Ads

Kamis, 03 Maret 2016

Kisah si Bangau Putih Jilid 076 (TAMAT)

“Enci Hong Li, bagaimana Enci sampai tertangkap oleh para penjahat itu? Enci hendak ke mana dan datang dari manakah?”

Tanya Yo Han ketika mereka menanti Sin Hong yang pergi berburu binatang hutan untuk mereka makan karena mereka sudah merasa lapar sekali. Mereka duduk di bawah pohon dan bercakap-cakap.

“Nanti dulu, Yo Han. Kau ceritakan dulu bagaimana engkau dan gurumu dapat datang tepat pada waktunya dan dapat menyelamatkan aku dan gadis dusun itu. Kalian dari manakah dan bagaimana bisa sampai di sarang penjahat itu?”

Hong Li balas bertanya karena ia pun ingin sekali mendengar tentang keadaan Sin Hong. Sejak pertemuan mereka di sarang penjahat, mengantarkan gadis dusun pulang ke rumahnya dan melakukan perjalanan bersama sampai di hutan itu di mana mereka merasa lapar dan Sin Hong pergi berburu binatang, mereka berdua tidak pernah saling menyinggung keadaan masing-masing semenjak pertemuan mereka yang terakhir kalinya, yaitu ketika Sin Hong bersama isterinya menjadi tamu dalam pesta pernikahan Hong Li dan Thio Hui Kong.

Tentu saja di dalam hati mereka timbul pertanyaan besar dan keinginan tahu yang mendalam mengapa mereka yang sudah beristeri dan bersuami, kini melakukan perjalanan bersama, tanpa isteri dan tanpa suami mereka. Akan tetapi, untuk bertanya, mereka merasa canggung dan malu, juga untuk menceritakan perceraian mereka, keduanya merasa sangat sungkan.

Kini Yo Han berdua saja dengan Hong Li dan inilah kesempatan baik baginya untuk mencari tahu tentang keadaan Sin Hong. Sebaliknya, Sin Hong sengaja meninggalkan Yo Han berdua saja dengan Hong Li, tentu saja mengharapkan murid itu dapat menjadi “wakil” untuk bicara dengan Hong Li, dan hal ini dimengerti sepenuhnya oleh Yo Han, anak yang cerdik itu.

“Enci Hong Li, suhu dan aku sedang merantau. Sudah hampir setahun kami merantau berdua.”

“Ehhh? Bukankah kalian tinggal bersama keluarga isteri gurumu, di perguruan Ngo-heng Bu-koan di kota Lu-jiang?”

Yo Han menarik napas panjang, sengaja mengulur waktu dalam jawabannya untuk menambah kesan.

“Aihhh, agaknya Enci Hong Li belum tahu, ya? Suhu sudah lama sekali bercerai dari isterinya.”

“Hehhh....? Bercerai....?” Seruan Hong Li seperti sorakan, dan ia nampak terkejut sekali, akan tetapi tidak berduka. “Mengapa?”

Otak di kepala yang belum dewasa itu bekerja dan Yo Han melihat kesempatan baik untuk “mendekatkan” dua orang yang dia tahu saling mencinta itu. Beberapa kali dia mendengar suhunya mengigau memanggil-manggil nama Hong Li dalam tidurnya!

“Enci Hong Li, apa yang kuceritakan ini rahasia, dan jangan sekali-kali diberitahukan suhu. Tentu aku akan mendapat marah besar kalau sampai aku membocorkan rahasia suhu.”

“Baik, aku berjanji akan menyimpan rahasia itu. Ceritakanlah!”

“Begini, Enci Hong Li. Suhu sebetulnya terpaksa ketika menikah dengan Bhe Siang Cun itu. Suhu menyelamatkannya ketika ia akan diperkosa orang, dan suhu bahkan mengobatinya dari racun. Karena suhu pernah melihat ia telanjang, gadis itu mengancam akan membunuh diri kalau tidak dijodohkan dengan suhu karena ia merasa telah mendapat aib dan malu. Nah, terpaksa suhu menikah dengan wanita yang sama sekali tidak pernah dicintanya.”

“Hemmm, jadi itukah sebabnya mengapa semalam dia tidak berani masuk menolong aku dan gadis dusun itu?”

