Ads

Rabu, 04 Mei 2016

Si Tangan Sakti Jilid 031

Yo Han mendaki lereng bukit itu. Bukit Naga. Thian-li-pang berada di lereng paling atas, dekat puncak. Sudah hampir setengah tahun dia merantau, mencari Sim Hui Eng, puteri Pendekar Suling Naga. Namun, usahanya sia-sia. Tak pernah dia berhasil mendengar keterangan tentang penculikan terhadap putri pendekar sakti itu. Dia sudah memasuki dunia kang-ouw, bahkan banyak menundukkan tokoh-tokoh sesat, hanya untuk dimintai keterangan kalau-kalau ada yang mengetahui, siapa yang pernah menculik puteri Pendekar Suling Naga dua puluh tahun yang lalu.

Akan tetapi semua usahanya, dari bujuk halus sampai kekerasan, tidak ada hasilnya. Agaknya tidak ada seorang pun tahu siapa yang menculik puteri pendekar itu. Penculiknya agaknya lihai dan cerdik bukan main sehingga setelah menculik anak itu, dia seperti menghilang ke dalam bumi membawa anak culikannya!

Akhirnya Yo Han mengambil kesimpulan bahwa tanpa banyak tenaga pembantu, akan sukarlah menemukan anak yang hilang itu. Dia teringat kepada Thian-li-pang. Dia telah dianggap sebagai pemimpin besar Thian-li-pang dan anak buah Thian-li-pang adalah orang-orang berpengalaman dan memiliki hubungan luas dalam dunia kang-ouw.

Mungkin para tokoh kang-ouw yang ditanyainya, merasa enggan untuk membuka rahasia rekan mereka sendiri yang melakukan penculikan, karena dia dianggap sebagai Pendekar Tangan Sakti, seorang pendekar yang menentang kejahatan. Kalau anak buah Thian-li-pang yang melakukan penyelidikan, mungkin akan lebih mudah.

Orang-orang kang-ouw tentu akan bersikap lebih terbuka di antara golongan sendiri. Benar sekali, kenapa sejak dahulu dia tidak minta bantuan para anggauta Thian-li-pang, pikirnya menyesali diri sendiri. Paman Lauw Kang Hui tentu akan senang membantuku dan lebih besar harapannya untuk dapat menemukan orang yang pernah menculik puteri Pendekar Suling Naga!

Demikianlah, pada pagi hari itu, Yo Han mendaki lereng Bukit Naga. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Thian-li-pang telah terjadi perubahan yang amat besar. Tidak tahu bahwa Lauw Kang Hui dan beberapa orang tokoh Thianli-pang telah tewas, terbunuh oleh Ouw Seng Bu, yang kini menjadi ketua Thian-li-pang!

Memang Thian-li-pang telah berubah sama sekali semenjak dipegang pimpinannya oleh Ouw Seng Bu. Pemuda yang telah menemukan ilmu silat yang amat hebat ini membiarkan para anggauta Thian-li-pang berbuat apa saja dengan bebasnya. Bahkan dia menjalin hubungan lagi dengan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, seperti yang pernah dilakukan Thianli-pang dahulu sebelum muncul Yo Han yang membersihkan perkumpulan pejuang itu, dan Ouw Seng Bu bahkan mempunyai cita-cita untuk mempersatukan semua kelompok pejuang dengan dia yang menjadi pemimpin besar.

Kalau semua kekuatan kelompok pejuang sudah dipersatukan, baik itu dari golongan pendekar maupun golongan sesat, dan dia yang menjadi pemimpin besar, tentu perjuangan mengusir penjajah Mancu akan berhasil. Dan kalau sudah berhasil, dia yang menjadi pemimpin besar, tentu berhak untuk menjadi kaisar kerajaan baru! Besar sekali jangkauan cita-cita pemuda ini.

