendekar Bangau Putih dan ibunya adalah keturunan keluarga Istana Gurun Pasir.” kata pula Siangkoan Kok.

“Ahhh....!” Ouw Seng Bu terkejut sekali. “Ada keperluan apa ia datang ke sini? Aku tidak mengenalnya.” Lalu kepada si kurus kering dia berkata, “Persilakan Nona Tan Sian Li untuk menunggu di kamar tamu. Aku segera menemuinya di sana.”

Setelah si kurus kering pergi, dia menoleh kepada Kim Giok.
“Giok-moi, engkau mengenalnya dengan baik. Apa yang harus kulakukan?”

“Aku agak khawatir, Koko, karena aku pernah mendengar bahwa Sian Li saling mencinta dengan Yo Han. Jangan-jangan ia datang untuk....”

Wajah Ouw Seng Bu berubah.
“Ah, kalau begitu kita harus membuat persiapan untuk mengatasinya. Ia merupakan ancaman bagi kita.”

“Koko, harap engkau jangan mengganggu Sian Li. Kita harus mencari jalan agar ia tidak memusuhi kita, bahkan membujuknya agar membantu perjuangan kita.” kata Kim Giok.

“Engkau benar, Giok-moi. Akan tetapi bagaimana kalau ia tidak mau dan hendak membalas dendam karena kematian Yo Han?”

“Kalau begitu, kita habisi gadis itu karena membahayakan kita!” kata Siangkoan Kok.

“Aku tidak setuju!” kata Cu Kim Giok tegas, “Aku tidak rela kalau ia dibunuh! Ia masih kerabat dekat orang tuaku. Tidak mungkin aku membiarkan orang membunuhnya!”

“Giok-moi, apakah engkau membiarkan ia membalas dendam atas kematian Yo Han dan menghancurkan Thian-li-pang kita? Apakah engkau rela kalau ia membunuhku? Kalau kita biarkan ia pergi, dan ia mengajak ayahnya dan semua keluarga menyerang, kita akan celaka. Keluarga Suling Emas dan Gurun Pasir merupakan kerabat dekat dan bagaimana kita dapat menanggulangi mereka yang memiliki banyak orang sakti?”

“Tidak, aku tidak ingin ia membunuhmu, akan tetapi juga tidak ingin engkau membunuhnya. Kita mencari jalan terbaik. Aku akan membujuknya agar Ia mau melihat kenyataan bahwa Yo Han tewas karena ulah sendiri dan agar ia tidak memusuhi kita.”

“Andaikata usahamu itu gagal?”

“Kalau begitu terserah, akan tetapi aku tetap melarang ia dibunuh.”

“Baiklah Giok-moi, kalau ia berkeras kita tangkap dan tawan saja ia sebagai tamu, agar ia melihat sepak terjang kita dalam perjuangan.”

Terdengar ketukan pada daun pintu dan suara si kurus kering tadi,
“Lapor, Pangcu. Nona Tan sudah menanti di ruangan tamu.”

“Baik, kami segera datang. Mari, Giok-moi!”

Siangkoan Kok tidak ikut karena kalau dia muncul di depan Si Bangau Merah, tentu akan mengejutkan gadis itu dan mendatangkan kesan buruk karena mereka pernah bermusuhan dan bertanding.

Sian Li sudah menjadi tidak sabar menanti terlalu lama, maka ketika mendengar langkah orang dari dalam, ia sudah bangkit berdiri. Dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika ia melihat bahwa yang muncul adalah seorang pemuda tampan bersama seorang gadis yang dikenalnya sebagai Cu Kim Giok! Akan tetapi, ia takut kalau salah lihat dan mungkin gadis itu orang lain yang hanya mirip Cu Kim Giok, maka dia pun diam saja, hanya memandang penuh perhatian.

“Sian Li....!” Cu Kim Giok yang berseru sambil menghampiri Si Bangau Merah.

“Kiranya engkau!”

“Jadi benar engkau Cu Kim Giok? Kim Giok, bagaimana engkau dapat berada di sini?”

“Panjang ceritanya, Sian Li. Perkenalkan, ini adalah Ouw Seng Bu, pangcu dari Thian-li-pang. Silakan duduk!”

Sian Li masih keheranan, akan tetapi ia pun duduk berhadapan dengan mereka setelah membalas penghormatan Ouw Seng Bu kepadanya. Pangcu yang masih muda itu bersikap sopan dan hormat sekali.

“Sungguh merupakan kehormatan besar menerima kunjunganmu, Nona. Bukankah Nona yang berjuluk Si Bangau Merah? Sudah lama kami mengenal nama besar Nona di dunia kang-ouw.” kata Ouw Seng Bu.

“Ouw-pangcu, aku datang ke sini untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu. Kuharap engkau suka menjawab sejujurnya!”