“Benar, Enci Hong Li. Suhu tidak berani lagi melihat wanita telanjang, takut kalau terjadi lagi kawin paksa itu. Akan tetapi suhu bilang, andaikata Enci Hong Li sendiri saja yang berada di kamar itu, tidak bersama gadis dusun itu, tentu suhu akan langsung masuk!”

“Ehhh?”

“Tentu saja! Apa Enci tidak tahu ataukah pura-pura tidak tahu? Sejak dahulu, suhu hanya mencinta Enci seorang. Tidak ada wanita lain di dunia ini yang dicinta suhu kecuali Enci Hong Li!”

Sepasang mata itu terbelalak dan menatap wajah Yo Han dengan basah.
“Kau.... kau yakin benar akan hal itu?”

“Tentu saja, Enci. Suhu sendiri yang memberitahu kepadaku.”

“Kalau begitu, kenapa dulu dia tidak melamarku?”

“Suhu ingin sekali, akan tetapi tidak berani, Enci. Suhu tidak mempunyai keluarga, tidak mempunyai guru lagi dan tidak ada walinya. Apalagi Enci adalah puteri suhengnya, dan suhu seorang yang miskin dan sebatangkara, suhu tidak berani.”

“Hemmm, sudahlah, teruskan ceritamu. Kenapa dia bercerai dengan isterinya?”

“Sudah kukatakan tadi, suhu tidak cinta kepada isterinya, juga isterinya tidak cinta kepada suhu. Isterinya hanya ingin dinikah untuk menebus rasa aib dan malu. Akhirnya, isterinya itu bertemu dengan bekas kekasihnya dan mereka berhubungan kembali. Suhu melihat ini, lalu mengalah, memberikan isterinya kepada orang yang dicinta isterinya, dan bercerai dan kami pun pergi merantau.”

Hong Li termenung, pikirannya melayang jauh sekali.

“Enci....”

Hong Li terkejut dan kembali sadar dari lamunannya.
“Sekarang ceritakan bagaimana dapat datang ke sarang penjahat itu.”

“Kami lewat dusun tempat tinggal gadis yang diculik. Suhu mendengar bahwa ada gadis diculik penjahat, maka suhu lalu melakukan penyelidikan dan akhirnya dapat menemukan sarang penjahat itu, sama sekali tidak pernah mimpi akan bertemu dengan Enci di sana. Nah, demikianlah ceritanya, Enci Hong Li. Sekarang, harap Enci suka menceritakan tentang diri Enci. Bagaimana Enci dapat berada di sarang penjahat itu, bahkan menjadi tawanan? Rasanya amat mustahil Enci sampai dapat tertawan oleh mereka, mengingat ilmu kepandaian Enci yang sangat tinggi!”

Hong Li menarik napas panjang.
“Aku tertipu, Yo Han.”

Lalu ia menceritakan betapa ia hendak menyelidiki penjahat yang merampas lima ekor kerbau milik petani dusun, dan betapa ia tertipu oleh Liok Cin dan isterinya, anak buah penjahat sehingga ia terperangkap dan pingsan oleh asap pembius.

“Untung suhumu datang tepat pada waktunya, Yo Han. Aku berterima kasih sekali padanya.”


“Tapi, Enci Hong Li. Bagaimana Enci melakukan perjalanan sendirian saja, tanpa.... ah, maaf, tanpa suami Enci Hong Li?”

Hong Li menundukkan mukanya yang berubah merah. Memang tidak sepantasnya kalau ia menceritakan perceraiannya kepada seorang bocah, akan tetapi bocah ini adalah murid Sin Hong dan tentu dia akan menyampaikannya kepada Sin Hong!

“Aku…. aku telah bercerai!”

“Wahhhhh....!” Yo Han meloncat dan bersorak.

“Ihhh! Apa kau gila? Kenapa malah bersorak?”

Yo Han duduk kembali di atas rumput.
“Maaf, Enci. Aku bersorak karena heran. Kenapa sama benar dengan keadaan suhu? Maaf, dapatkah Enci menceritakan keadaan Enci, mengapa bercerai? Suhu tentu akan senang sekali mendengarnya.”

Kembali wajah Hong Li menjadi merah, akan tetapi ia menekan perasaannya. Bagaimanapun juga, Yo Han ini masih kecil dan belum mengerti “urusan”.