Setelah secara kebetulan bertemu dengan Cu Kim Giok di dekat Ban-kwi-kok, menolong gadis itu dari ancaman Siangkoan Kok, dan berhasil pula menundukkan bekas ketua Pao-beng-pai yang berjanji untuk membantunya, Ouw Seng Bu mengajak, Kim Giok berkunjung ke Bukti Naga.

Cu Kim Giok sudah mendengar tentang perkumpulan Thian-lipang yang di dunia kang-ouw (sungai telaga, atau persilatan) dikenal sebagai sebuah perkumpulan para patriot yang berjuang untuk menggulingkan pemerintah penjajah.

Itulah sebabnya, ia merasa kagum dan tertarik sekali kepada Ouw Seng Bu, pemuda tampan dan gagah yang mengaku sebagai ketua Thian-li-pang. Dan di sepanjang perjalanan menuju ke Bukit Naga, Kim Giok melihat betapa sikap Seng Bu memang amat baik. Pemuda itu pendiam, juga sopan, juga ramah terhadap dirinya.

Cu Kim Giok adalah puteri tunggal suami isteri pendekar. Ayahnya, Cu Kun Tek merupakan pendekar keturunan langsung dari keluarga Cu, majikan Lembah Naga Siluman. Ibunya tidak kalah lihai dibandingkan ayahnya, karena ibunya adalah murid mendiang Bu Beng Lokai.

Tentu saja sebagai anak tunggal, Kim Giok telah mewarisi ilmu-ilmu dari ayah ibunya, dan biarpun usiarya baru delapan belas tahun lebih, Kim Giok telah menjadi seorang pendekar wanita yang amat lihai. Akan tetapi, tentu saja ia kurang pengalaman karena kali ini merupakan yang pertama ia merantau seorang diri untuk meluaskan pengalamannya.

Biarpun demikian, ia sudah membawa banyak bekal nasihat dan pesan kedua orang tuanya. Andaikata Seng Bu bersikap ceriwis terhadap dirinya, terdapat kegenitan dalam pandang mata atau kata-katanya saja, tentu ia akan menjauhkan diri. Akan tetapi, sikap Seng Bu sungguh baik. Dia nampak seperti seorang pemuda pendiam yang sopan dan berwatak pendekar sejati! Inilah sebabnya mengapa Kim Giok merasa tertarik sekali, kagum dan merasa suka.

Rasa kagumnya semakin bertambah ketika Kim Giok dan Seng Bu tiba di Bukit Naga, di pusat perkampungan Thianli-pang. Para anggauta Thian-li-pang rata-rata kelihatan gagah perkasa dengan pakaian yang rapi dan bersih, baik prianya maupun wanitanya, dan mereka semua itu menyambut kedatangan Seng Bu dengan sikap yang amat menghormat!

Masih begitu muda, akan tetapi telah menjadi ketua sebuah perkumpulan pejuang Yang terkenal gagah perkasa. Dan melihat perkampungan Thian-li-pang itu, Kim Giok menaksir bahwa anggauta perkumpulan itu tidak kurang dari seratus orang banyaknya.
Akan tetapi, hati gadis itu merasa penasaran ketika pada keesokan harinya ia melihat lima orang tamu yang datang menghadap ketua Thian-li-pang.

Dua orang di antara tamu-tamu itu adalah dua orang tosu (pendeta) berambut panjang yang pada baju di dadanya terdapat lukisan teratal putih. Orang-orang Peklian-kauw (Agama Teratai Putih)! Dan tiga orang pendeta lainnya mengenakan gambar pat-kwa (segi delapan) pada dadanya. Ia pernah mendengar akan nama perkumpulan pemberontak yang namanya tidak bersih di dunia kang-ouw karena para anggautanya tidak pantang melakukan segala macam kejahatan!

Setelah lima orang tamu itu meninggalkan perkampungan Thian-li-pang barulah Kim Giok memberanikan diri menemui ketua Thian-li-pang untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya. Ia melihat pemuda itu sedang duduk di ruangan rapat yang luas, sedang memberi perintah kepada belasan orang pembantunya. Melihat ini, Kim Giok yang sudah tiba di ambang pintu, mundur kembali. Akan tetapi Seng Bu telah melihatnya dan ketua ini berseru dengan ramah.