“Sian Li, Ouw-pangcu adalah seorang pendekar, seorang pahlawan bangsa yang sedang berjuang untuk menentang penjajah Mancu. Tentu saja dia akan menjawab semua dengan sejujurnya.” kata Cu Kim Giok.

“Kim Giok, aku berurusan dengan Ouw-pangcu, harap engkau tidak mencampuri.” kata Sian Li, masih ragu dan heran melihat keakraban antara gadis itu dan ketua Thian-li-pang.

Memang ia merasa ingin tahu sekali bagaimana Kim Giok dapat berada di situ, akan tetapi ia mengesampingkan keinginan tahu ini karena ia lebih mementingkan jawaban tentang Thian-li-pang dan terutama tentang Yo Han seperti yang didengarnya dari para tosu Bu-tong-pai.

“Tanyalah, Nona. Saya akan menjawab sejujurnya.” kata Ouw Seng Bu.

Sian Li berpikir, biarpun ia ingin sekali segera mendengar tentang Yo Han, akan tetapi ia ingin mengajukan pertanyaan secara teratur.

“Ouw-pangcu, aku mendengar bahwa Thian-li-pang menaklukkan banyak partai persilatan dan memaksa para tokoh kang-ouw untuk bekerja sama dengan Thian-li-pang, bahkan Thian-li-pang bersekutu dengan perkumpulan-perkumpulan sesat seperti Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai. Benarkah itu dan mengapa demikian! Setahuku, Thian-li-pang adalah perkumpulan pejuang yang gagah perkasa yang menentang partai-partai sesat. “

Ouw Seng Bu tersenyum. Sebelum pendekar wanita itu mengajukan pertanyaan, dia telah dapat mengira apa yang akan dipertanyakan, maka dia pun tentu saja sudah siap dengan jawabannya.

“Itukah pertanyaanmu, Nona? Memang kami akui bahwa Thian-li-pang telah mengubah siasat. Kami yakin benar bahwa tanpa adanya persatuan, pengerahan seluruh tenaga yang ada di tanah air, mustahil akan dapat mengenyahkan penjajah Mancu dari tanah air kita. Karena itulah, maka kami memang membujuk, bahkan kalau perlu memaksa, menyadarkan semua pihak untuk bekerja sama dalam satu perjuangan menentang penjajah dan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan. Karena itu, kami tidak berpantang untuk barsekutu dengan pihak manapun, termasuk Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai yang kami anggap sebagai rekan-rekan seperjuangan.”

“Aku setuju sekali dengan tindakan itu, Sian Li,” kata Kim Giok.

“Begitukah? Sekarang pertanyaan ke dua. Aku mendengar bahwa para pimpinan Thian-li-pang, termasuk pangcu Lauw Kang Hui, telah tewas dibunuh orang. Benarkah itu, dan kalau benar, apa yang terjadi dan siapa pelakunya?”

Dengan jantung berdebar namun wajah tetap tenang, sepasang matanya mencorong mengamati wajah ketua Thian-li-pang itu, Sian Li menanti jawaban.

Ouw Seng Bu menghela napas panjang sebelum menjawab,
“Pertanyaan ini amat menyedihkan hati saya, akan tetapi selalu saja orang menanyakannya. Memang benar Nona. Suhu Lauw Kang Hui, juga suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin, susiok Su Kian dan su-siok Thio Cu, mereka semua telah terbunuh. Bagaimana terjadinya, kami semua tidak mengetahui jelas. Yang kami tahu adalah bahwa mereka itu tewas dan dari tanda pukulan pada tubuh mereka, jelaslah bahwa pembunuhnya adalah Sin-ciang Tai-hiap Yo Han.”

“Tidak mungkin!” Sian Li berteriak. “Sin-ciang Tai-hiap Yo Han adalah seorang pendekar besar, bahkan dia juga tokoh pimpinan dan kehormatan Thianli-pang. Bagaimana mungkin dia membunuh para tokoh Thian-li-pang sendiri?”

“Kami sendiri memang merasa heran dan berduka, Nona. Sin-ciang Tai-hiap Yo Han dahulunya adalah pujaan kami semua, menjadi tokoh kami. Akan tetapi banyak sekali anggauta Thian-li-pang yang menyaksikan kematian para tokoh kami itu dan jelas bahwa mereka melihat bekas pukulan pada tubuh mereka, pembunuhnya adalah Pendekar Tangan Sakti Yo Han.”

“Hemmm, begitukah? Sekarang pertanyaan terakhir. Aku mendengar bahwa engkau, Ouw Seng Bu, telah membunuh Sin-ciang Tai-hiap Yo Han. Benarkah itu?” berkata demikian, Sian Li bangkit berdiri, matanya mencorong dan suaranya terdengar lantang.