“Seperti juga suhumu, aku menikah tanpa rasa cinta. Setelah mendengar bahwa gurumu menikah, aku lalu dinikahkan dengan putera Jaksa Thio di Pao-teng. Akan tetapi, pernikahan itu gagal. Kami tidak saling cocok, dan akhirnya bercekcok terus dan aku minta cerai. Lalu aku melakukan perjalanan merantau untuk menghibur diri, sampai aku terperangkap oleh penjahat itu.”

Yo Han mengangguk-angguk.
“Sungguh mati, sama benar nasib Enci dan nasib suhu. Agaknya suhu juga merasakan hal ini dalam batinnya, maka dia pernah mengatakan kepadaku bahwa suhu tidak akan menikah lagi kecuali dengan satu-satunya wanita yang dicintanya di dunia ini, yaitu Enci Hong Li. Dan suhu bilang bahwa....”

Yo Han diam dan menoleh ke sana-sini seolah-olah yang akan diucapkan itu rahasia besar dan dia takut terdengar orang lain.

“Dia bilang apa? Katakanlah, Yo Han!” Hong Li tentu saja ingin tahu sekali dan mendesaknya.






“Suhu bilang bahwa suhu akan mencukur rambut kepalanya dan masuk menjadi hwesio kalau dalam tahun ini dia tidak dapat bertemu dan menjadi suami Enci Hong Li.”

“Ahhh....!” Hong Li tak dapat menahan perasaannya dan ia pun terisak menangis!

“Enci....! Kenapa.... kau menangis?”

Hong Li menghapus air matanya.
“Yo Han, katakan kepada suhumu....jangan.... jangan dia menjadi hwesio.”

Yo Han mengangguk dan pada saat itu, Sin Hong muncul membawa seekor kijang yang sudah mati, dirobohkannya kijang itu dengan sambitan batu yang mengenai kepalanya.

Hong Li sudah dapat menguasai dirinya lagi dan kini Hong Li dan Yo Han sibuk menguliti dan menyayat daging kijang.

“Aku akan mengumpulkan kayu bakar!” kata Sin Hong yang melangkah pergi.

“Mari kubantu, Suhu!” kata Yo Han sambil melompat dan lari mengejar, meninggalkan Hong Li seorang diri melanjutkan pekerjaannya.

“Suhu, tadi teecu bicara dengan enci Hong Li.” kata Yo Han sambil memunguti ranting-ranting kayu kering.

“Hemmm....?”

Sin Hong pura-pura tidak memperhatikan. Bagaimanapun juga, dia merasa malu untuk memperlihatkan perhatiannya terhadap Hong Li kepada muridnya yang cerdik itu.

“Tahukah Suhu bahwa enci Hong Li telah bercerai dari suaminya?”

“Brakkk....!”

Sebongkok kayu yang sudah dikumpulkan di tangannya, kini terlepas dan kayu kering itu jatuh ke depan kakinya.

“Ehhh? Benarkah.?”

Sin Hong cepat mengambil lagi kayu itu untuk menutupi kekagetan dan kegembiraannya mendengar berita itu. Yo Han tersenyum sendiri.

“Benar, Suhu. Enci Hong Li menikah karena desakan orang tua dan karena enci Hong Li mendengar Suhu sudah menikah dengan gadis lain. Akan tetapi karena pernikahan itu tanpa cinta, mereka hidup menderita, selalu cekcok dan akhirnya enci Hong Li minta cerai dari suaminya. Dan ia lalu pergi merantau untuk menghibur dirinya dan sampai bertemu dengan Suhu di sarang penjahat itu.”

Yo Han menceritakan dan mengulang kembali apa yang didengarnya dan pura-pura tidak memperhatikan, namun Sin Hong membuka kedua telinganya lebar-lebar dan menangkap semua cerita muridnya, tidak ada sebuah kata pun terlewat.

“Apakah.... apakah ia tidak bilang bahwa ia akan menikah lagi?”

“Ia memang mengatakan isi hatinya itu, Suhu, akan tetapi itu rahasia! Teecu mana berani membuka rahasia hatinya kepada orang lain? Bukankah Suhu mengajarkan agar orang dapat menyimpan rahasia orang lain?”

“Hushhh! Aku bukan orang lain! Aku gurumu mengerti? Hayo katakan, aku perintahkan engkau untuk mengatakan, apa yang diucakan oleh Hong Li kepadamu!”