“Nona Cu, masuk sajalah. Di antara kita orang sendiri tidak ada rahasia. Masuk dan silakan duduk.”

Setelah gadis itu memasuki ruangan dan mengambil tempat duduk di sudut, agak jauh dari mereka yang sedang melakukan perundingan, Seng Bu melanjutkan,

“Harap tunggu sebentar Nona, pembicaraan kami sudah hampir selesai.”






Kim Giok mengangguk dan pura-pura tidak melihat ke arah mereka, akan tetapi Seng Bu tidak melirihkan suaranya ketika melanjutkan pengarahannya kepada para pembantunya.

“Kalian sudah tahu akan tugas-tugas kalian? Terserah kalian membagi tugas, kalian harus ingat apa yang terpenting dalam tugas kalian. Yang pertama menghubungi semua kelompok pejuang, membujuk mereka agar suka bekerja sama dengan mengemukakan alasan seperti yang kujelaskan tadi. Kalau ada yang tidak bersedia bekerja sama, selidiki keadaan mereka, siapa para pemimpinnya dan sampai di mana tingkat kepandaian mereka agar aku dapat mengambil tindakan. Dan ke dua, selidiki kelemahan-kelemahan yang ada pada keluarga kaisar, terutama orang-orang yang dekat hubungannya dengan kaisar. Sudah mengerti semua?”

Belasan orang itu menyatakan mengerti dan Seng Bu lalu mempersilakan mereka keluar. Sikap pemuda itu demikian tegas dan berwibawa sehingga Kim Giok yang ikut mendengarkan merasa kagum sekali. Setelah belasan orang pembantunya keluar, Seng Bu menghampiri Kim Giok dan duduk berhadapan dengan gadis itu. Sikapnya seperti biasa amat sopan dan ramah, menghormati gadis yang dianggap sebagai seorang tamu agung di Thian-li-pang.

“Nona Cu, selamat pagi. Maafkan, bahwa aku meninggalkanmu seorang diri karena kesibukanku menerima tamu malam tadi dan memberi tugas kepada para pembantuku. Apakah semalam Nona enak tidur, dan apakah pelayanan kepada Nona tidak ada yang mengecewakan?”

“Terima kasih, Pangcu (Ketua). Pelayanan cukup memuaskan dan aku merasa terlalu disanjung di sini. Pangcu, aku sengaja datang mencarimu karena aku melihat sesuatu yang membuat hatiku merasa penasaran sekali dan aku mengharapkan jawabanmu yang sejujurnya.”

Seng Bu menatap wajah gadis itu. Sejak pertama kali berjumpa, dia telah terpesona. Dia bukanlah seorang pria yang mudah terpikat kecantikan wanita. Akan tetapi, belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis muda seperti Kim Giok. Gadis ini manis sekali dan terutama yang membuat dia terpesona adalah sepasang matanya. Mata itu demikian indahnya. Selain ini, ilmu silat gadis itu pun cukup tinggi, dan sikapnya demikian pendiam dan gagah. Semua ini ditambah lagi kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri pendekar dari Lembah Naga Siluman! Kiranya sukar dicari keduanya gadis seperti ini.

Selama ini, Seng Bu sibuk menggembleng diri dengan ilmu yang ditemukan di dalam sumur maut, maka dia pun tidak sempat memikirkan hal lain. Apalagi, dia memang bukan tergolong pemuda yang suka bergaul dengan gadis-gadis cantik. Dan baru sekarang dia merasa kagum dan tertarik kepada seorang gadis.

“Nona Cu, aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu. Kalau ada hal yang membuat engkau merasa penasaran, tanyakanlah dan aku akan menjawab sejujurnya.”

