Ads

Selasa, 01 Maret 2016

Kisah si Bangau Putih Jilid 068

Memang sikap Phoa Hok Ci amat mengejutkan dan mengherankan para murid Ngo-heng Bu-koan. Ketika Bhe Kauwsu menerima surat tantangan dari ketua Kim-liong-pang, dia tidak berada di perguruan sehingga dia tidak ikut dengan rombongan Bhe Gun Ek yang pergi menyambut tantangan musuh besar itu bersama belasan orang murid kepala. Dan Bhe Kauwsu melarang puterinya untuk ikut, karena guru silat ini maklum bahwa kalau puterinya ikut, tentu puterinya itu tidak akan mau tinggal diam saja kalau dia mulai mengadu kepandaian melawan Ciok Pangcu.

“Engkau tinggallah di rumah dan menjaga keamanan di sini,” demikian katanya kepada Siang Cun. “Kalau kita pergi semua dan terjadi sesuatu di sini, siapa yang akan mewakili aku?”

Demikianlah, Siang Cun tinggal di perguruan ketika ayahnya dan para suhengnya berangkat. Tak lama kemudian, muncul Phoa Hok Ci. Ketika dia mendengar dari para murid bahwa suhunya menerima surat tantangan dari ketua Kim-liong-pang dan bahwa suhunya pergi menyambut tantangan itu bersama semua murid kepala, Phoa Hok Ci segera mendatangi Siang Cun.

“Sumoi, suhu dan para suheng dan sute pergi menghadapi musuh besar kita, kenapa engkau malah tenang saja tinggal di sini? Kenapa engkau tidak ikut membantu suhu?”

Berkata demikian, sepasang matanya yang ganas dan tajam itu memandang wajah yang cantik manis dari sumoinya.

Siang Cun mengerutkan alisnya dan menjawab sambil cemberut,
“Tadi aku pun ingin sekali ikut dan menghadapi orang-orang Kim-liong-pang, Phoa-suheng, akan tetapi ayah melarangku dan menyuruh aku menjaga keamanan rumah.”

Sepasang mata Phoa Hok Ci semakin terpikat melihat mulut gadis cantik itu cemberut dan kini pandang matanya seperti meraba-raba seluruh tubuh yang sudah selama bertahun-tahun menjadi idaman hatinya, membuatnya tergila-gila itu.

“Hemmm, katakan saja bahwa engkau takut, Sumoi!”

Siang Cun terbelalak dan mukanya berubah merah, alisnya berkerut.
“Phoa Suheng! Bagaimana kau berani mengeluarkan kata-kata itu? Aku tidak berani? Aku takut? Jangan kau menghinaku, Suheng!”

Phoa Hok Ci yang selalu tersenyum sinis itu, kini memperlebar senyumnya sehingga mulutnya menyeringai.

“Hehheh-heh, kalau engkau tidak takut, tentu kau sudah berada di sana! Kalau engkau tidak takut, mari bersama aku menyusul ke sana dan membantu suhu!”

Siang Cun bangkit berdiri dan memandang suhengnya dengan mata berapi.
“Phoa-suheng, kenapa engkau bersikap begini? Mulutmu lancang dan sikapmu mengejek. Apakah engkau sudah gila?”

Memang di samping kemarahannya ia merasa heran bukan main melihat sikap Phoa Hok Ci dan mendengar kata-katanya, karena biasanya suhengnya bersikap sopan dan ramah.

“Ha-ha-ha, mungkin aku sudah gila oleh kecantikanmu, Sumoi. Marilah, mari kau ikut dengan aku pergi menyusul suhu!”

“Tidak! Kalau aku akan menyusul, aku pergi sendiri, bukan karena kau suruh. Sudah, pergilah sebelum aku habis kesabaranku!”

“Sumoi, mau tidak mau engkau harus ikut denganku sekarang juga!”