Yo Han tersenyum dan berdiri tegak.
“Siap, Suhu! Enci Hong Li mengatakan bahwa ia hanya mencinta seorang pria saja di dunia ini, yaitu Suhu sendiri! Dulu ia menanti lamaran Suhu, akan tetapi Suhu malah menikah dengan wanita lain. Sekarang, ia hanya mengharapkan agar dipinang oleh Suhu. Ia hanya mau menikah dengan Suhu, tidak dengan orang lain dan katanya lagi....” Yo Han berhenti dan memandang ke kanan kiri.

“Ya? Lalu bagaimana? Katakanlah, tidak ada orang lain yang mendengarkan di sini!”

“Kata enci Hong Li, kalau Suhu tidak meminangnya untuk menjadi isteri Suhu, kalau Suhu sampai berpisah lagi dengan enci Hong Li tanpa pinangan itu, maka enci Hong Li tidak akan pulang.”

“Tidak pulang? Lalu ke mana?”

“Ia mau langsung saja pergi ke kuil dan mencukur gundul rambut kepalanya!”

“Mencukur kepalanya?”

“Ya, untuk menjadi nikouw (pendeta wanita)!”

“Ahhh....!” Kembali kayu-kayu ranting itu terlepas dan runtuh. “Kau kumpulkan dan bawa kayu ini kesana. Aku mau bicara dengan Hong Li!”

Dan Sin Hong berlari-lari meninggalkan muridnya! Yo Han berdiri dan tertawa-tawa seorang diri dengan penuh kebahagiaan lalu mengumpulkan kayu-kayu kering, tidak tergesa-gesa, bahkan berlambat-lambat!

Sin Hong berlari seperti terbang dan dia mendapatkan Hong Li sudah selesai memotong-motong daging kijang. Melihat dia datang dengan tangan kosong, Hong Li membelalakkan kedua matanya.

“Eh, mana kayu keringnya?” tanyanya sambil tersenyum.

Sin Hong berdiri terpesona. Betapa cantik jelitanya Hong Li, pikirnya, matanya yang lebar indah itu berseri, mulutnya menahan senyum.

“Hong Li.... aku.... aku mau bicara denganmu.” kata Sin Hong gagap sambil melangkah maju menghampiri.

Hong Li bangkit berdiri.
“Tentu saja boleh, Hong-koko. Mau bicara apakah?”

Mereka berdiri berhadapan, dalam jarak dekat, saling pandang dan kembali dua pasang mata bertaut, melekat dan ada getaran aneh yang membuat dada mereka seperti diamuk badai.

“Li-moi, aku.... aku.... meminangmu untuk menjadi isteriku!”

Sepasang mata itu semakin terbelalak. Sungguhpun ucapan itu merupakan harapannya sejak dahulu, namun begitu tiba-tiba datangnya dan ia benar terkejut bukan main. Wajahnya berubah pucat, lalu menjadi merah sekali dan ia tidak tahu harus berkata apa.

“Li-moi, maafkan aku.... akan tetapi, aku.... aku cinta padamu, Li-moi, aku tidak tahan untuk hidup jauh darimu lagi. Aku.... aku ingin menjadi suamimu, selama hidup berada di sampingmu, kau.... kau.... sudikah kau menjadi isteriku, Hong Li.?”

Sepasang mata yang terbelalak lebar itu memandang wajah Sin Hong tanpa berkedip, lalu perlahan-lahan mata itu menjadi basah dan air matanya bercucuran. Hong Li menangis!

“Li-moi, kau.... kau menangis.?”

Sin Hong melangkah maju, akan tetapi tidak berani menyentuh, hatinya bingung sekali melihat wanita itu menangis.

Hong Li mengangkat mukanya dan Sin Hong semakin heran. Muka itu seperti tersenyum bahagia. Akan tetapi air mata itu bercucuran!

“Hong-ko.... be.... benarkah engkau cinta padaku? Benarkah engkau ingin menjadi suamiku? Ahhh, Hong-ko.!”

Mereka saling rangkul dan dengan penuh kemesraan, penuh kasih sayang, penuh kerinduan yang sudah menahun, Sin Hong mengangkat muka itu, muka yang basah air mata dan dia pun menciumi muka itu, mengecup mata, hidung, mulut dengan sepenuh cinta hatinya. Tiada puasnya dia mencium muka Hong Li, bagaikan turunnya hujan setelah langit mendung gelap dan tebal, dan Hong Li menerimanya dengan pasrah, dengan bahagia, kadang-kadang membalas dengan malu-malu, bagaikan setangkai bunga yang menjadi segar tersiram air hujan.