Kim Giok juga menatap tajam sehingga dua pasang mata bertaut, seperti saling menyelidik, kemudian Kim Giok berkata,

“Pangcu, bukan aku sebagai tamu ingin mencampuri urusan tuan rumah. Akan tetapi, aku suka menjadi tamu Thian-li-pang karena aku merasa yakin bahwa perkumpulanmu ini adalah perkumpulan orang-orang gagah yang merupakan pejuang-pejuang sejati seperti yang pernah kudengar dibicarakan orang di dunia kang-ouw. Aku percaya itu, apalagi setelah aku mengenalmu. Akan tetapi apa yang kulihat hari ini membuat aku merasa penasaran bukan main. Aku melihat para pendeta Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai menjadi tamu Thianli-pang! Bagaimana ini? Aku sudah mendengar bahwa kedua perkumpulan itu adalah perkumpulan jahat yang banyak ditentang oleh para pendekar!”

Seng Bu tersenyum, dengan berani menentang pandang mata gadis itu tanpa merasa canggung.

“Ah, kiranya itu yang membuatmu penasaran, Nona. Hal ini membutuhkan penjelasan yang panjang lebar, Nona. Akan tetapi, apakah Nona tertarik oleh urusan perjuangan? Lika-liku perjuangan amat rumit, Nona. Dipandang sepintas lalu dari segi kependekaranmu, memang rasanya janggal kalau melihat kami berhubungan dengan orang-orang dari golongan yang ditentang para pendekar. Akan tetapi, dalam perjuangan, kepentingan pribadi dan golongan terpaksa harus dikesampingkan. Yang terpenting adalah urusan perjuangan, urusan usaha untuk membebaskan bangsa dan negara dari cengkeraman penjajah Mancu.”

“Maksudmu bagaimana, Pangcu?”

“Tentu engkau telah mengetahui hampir satu setengah abad negara kita dijajah bangsa Mancu, dan selama satu setengah abad itu semua usaha perjuangan rakyat untuk merebut kembali tanah air selalu gagal. Mengapa begitu? Karena tidak ada persatuan di antara para kelompok yang berjuang! Bahkan banyak kelompok perjuangan yang saling gempur sendiri, bersaing dan memperebutkan kebenaran demi kepentingan pribadi atau golongan. Itulah sebab utama kegagalan perjuangan selama ini, dan kami dari Thian-li-pang melihat kekeliruan itu, maka kini kami berusaha untuk mengubahnya.

“Caranya?”

“Mempersatukan semua golongan, tanpa membedakan mana golongan putih mana golongan hitam, mana golongan pendekar atau mana yang dinamakan kaum sesat. Pendeknya, siapa saja, dari golongan manapun, apapun pekerjaannya, bagaimana bentuk sepak terjangnya, asalkan dia itu menentang pemerintah penjajah Mancu, dia adalah sekutu kita! Dengan cara ini, maka di seluruh negeri akan terdapat persatuan yang kokoh dan kalau sudah tercapai persatuan itu, maka menggulingkan pemerintah penjajah bukan merupakan masalah yang sukar lagi.”

“Jadi pendirian itukah yang membuat Pangcu tidak memandang bulu dalam memilih sahabat, dan suka menerima Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai sebagai sahabat pula?”

“Benar Nona. Kalau misalnya Thian-li-pang, Pek-lian-kauw, dan Pat-kwa-pai, yang ketiganya merupakan perkumpulan pejuang, bersatu padu dan bersama-sama menentang penjajah, bukankah itu akan jauh lebih kuat daripada kalau kami berjuang sendiri-sendiri secara terpisah? Apalagi kalau seluruh kekuatan yang ada, baik dari golongan hitam maupun putih, dapat bersatu padu!”

“Tidak dapat disangkal kebenaran pendapat itu, Pangcu. Akan, tetapi kita kaum pendekar bagaimana mungkin bekerja sama dengan kaum sesat? Justeru tugas utama kita adalah untuk menentang segala perbuatan jahat dari kaum sesat, membela yang lemah tertindas dan menentang yang kuat tapi jahat!”