Dan tiba-tiba saja Phoa Hok Ci menubruk dan mengirim serangan dahsyat dengan cengkeraman ke arah muka Siang Cun! Gadis ini terkejut bukan main sama sekali tidak pernah mengira bahwa suhengnya ini akan menyerangnya sehebat itu, serangan yang dahsyat dan berbahaya. Suhengnya itu tentu telah mendadak menjadi gila!

Sebetulnya, dalam ilmu silat, selisih antara tingkat mereka tidak banyak, mungkin Siang Cun hanya kalah matang saja. Akan tetapi ia tidak tahu bahwa diam-diam Hok Ci telah mempelajari ilmu silat harimau dari Hoan Sai-kong yang membuat pemuda itu kini jauh lebih lihai darinya!

Ia cepat mengelak sambil membuang diri ke samping untuk menghindarkan mukanya dari cengkeraman itu! Akan tetapi, tetap saja lengannya yang hendak menangkis kena dicengkeram. Siang Cun mengeluarkan seruan kaget dan kesakitan ketika merasa betapa lengannya seperti dicengkeram benda tajam dan pada saat itu, pundaknya sudah ditotok oleh Hok Ci dan seketika ia menjadi lemas! Sambil tertawa, Hok Ci lalu memanggul tubuh gadis itu.

Pada saat itu, belasan orang murid Ngo-heng Bu-koan menyerbu masuk dan mereka terkejut sekali melihat betapa puteri guru mereka dirobohkan Hok Ci dan kini ditotok dan dipanggul. Mereka tadi menyerbu masuk mendengar suara ribut-ribut dan kini mereka mengepung Hok Ci.

“Suheng, apa yang kau lakukan ini? Lepaskan Nona Bhe!” bentak beberapa orang di antara mereka sambil mengepung dan siap untuk mengeroyoknya.

Sepasang mata itu dengan ganas menyapu mereka.
“Kalian mundurlah, atau terpaksa aku akan membunuh kalian!”

Berkata demikian, Hok Ci mencabut pedang dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memanggul tubuh Siang Cun yang tak mampu bergerak itu.

Akan tetapi, para murid Ngo-heng Bu-koan tetap tidak mau pergi dan ingin membela puteri guru mereka. Hok Ci mengeluarkan suara gerengan seperti seekor harimau dan dia pun mengamuk. Pedangnya berkelebatan dan para murid itu cepat melawan dengan menyambar senjata yang ada.

Akan tetapi mereka hanya murid-murid tingkat dua sebentar saja dua orang di antara mereka telah roboh mandi darah dan tewas oleh sambaran pedang Hok Ci. Lalu dengan kecepatan gerakannya, Hok Ci meloncat dan melarikan diri sambil memondong tubuh Siang Cun!

Hok Ci yang mengenal baik kota Lu-jiang, mengambil jalan yang sunyi, bahkan berloncatan ke atas genteng-genteng rumah orang, dan dia berhasil membawa tubuh gadis yang membuatnya tergila-gila itu keluar dari kota Lu-jiang, terus menuju ke kuil tua yang menjadi tempat tinggal Hoan Sai-kong.






Satu-satunya lawan yang ditakutinya hanyalah Tan Sin Hong, akan tetapi pemuda berpakaian putih itu telah terjerumus ke dalam lubang jebakan di ruangan belakang dan tentu sudah mampus. Orang-orang lain, baik dari Ngo-heng Bu-koan maupun Kim-liong-pang, dipandang rendah olehnya. Kini gurunya, Hoan Sai-kong, sudah mati pula bersama Sin Hong di dalam sumur lubang jebakan. Dia memang tidak ingin merampas Kim-liong-pang maupun Ngo-heng Bu-koan. Yang penting baginya hanyalah mendapatkan diri Bhe Siang Cun yang membuatnya tergila-gila dan kini gadis itu telah berada di dalam pondongannya!

Tak seorang pun yang akan dapat mencegahnya memaksa gadis itu menjadi isterinya. Pula, selain Tan Sin Hong, tidak ada seorang pun dari kedua perkumpulan itu yang tahu akan tempat persembunyiannya dalam kuil tua di hutan ini.