Ouw Seng Bu nampak tegang dan gelisah lehernya basah oleh peluh.
“Nona Tan Sian Li, sungguh hal ini amat menyedihkan. Entah apa yang terjadi pada diri Sin-ciang Tai-hiap karena dia telah berubah sama sekali. Dia datang dan menyerang saya ketika saya berada didekat sumur keramat di belakang bukit. Saya terkena pukulannya yang ampuh sehingga hampir saya tewas. Akan tetapi, para saudara di Thian-li-pang membela saya dan akhirnya Yo-taihiap tergelincir ke dalam sumur tua itu. Karena kami semua takut kepadanya yang seolah-olah telah berubah menjadi seorang yang kejam dan hendak membunuhi kami, terpaksa kami pergunakan batu-batu untuk menutup sumur itu.”

“Tidak....! Bohong....! Aku tidak percaya! Kau kira aku tidak mengenal siapa Yo Han? Dia adalah kakak angkatku, suhengku, dan orang yang paling kucinta di dunia ini. Aku mengenalnya dan tidak mungkin dia melakukan semua itu. Bohong!”

“Maaf, Sian Li,” kata Cu Kim Giok, “terpaksa sekali ini aku mencampuri. Aku yang menanggung bahwa keterangan Ouw pangcu tadi benar, karena aku sendiri yang menjadi saksi. Aku yang mengobati luka yang diderita oleh Ouw-pangcu akibat pukulan Yo Han! Dia terluka parah dan hampir tewas, bagaimana engkau mengatakan dia berbohong?”

“Aku tidak mengerti kenapa orang seperti engkau dapat berada di sini dan membela ketua Thian-li-pang yang baru ini, Kim Giok, akan tetapi aku tidak peduli. Siapapun yang mengatakan bahwa Yo Han melakukan itu semua, aku tetap tidak percaya kalau tidak melihat buktinya. Ouw Seng Bu, bawa aku ke tempat sumur itu, di mana kau katakan tadi Yo Han tergelincir masuk!”

Ouw Seng Bu menghela napas panjang.
“Sungguh, ini merupakan masalah yang membuat kami semua berduka, Nona. Akan tetapi kalau itu yang kau kehendaki, marilah!”

Tanpa banyak cakap lagi, Sian Li mengikuti Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok keluar dari ruangan tamu dan menuju ke bagian belakang perkampungan Thian-li-pang melalui sebuah bukit kecil. Ia tidak peduli ketika melihat puluhan orang anggauta Thian-li-pang mengikuti mereka dari jarak jauh.

Setelah tiba di sumur yang dimaksudkan, Ouw Seng Bu berhenti dan menunjuk ke arah sumur itu.

“Di situlah dia tergelincir masuk, Nona.”

Mendengar bahwa kekasihnya tergelincir ke dalam sumur tua itu dan ditimbuni batu-batu, Sian Li merasa jantungnya seperti diremas dan kedua kakinya menjadi limbung ketika dengan terhuyung ia menghampiri sumur itu. Ketika ia tiba di tepi sumur dan melongok ke dalam, ingin rasanya ia menjerit melihat betapa sumur itu telah tertutup batu, memang tidak penuh sekali, akan tetapi dasarnya tidak nampak karena tertutup batu-batuan.

Wajahnya menjadi pucat dan matanya mencorong akan tetapi basah ketika ia membalikkan tubuhnya. Ia melihat bahwa Seng Bu berdiri tegak dan di belakangnya nampak puluhan orang anak buah Thian-li-pang. Kim Giok berdiri di samping Ouw Seng Bu dan kelihatan bingung dan gelisah.

“Ouw Seng Bu, cepat perintahkan anak buahmu untuk menggali sumur ini, mengangkat semua batu yang telah ditimbunkan ke dalamnya!”

“Aih, Nona, bagaimana mungkin sumur ini merupakan sumur keramat bagi kami Thian-li-pang.”

“Tidak peduli! Batu-batu itu dilemparkan ke dalam sumur oleh orang-orang Thian-li-pang, maka mereka pula yang harus mengangkatnya dari dalam sumur. Aku ingin melihat bukti keteranganmu tadi. Aku ingin melihat....mayat.... Han-koko. Kalau engkau tidak mau menuruti permintaanku, berarti engkau membohongi aku, dan aku akan membunuhmu!”

“Sian Li, kuharap engkau jangan bersikap seperti ini. Percayalah, kami tidak membohongimu. Lebih baik kita sekarang mengerahkan tenaga kita untuk membebaskan bangsa dari cengkeraman penjajah, itu lebih mulia daripada kita saling bentrok sendiri. Tidak ada yang membohongimu, Sian Li. Agaknya telah terjadi sesuatu sehingga Yo Han menjadi berubah....”