Ketua yang masih muda itu tersenyum ramah. Dia bicara penuh semangat, akan tetapi tidak terbawa perasaan, masih tetap tenang dan tersenyum sehingga membuat gadis itu pun tidak terbawa dan terseret dalam perbantahan yang memperebutkan kebenaran sendiri.

“Sudah kukatakan tadi bahwa dalam perjuangan, kepentingan pribadi dan kepentingan golongan harus disingkirkan lebih dahulu. Tanpa sikap seperti itu, bagaimana mungkin ada persatuan dan tanpa persatuan bagaimana mungkin ada kekuatan? Buktinya, semua usaha perjuangan yang lalu selama ini, baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam, gagal semua. Karena terpecah-pecah! Kalau kita menuruti kepentingan pribadi dan golongan, misalnya kalau kita tidak mau bersatu dengan golongan sesat dan memusuhi mereka, maka kita akan terpecah belah dan akibatnya melemahkan diri sendiri. Dengan demikian, yang untung adalah pemerintah penjajah! Mengertikah engkau, Nona?”

Cu Kim Giok bukan seorang gadis yang bodoh. Ia termenung dan menelan ucapan ketua itu dalam hatinya, dan mulailah ia mengerti akan apa yang dimaksudkan Seng Bu.

“Aku mengerti, Pangcu. Akan tetapi karena sejak kecil orang tuaku menanamkan jiwa kependekaran dalam hatiku, rasanya amat berat bagiku menerima kenyataan dari kebenaran pendapatmu tadi. Kalau kita para pendekar tidak menentang golongan sesat, bukankah kehidupan rakyat akan menjadi semakin parah dan sengsara, tertindas kejahatan tanpa ada yang membela dan melindungi?”

“Tentu saja kita tidak kalau terjadi kejahatan di depan mata kita, Nona. Kita wajib melindungi yang menjadi korban kejahatan. Akan tetapi, urusan itu merupakan urusan yang tidak diutamakan kepentingannya, lebih penting urusan perjuangan sehingga kalau pun kita menentang kejahatan, harus dicegah agar jangan sampai menimbulkan keretakan persatuan antara golongan. Ketahuilah, Nona, bahwa peristiwa kejahatan hanya merupakan akibat dari tidak sehatnya pemerintah. Seperti sebuah penyakit, kejahatan, ketidak-amanan, ketidak-makmuran dan bahkan kesengsaraan rakyat hanya merupakan bintik-bintik kecil akibat penyakit itu.

Memberantas dan mengobati bintik-bintiknya saja tidak akan banyak manfaatnya karena bintik-bintik itu akan muncul lagi setelah diobati selama penyakitnya masih ada. Kita harus lebih mementingkan pengobatan penyakitnya, sumber penyakit itu sendiri. Dalam hal ini, sumber penyakitnya terletak pada pemerintahan. Bangsa dan tanah air kita dicengkeram penjajah Mancu, tentu saja pemerintahnya tidak sehat dan memeras rakyat jelata. Kalau penjajahan itu dapat kita bongkar dan kita ganti dengan pemerintah bangsa sendiri, maka penyakit itu sembuh pada sumbernya dan tidak akan timbul bintik-bintik berbahaya. Segala bentuk kejahatan akan dapat kita tumpas. Penindasan yang dilakukan para penjahat itu tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan penindasan dan penghisapan yang dilakukan penjajah terhadap kita.”

Kim Giok tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia kagum sekali dan kini ia dapat mengerti sepenuhnya,

“Sekarang aku mengerti, Pangcu dan aku tidak penasaran lagi melihat Thian-li-pang bersahabat dengan golongan sesat, kalau maksudnya untuk mempersatukan tenaga melawan penjajah.”