“Lepaskan aku....! Ah, lepaskan aku....!”

Siang Cun berseru dengan mata terbelalak penuh kengerian, namun ia tidak mampu menggerakkan tubuhnya yang masih lumpuh tertotok. Pria yang biasanya dikenalnya sebagai seorang suheng yang pendiam dan bersikap baik itu kini tersenyum sinis, lalu membawa masuk gadis itu ke dalam kuil.

Di dalam kuil tua itu terdapat dua buah kamar yang bersih dan terawat karena itu merupakan kamar mendiang Hoan Sai-kong dan kamarnya sendiri, yang dipergunakan di waktu dia berada di situ. Dia memasuki kamarnya sendiri, sebuah kamar yang hanya terisi sebuah pembaringan kayu dan sebuah meja serta dua buah kursi kayu yang sederhana. Dengan sikap lembut dia merebahkan tubuh sumoinya di atas pembaringan.

“Lepaskan aku Phoa-suheng, lepaskan aku. Aku adalah sumoimu, ingatkah? Jangan ganggu aku dan lepaskan aku, Suheng “

Siang Cun kembali berseru dengan suara membujuk dan mata terbelalak penuh kengerian. Ia masih menyangka bahwa suhengnya ini mendadak menjadi gila dan tidak sadar apa yang dilakukannya.

Hok Ci duduk di tepi pembaringan, senyumnya menyeringai menakutkan hati gadis itu, apalagi ketika dia menunduk dan mencium pipi dan bibir Siang Cun yang sama sekali tidak dapat mengelak. Gadis itu hanya memejamkan mata dan bergidik ngeri dicium oleh orang yang disangkanya gila.

“Bhe Siang Cun, aku akan melepaskanmu kalau engkau menyatakan bahwa engkau cinta padaku dan bersedia menjadi isteriku.”

Mata yang ketakutan itu makin terbelalak dan muka yang manis itu berubah merah.
“Suheng, kau.... kau telah gila.”

Hok Ci membelai dagu gadis itu, lalu membelai lehernya sehingga gadis itu merasa betapa bulu tengkuknya meremang.

“Siang Cun, kekasihku, memang aku telah gila, tergila-gila kepadamu. Apakah kau pura-pura tidak tahu betapa sejak dulu aku mencintamu? Ah, apa saja akan kulakukan untuk mendapatkan dirimu, Cun-moi. Selama ini.... ah, betapa segala jerih payah kulakukan, membunuhi mereka semua, seorang demi seorang, agar antara kedua pihak terjadi permusuhan dan ikatan perjodohanmu dengan Ciok Lim terputus. Kutanamkan bibit permusuhan sampai mendalam, kulakukan semua itu demi mendapatkan dirimu, kekasihku. Dan sekarang, engkau telah berada di tanganku, engkau menjadi isteriku. Ya, kita hari ini akan menjadi pengantin, kita bersenang-senang di sini, sebagai suami isteri, Siang Cun.”

Gadis itu tiba-tiba menjadi pucat wajahnya, dan dengan mata terbelalak tanpa berkedip sejak tadi ia memandang wajah suhengnya itu, mendengarkan semua ucapannya.

“Kau.... kau yang melakukan semua pembunuhan itu? Jadi engkau yang mengatur semua itu, membunuh dan melempar fitnah, sengaja hendak mengadu domba?”

Kini Hok Ci tertawa geli.
“Benar, Cun-moi, benar. Semua itu aku yang mengatur dan melakukannya. Cerdik sekali, bukan? Mereka saling serang, saling bunuh, bahkan sekarang antara kedua ketua sudah saling serang, ha-ha-ha, semua itu karena kecerdikanku. Dan engkau akan menjadi isteriku sekarang.?”

Kedua tangan Hok Ci mulai menggerayangi tubuh Siang Cun yang menjadi semakin ketakutan. Karena belum dapat menggerakkan tubuh untuk mengelak atau melawan, ia hanya mengeluarkan kata-kata untuk mengalihkan perhatian orang itu.