Setelah melepaskan kerinduan hati masing-masing, sampai kedua pasang kaki mereka gemetar. Sin Hong menarik tubuh kekasihnya itu, dipangkunya di atas rumput dan dengan sikap manja Hong Li menyandarkan mukanya di atas dada Sin Hong.

“Hong-koko.... “

“Hemmm.... ?”

“Kau.... kau jangan menjadi.... hwesio.!”

“Jadi hwesio?”

“Katanya, kalau aku tidak mau menjadi isterimu, engkau akan menjadi hwesio.?”

“Kata siapa?”

“Yo Han!”

“Hemmm, tidak, Sayang. Engkau sudah menerima pinanganku, bukan? Kalau engkau menolak, bukan hanya menjadi hwesio, bahkan aku menjadi gila. Dan engkau pun jangan masuk kuil mencukur rambutmu yang indah ini dan menjadi nikouw!”

“Eh? Siapa jadi nikouw?”

“Katanya, kalau aku tidak meminangmu, engkau akan mencukur rambutmu dan menjadi nikouw?”

“Siapa bilang?”

“Yo Han!”

Keduanya tertawa dan kembali mulut mereka saling bertemu dalam sebuah ciuman yang menumpahkan seluruh curahan kasih sayang dan kerinduan hati mereka. Baru terasa oleh mereka betapa selama ini mereka kehilangan kebahagiaan mereka, kehilangan orang yang mereka cinta dan rindukan.

Yo Han datang perlahan-lahan. Melihat dia, Hong Li hendak menjauhkan diri dari kekasihnya, akan tetapi Sin Hong memeluknya makin erat, lalu memanggil,

“Yo Han ke sini kau!”

“Ya, Suhu “

Dengan sikap takut-takut Yo Han melangkah maju mendekat dan setelah menurunkan sebongkok besar kayu kering, dia lalu menghampiri gurunya dan menjatuhkan diri berlutut karena gurunya duduk di atas tanah berumput.

“Kau bocah pembohong besar!” Sin Hong membentak. “Apa yang telah kau katakan kepada Hong Li?”

“Mengatakan apa, Suhu?”

“Tentang menjadi hwesio!”

“Dan apa yang kau katakan kepada suhumu tentang menjadi nikouw, Yo Han?” Hong Li juga bertanya.

Yo Han menjadi bingung dan ketakutan. Lalu dia memberi hormat sambil berlutut.
“Teecu.... teecu minta maaf, teecu bersalah.... teecu siap dihukum.”

“Maju ke sini kau!” bentak Sin Hong.

Yo Han merangkak maju dan setelah dekat, Sin Hong lalu merangkulnya. Juga Hong Li merangkulnya, bahkan mencium pipi anak itu. Keduanya tertawa-tawa sehingga Yo Han membelalakkan matanya dan ikut tertawa gembira.

“Kau.... kau anak nakal.... kami berterima kasih kepadamu, Yo Han. Biarlah aku yang mintakan ampun kepada suhumu untuk kesalahanmu.” kata Hong Li.

Yo Han memberi hormat.
“Terima kasih.... terima kasih, Subo!” Disebut subo, Hong Li tertawa lagi dan ketiganya tertawa gembira.

“Aih, perutku lapar sekali!” Sin Hong berkata.

“Aku juga!” kata Hong Li.

“Teecu juga!” sambung Yo Han dan mereka bertiga segera membuat api unggun untuk memanggang daging kijang.

Api unggun bernyala dan berkobar, terang dan indah, seterang dan seindah masa depan mereka.

Sampai di sini, pengarang menghentikan Kisah Si Bangau Putih ini dengan harapan semoga dapat menghibur hati para pembacanya dan mengandung manfaat walau hanya sekelumit. Sampai jumpa di lain kisah!

T A M A T








OBJEK WISATA MANCA NEGARA

 Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
 Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
 Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
 Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
 Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
 Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
 Taj Mahal
Taj Mahal India
 Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
 Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
 Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
 Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
 Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
 Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
 Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
 Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
 Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
 Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
 Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
 Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
 Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================
 Menara Kembar Petronas Malaysia

 Gunung Meja Afrika