Sejak percakapan itu, Kim Giok semakin kagum dan tartarik kepada ketua Thian-li-pang itu, dan sebaliknya Seng Bu juga telah jatuh hati kepada puteri Lembah Naga Siluman.
Ketika Seng Bu minta agar gadis itu tinggal di Thian-li-pang sebagai tamu kehormatan selama beberapa hari, Kim Giok tidak menolak.

Demikianlah, ketika pada pagi hari itu Yo Han mendaki Bukit Naga, Cu Kim Giok telah tinggal selama lima hari di perkampungan Thian-li-pang. Hubungannya dengan Seng Bu semakin akrab namun ketua itu masih tetap bersikap sopan dan tidak pernah menyatakan perasaan hatinya.

Kim Giok sudah mendengar banyak dari Seng Bu tentang Thian-li-pang, dan ia mendengar pula kisah yang aneh, peristiwa mengerikan yang terjadi beberapa bulan yang lalu, yaitu tentang pembunuhan terhadap ketua Thian-li-pang yang dilakukan oleh seorang yang tadinya dianggap sebagai pemimpin Thian-li-pang, yaitu Sin-ciang Tai-hiap Yo Han.

Ia sudah mendengar nama itu, maka menyatakan keheranannya kepada Seng Bu mengapa Yo Han yang dianggap sebagai pemimpin besar malah membunuh ketua Thian-li-pang. Dengan cerdik Seng Bu menceritakan bahwa pembunuhan itu dilakukan Yo Han untuk membalas dendam atas kematian gurunya yang bernama Ciu Lam Hok. Demikian pandainya Seng Bu bercerita sehingga Kim Giok percaya dan gadis ini pun merasa tidak senang kepada pendekar yang di juluki Si Tangan Sakti itu.

Kita kembali kepada Yo Han yang sedang mendaki Bukit Naga dengan santai. Kembali ke tempat ini, di mana selama bertahun-tahun dia hidup dalam sumur maut bersama gurunya, mendiang kakek Ciu Lam Hok yang buntung kaki tangannya, mendatangkan segala macam kenangan lama padanya. Bahkan kenangan itu berkembang sampai akhirnya dia terkenang kepada Tan Sian Li, satu-satunya wanita yang pernah dicintanya sejak dia masih seorang pemuda remaja.

Akan tetapi, percakapannya dengan Cia Sun, setidaknya menimbulkan lagi harapan baru dalam hatinya. Ketika dia meninggalkan Sian Li, di rumah orang tua gadis itu yang menjadi suhu dan subonya pertama kali, harapannya sudah hancur luluh. Dia mendengar betapa suhu dan subonya hendak menjodohkan Sian Li dengan seorang pangeran di kota raja! Tentu saja seorang pangeran jauh lebih pantas menjadi suami seorang gadis seperti Si Bangau Merah itu daripada dia!

Dia yatim piatu miskin dan papa, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap! Akan tetapi, kebetulan dia bertemu dengan Pangeran Cia Sun, bersahabat bahkan pernah senasib sependeritaan yang mendorong mereka mengangkat saudara. Dan dari adik angkatnya yang pangeran ini dia mendengar bahwa adik angkatnya itulah pangeran yang hendak dijodohkan dengan Sian Li!

Akan tetapi, di samping berita mengejutkan itu, terdapat kenyataan yang membuat dia tumbuh lagi semangatnya, timbul pula harapannya, yaitu bahwa Pangeran Cia Sun dan Tan Sian Li tidak saling mencinta. Pangeran itu bahkan mencinta gadis lain, yaitu puteri ketua Pao-beng-pai!

Dalam perjalanannya menuju ke Thianli-pang, diapun sudah mendengar akan pembasmian Pao-beng-pai yang dilakukan pasukan pemerintah. Dia mengira bahwa tentu adik angkatnya, Pangeran Cia Sun yang melakukan penyerbuan itu, walaupun ada kesangsian di hatinya apakah sang pangeran mau melakukan hal itu mengingat akan cintanya terhadap Siangkoan Eng.