“Suheng, jadi engkau yang melakukan semua pembunuhan di kedua pihak itu? Dan bagaimana dengan sumoi Bong Siok Cin yang diperkosa itu? Ia diperkosa dan dibunuh oleh Ciok Lim, bukan?”

“Ha-ha-ha, semua orang tolol itu memang mengira demikian. Akulah yang mengaturnya sehingga Ciok Lim yang disangka, agar permusuhan itu mulai berkobar.”

“Ah, jadi engkau pula yang memperkosa Siok Cin kemudian membunuhnya, menjatuhkan fitnah atas diri Ciok Lim?”

“Ha-ha-ha, benar sekali, manisku. Cerdik sekali, bukan?”

Sekarang tahulah Siang Cun bahwa suhengnya ini tidak gila. Sama sekali tidak gila, melainkan jahat dan keji bukan main! Dan ia kini telah terjatuh ke dalam tangan manusia iblis ini!

“Siang Cun, sekarang kita menjadi pengantin, engkau menjadi isteriku.“

Tangan pria itu mulai merenggut ke arah pakaian Siang Cun. Bukan main takutnya hati Siang Cun. Ia hendak meronta, hendak melawan, namun belum mampu menggerakkan kaki tangannya.

“Jangan.... ah, jangan.... lebih baik kau bunuh saja aku.“

“Bunuh engkau? Ha-ha-ha, kau kira aku sudah gila? Bertahun-tahun aku merindukannya, mencintamu, dan sekarang engkau menjadi milikku. Ah, kau kekasihku.... aku cinta padamu.“

Dan seperti orang gila atau seperti seekor harimau kelaparan melihat seekor domba muda yang lunak dagingnya, Hok Ci menubruk dan menciumi muka gadis itu, menggigiti bibir dan leher itu seperti orang gila.

Siang Cun memejamkan mata dan ia hampir pingsan saking takut, ngeri dan jijiknya. Apalagi ketika tangan Hok Ci merenggut lepas pakaiannya satu demi satu. Ia hanya dapat merintih dan mengeluh minta dibunuh saja.

Dalam keadaan yang amat berbahaya itu, di mana kehormatan Siang Cun sudah terancam noda yang akan menghancurkan hidupnya, nyaris bagaikan sepotong daging sudah berada di depan mulut seekor srigala buas yang siap mengunyah dan menelannya, dan Siang Cun sudah memejamkan mata dengan hati hancur, tiba-tiba pintu kamar itu tertendang roboh dari luar!

“Brakkkkk!” Daun pintu roboh dan muncullah Sin Hong!

“Phoa Hok Ci, manusia iblis jahat!” bentak Sin Hong dengan marah sekali melihat keadaan dalam kamar itu.

Siang Cun rebah terlentang di atas pembaringan dengan pakaian sudah lepas semua dari tubuhnya, dan Hok Ci merangkul dan menciuminya, siap untuk memperkosa gadis itu yang nampak tak berdaya, tidak mampu bergerak karena tertotok jalan darahnya.

Hok Ci terkejut dan marah bukan main. Dia tadi baru saja membuka bajunya, mulai melepaskan kancing baju yang kini menjadi setengah terbuka ketika terjadi gangguan itu.

Ketika dia meloncat bangkit berdiri sambil membalikkan tubuh dan mengenal Sin Hong, matanya terbelalak. Dia merasa heran dan terkejut bukan main. Bukankah Si Bangau Putih ini telah mampus di dasar lubang sumur jebakan? Bagaimana tiba-tiba dapat muncul di sini, pikirnya. Dia cerdik dan maklum akan bahaya yang mengancam dirinya.

Dia sudah mengenal baik betapa lihainya Pendekar Bangau Putih ini, bahkan gurunya sendiri, Hoan Saikong dan dia pernah mengeroyoknya, namun mereka berdua pun terdesak hebat. Apalagi kini dia harus menghadapinya seorang diri saja. Akan tetapi dia tidak melihat jalan lain kecuali melawan dan tanpa membuang waktu lagi, diapun menyambar pedangnya dan menerjangnya dengan serangan ganas dan dahsyat.

Namun, Sin Hong sudah siap siaga dan dengan mudah saja dia mengelak dengan loncatan ke kiri dan dari sudut samping dia menotok ke arah pundak lawan. Totokan itu cepat sekali datangnya. dan nyaris pundak Hok Ci terkena totokan. Akan tetapi Hok Ci dengan cepat memutar tubuh dan pedangnya ikut pula berputar lalu membuat lingkaran dan menyerang pula ke arah leher Sin Hong! Gerakan ini cepat, namun sesungguhnya, Hok Ci terkejut dan jerih karena sekali gebrakan saja pundaknya hampir tertotok yang kalau mengenai sasaran tentu akan membuat dia roboh tak berdaya!

Menghadapi sambaran pedang ke lehernya, Sin Hong merendahkan tubuhnya dan tiba-tiba kakinya mencuat dan ujung sepatunya menendang ke arah lutut Hok Ci! Inipun merupakan serangan yang amat berbahaya karena sedikit saja sambungan lutut tersentuh ujung sepatu, cukup untuk membuat Hok Ci terguling.

Namun, Hok Ci menarik kakinya dan bukan lutut yang tertendang, melainkan pahanya yang tercium ujung sepatu. Dia tidak roboh akan tetapi tetap saja terhuyung dan cepat dia memutar pedangnya yang berubah menjadi gulungan sinar yang melindunginya. Namun, tendangan yang mengenai tepi pahanya sudah cukup membuat Hok Ci jerih.

Sambil memutar pedangnya, tiba-tiba saja tangan kirinya bergerak dan sinar hitam kecil menyambar, bukan ke arah Sin Hong melainkan ke arah tubuh gadis yang rebah telanjang di atas pembaringan!

Otak Hok Ci yang cerdik dan licik sudah menemukan akal bagaimana dia akan dapat melepaskan diri dari tangan Sin Hong yang terlalu lihai baginya itu. Dia menyerang Siang Cun dengan jarum hitam, jarum yang mengandung racun! Dan mudah saja dia mengenai sasaran yang tidak mampu bergerak itu.

Terdengar Siang Cun mengeluarkan rintihan ketika pahanya terkena jarum hitam yang menyambar cepat tanpa ia mampu mengelak. Sin Hong terkejut sekali dan terpaksa dia tidak mengejar ketika Hok Ci melompat keluar dari kamar itu untuk melarikan diri.

Sin Hong tahu bahwa jarum yang melukai Siang Cun adalah jarum beracun dan kalau tidak ditolong gadis itu dapat terancam maut. Tentu saja menolong Siang Cun jauh lebih penting daripada mengejar Hok Ci, apalagi karena Siang Cun terancam bahaya maut.

Dan memang disini membuktikan kelicikan dan kecerdikan Hok Ci yang dapat melepaskan diri dari tangan Sin Hong yang dia tahu bukan lawannya karena pendekar baju putih itu memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi dari kepandaiannya.

Sin Hong melompat ke dekat pembaringan. Siang Cun yang membuka mata melihat betapa Sin Hong mendekatinya, teringat akan keadaannya yang telanjang bulat itu. Segala bagian tubuhnya nampak jelas oleh pemuda itu dan hal ini membuatnya malu bukan main. Mula-mula wajahnya berubah merah sekali, lalu pucat dan merah kembali dan perlahan-lahan kedua matanya menjadi basah air mata.

Akan tetapi Sin Hong tidak peduli akan keadaan gadis itu, tidak melihat ketelanjangannya karena seluruh perhatiannya tertarik kepada bintik hitam di paha kiri gadis itu. Dia memeriksa dengan teliti sekali, tanpa banyak cakap dia meraba paha itu dan memijat bagian yang ada bintik hitamnya.