Tiba-tiba Yo Han menghentikan langkahnya dan dia mengerutkan alisnya. Dia mendengar suara orang bercakap-cakap sambil tertawa-tawa dan suara itu makin mendekat, tanda bahwa mereka yang bercakap-cakap itu sedang berjalan menuruni lereng.

Yo Han menyelinap ke balik pohon besar. Sudah lama dia meninggalkan Thian-li-pang dan dia tidak tahu bagaimana keadaannya. Walaupun dia percaya sepenuhnya kepada Lauw Kang Hui yang diserahi pimpinan perkumpulan itu, namun sebaiknya kalau dia menyelidiki keadaannya karena bagaimanapun juga, kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak benar di Thian-li-pang, dialah yang bertanggung jawab. Gurunya berpesan agar dia menyelamatkan Thian-li-pang dari penyelewengan, maka biarpun dia tidak memimpin langsung, dia harus selalu mengawasi.

Mereka yang tertawa-tawa tadi sekarang telah datang dekat dan dari balik batang pohon, Yo Han mengintai. Alisnya terangkat dan kemudian berkerut tidak senang ketika dia melihat dua orang anggauta Thian-li-pang berjalan sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa dengan dua orang pendeta muda yang dari tanda gambar di dadanya diketahuinya sebagai dua orang anggauta Pat-kwa-pai!

Dia merasa heran bukan main. Bagaimana mungkin anggauta Thian-li-pang bergaul demikian akrabnya dengan anggaut Pat-kwa-pai yang terkenal sebagai golongan sesat yang menggunakan kedok perjuangan, atau dapat juga dikatakan pemberontak-pemberontak yang tidak segan menggunakan kejahatan dan kekejaman dalam pemberontakan mereka?

Yo Han menahan diri, ingin tahu lebih banyak, maka dari jauh dia membayangi empat orang itu. Dia tidak mengenal para anggauta Thian-li-pang. Yang dikenalnya hanyalah Lauw Kang Hui dan pimpinannya, bahkan dia tidak tahu nama para pimpinan mudanya satu demi satu.

Akan tetapi melihat sikap mereka, siapa lagi mereka itu kalau bukan anggauta Thian-li-pang? Dan mereka telah berada di wilayah Thian-li-pang, maka kehadiran dua orang anggauta Pat-kwa-pai sungguh mencurigakan sekali. Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tidak sukar bagi Yo Han untuk membayangi mereka, kadang malah demikian dekat sehingga dia dapat mendengarkan sebagian dari percakapan mereka. Setelah mendengar percakapan itu dia pun yakin bahwa dua orang itu adalah anggauta Thian-li-pang.

“Kenapa kalian khawatir?” terdengar seorang di antara dua anggauta Thian-li-pang itu berkata kepada dua orang tosu itu. “Kalau hanya kami berdua yang menghilang dari tempat penjagaan, tidak akan kentara. Pula siapa sih yang akan berani mendaki Bukit Naga dan mengganggu wilayah Thian-li-pang? Baru mendengar nama Thian-li-pang saja, nyali mereka sudah terbang melayang!” Mereka tertawa-tawa.

“Pula, berapa lamanya untuk sekedar bersenang-senang dengan kalian di dusun bawah sana? Andaikata para pimpinan mengetahui kalau kami pergi bersama kalian, tentu tidak akan dimarahi. Bukankah Thian-li-pang bersahabat baik dengan Pat-kwa-pai?”

Kembali mereka tertawa-tawa dan tidak tahu betapa Yo Han mengepal tinju mendengarkan percakapan itu.

Akhirnya, empat orang itu tiba di dusun yang berada di kaki Bukit Naga. Di dusun itu terdapat sebuah kedai arak dan kesanalah mereka masuk. Yo Han yang memakai caping lebar, duduk pula dengan memilih tempat jauh di sudut dan capingnya tidak dilepas sehingga mukanya tertutup. Ketika pelayan datang menghampiri, dia memesan arak dan semangkuk bubur.