“Aduhhhhh....!”

Siang Cun menjerit karena bagian yang dipijat itulah yang terasa nyeri terkena jarum tadi. Yakinlah Sin Hong bahwa bintik hitam itulah akibat luka oleh jarum. Apalagi dia melihat betapa di sekeliling bintik itu sudah ada tanda merah kebiruan tanda bahwa racun jarum itu mulai berjalan.

Karena maklum akan bahaya yang mengancam diri Siang Cun, Sin Hong lupa akan sopan santun lagi. Yang penting baginya adalah menyelamatkan nyawa gadis itu, maka tanpa membuang waktu dia lalu menunduk, menempelkan mulutnya pada bintik hitam di paha, dan mengerahkan tenaga lalu menyedot!

Dua kali dia menyedot dan keluarlah jarum itu, digigitnya lalu dicabutnya dari daging paha, dibuangnya ke sudut kamar, lalu dia menempelkan lagi bibirnya pada luka kecil itu dan menghisap sampai ada darah hitam yang keluar. Diulanginya lagi sampai akhirnya darah merah yang keluar dan paha itu bebas dari racun jarum.

Legalah hatinya dan baru Sin Hong sadar akan keadaan pada gadis itu yang telanjang bulat, maka tiba-tiba saja mukanya berubah merah dan dia mundur beberapa langkah sambil menyentuh pundak gadis itu untuk membebaskan totokannya dan cepat membalikkan tubuhnya sambil berkata,

“Harap maafkan aku, Nona.”

Begitu totokannya terbebas, Siang Cun cepat menyambar pakaiannya, mengenakan semua pakaiannya sambil tak dapat menahan air matanya yang bercucuran. Ia menangis tersedu-sedu, karena bermacam perasaan mengaduk hatinya. Rasa haru dan terima kasih bahwa ia yang sudah berada di ambang pintu kehancuran dan kehinaan itu terbebas dari bahaya itu, rasa malu setengah mati karena Sin Hong telah melihatnya dalam keadaan telanjang bulat dengan tubuh telentang, dan lebih malu lagi ketika ia mengingat kembali betapa Sin Hong telah mengecup dan menyedot luka di pahanya, paha kiri bagian atas dekat perut!

Malu yang amat hebat, malu dan hina walaupun ia tahu bahwa Sin Hong melakukan hal itu untuk menyelamatkan nyawanya! Rasa terima kasih, malu, dan penasaran mengaduk hatinya. Rasanya ia tidak ada muka lagi untuk melihat wajah Sin Hong, untuk bertemu dengan manusia lain! Bagaimana kalau mereka itu tahu akan keadaannya tadi?

“Phoa Hok Ci.... jahanam keparat busuk.... kubunuh engkau.... manusia iblis.“

Mulutnya mendesiskan ancaman ini ketika ia mengenakan pakaiannya. Mendengar disebutnya nama Phoa Hok Ci, baru Sin Hong teringat akan orang itu. Tadinya dia masih merasa “nanar” karena teringat akan ketelanjangan Siang Cun, teringat betapa dia tadi mengecup paha itu, betapa janggalnya keadaan itu tadi sehingga dia lupa keadaan yang lain. Kini, teringat kepada Hok Ci yang melarikan diri, dia cepat meloncat keluar.

“Akan kutangkap dia!” katanya dan beberapa kali loncatan saja dia sudah lenyap dari kuil.

Siang Cun membereskan pakaiannya dan rambutnya, lalu dengan hati tidak karuan rasanya ia pun lari keluar untuk mencari musuh besarnya itu.

Sementara itu, sambil berlari cepat meninggalkan kuil, Hok Ci tersenyum lega. Untung dia mempunyai akal yang amat cerdik, melukai Siang Cun dengan jarum beracun sehingga Sin Hong tidak sempat mengejar dan menangkapnya. Dia harus berlari cepat, harus meninggalkan daerah itu jauh-jauh kalau dia ingin selamat. Dia akan meninggalkan kehidupannya sebagai murid Ngo-heng Bu-koan, sebagai murid Hoan Sai-kong yang sudah mati, dia akan memulai hidup baru, di tempat baru dan melupakan Siang Cun yang terpaksa harus dia tinggalkan.