Terdengar ribut-ribut di meja empat orang itu. Agaknya pemilik kedai arak menghampiri mereka dan menuntut agar mereka lebih dahulu mengeluarkan uang untuk membeli makanan dan minuman yang mereka pesan.

“Sudah terlalu sering teman-teman kalian makan minum di sini tanpa membayar! Aku tidak mau dirugikan, harap kalian suka membayar lebih dulu.” kata pemilik kedai itu, seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang kurus agak bongkok.

Seorang anggauta Thian-li-pang yang tinggi bermuka kuning, bangkit dan bertolak pinggang.

“Apa katamu? Tidak tahukah engkau dengan siapa engkau berhadapan? Kami berdua adalah anggauta Thian-li-pang dan dua orang sahabat kami ini adalah anggauta Pat-kwa-pai. Kami adalah pejuang! Kami adalah pahlawan bangsa, pembela rakyat dan tanah air! Masa hanya mengeluarkan sedikit makanan dan minuman saja bagi kami engkau tidak rela? Kami berjuang dengan taruhan nyawa dan engkau tidak mau menjamu makan minum kepada kami?”

Seorang di antara dua orang tosu Pat-kwa-pai menggebrak meja dan dengan sikap bengis berkata,

“Hayo cepat keluarkan hidangan untuk kami atau engkau ingin kedaimu ini kami hancurkan?”

“Kalian sungguh kejam!” Pemilik kedai itu membantah dan mempertahankan miliknya.

“Kalau hanya dua tiga orang saja yang datang minta makan minum kami rela, akan tetapi kalau setiap hari datang dan jumlah kalian sampai puluhan orang selalu minta makan dan minum dengan gratis, kami dapat bangkrut! Kamipun mempunyai keluarga yang harus hidup dari hasil usaha kami yang kecil ini.”

“Jahanam, masih banyak cakap? Engkau memang perlu dihajar!” bentak seorang anggauta Thian-li-pang bermuka kuning tadi dan sekali kaki kanannya terayun menendang, pemilik kedai itu terpelanting keras.

“Penuhi permintaan kami tanpa banyak cakap lagi atau engkau akan kuhajar sampai mampus!” bentaknya.

“Ayah....!”

Dari dalam berlari keluar seorang gadis berusia tujuh belas tahun dan ia segera menubruk ayahnya yang sudah bangkit duduk sambil menyeringai kesakitan.

Melihat gadis itu yang cukup manis, seorang di antara dua orang anggauta Pat-kwa-pai tersenyum menyeringai dan segera menangkap lengan gadis itu dan menariknya lalu memaksanya duduk di sebuah bangku dekat meja mereka.

“Haha-ha, tukang warung. Cepat keluarkan hidangan itu atau kami akan membawa pergi gadismu. Nona, kau temani kami makan minum di dini dan cepat suruh pelayan mengeluarkan hidangan dan arak terbaik.” katanya.

Gadis itu tidak berani meronta, bahkan membujuk ayahnya yang sudah bangkit berdiri.
“Ayah, turuti saja permintaan mereka.”

Empat orang itu tertawa bergelak melihat pemilik kedai dengan terhuyung memasuki dapur untuk menyediakan hidangan bagi empat orang itu.

“Manis, engkau lebih bijaksana daripada ayahmu. Untung engkau muncul, kalau tidak tentu ayahmu telah menjadi mayat.” kata si muka kuning sambil mencolek dagu gadis itu.

Gadis itu membuang muka dan berkata,
“Kami telah memenuhi permintaan kalian, menyuguhkan hidangan, harap jangan ganggu aku lagi.” Gadis itu bangkit berdiri.

“Duduk saja, engkau tidak boleh pergi.” kata seorang tosu Pat-kwa-pai.

“Aku akan membantu ayah mempersiapkan hidangan untuk kalian.” bantah gadis itu.