Masih menyesal sekali kalau dia membayangkan betapa daging lunak yang sudah berada di ujung lidah itu terlepas pada saat terakhir! Sambil memaki-maki Si Bangau Putih yang menggagalkan dia memiliki gadis yang sudah lama membuat dia tergila-gila itu.

Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring dan ketika dia memandang, wajahnya seketika menjadi pucat! Dia telah dikepung oleh puluhan orang anggauta Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang yang dipimpin sendiri oleh Bhe Kauwsu dan Ciok Pangcu!

Dia sama sekali tidak takut menghadapi dua orang ketua itu, akan tetapi kalau harus melawan puluhan orang, tentu saja dia merasa gentar sekali! Belum lagi dihitung datangnya bahaya pengejaran dari Si Bangau Putih!

“Phoa Hok Ci, murid murtad, jahanam keparat! Di mana anakku Siang Cun?” bentak Bhe Kauwsu dengan marah dan juga khawatir karena dia tidak melihat puterinya bersama penjahat itu.

Dalam keadaan panik terkepung itu, Hok Ci masih hendak mempergunakan akal liciknya.
“Ia.... ia di kuil tua, diperkosa oleh Si Bangau Putih....! Cepat Suhu ke sana, kalau tidak, akan terlambat.”

Mendengar ucapan ini, Bhe Gun Ek, guru silat Ngo-heng Bu-koan itu tertegun. Akan tetapi Yo Han segera berteriak lantang.

“Harap Bhe Kauwsu jangan percaya omongan manusia iblis ini!. Suhu tidak mungkin melakukan hal yang terkutuk itu! Sebaiknya manusia iblis ini segera ditangkap dulu, baru nanti dicari di mana adanya enci Siang Cun!”

Mendengar ini, sadarlah Bhe Kauwsu dan tanpa dikomando lagi semua orang yang mengepung pemuda itu, termasuk Ciok Pangcu, menggerakkan senjata dan berloncatan turun dari atas kuda mengeroyok Phoa Hok Ci! Puluhan orang mengepung dan mengeroyoknya dan Phoa Hok Ci mencoba untuk memutar pedangnya membela diri.

“Jangan bunuh dia! Tangkap hidup-hidup!”

Berkali-kali Bhe Gun Ek dan Ciok Pangcu berteriak karena kedua orang pemimpin perkumpulan ini ingin mendengar pengakuan Hok Ci tentang semua perbuatannya yang amat keji, membunuh banyak orang di kedua pihak untuk mengadu domba antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang.

Betapapun lihainya Hok Ci, menghadapi pengeroyokan puluhan orang yang semua menaruh dendam kepadanya, akhirnya dia roboh dengan luka-luka di tubuhnya. Pedangnya dirampas dan dengan kedua lengan lumpuh karena patah tulangnya, dia diringkus dan dibelenggu kaki tangannya.

Ciok Kam Heng yang merasa amat sakit hati kehilangan puteranya itu, segera menjambak rambutnya dan membentak,

“Manusia iblis! Sekarang ceritakan apa yang telah kau lakukan selama ini untuk menjatuhkan fitnah kepada Kim-liong-pang!”

Hok Ci maklum bahwa tidak ada harapan lagi baginya untuk hidup. Rasa takut, penasaran dan sesal membuatnya kehilangan keseimbangan batinnya dan tiba-tiba dia tertawa bergelak. Suara ketawanya membuat semua orang bergidik karena itu jelas bukan suara ketawa orang yang waras otaknya!

Segala macam bentuk kejahatan yang dilakukan orang adalah suatu tanda bahwa pada saat dia melakukannya, keadaan batinnya memang tidak sehat, tidak waras! Batin yang dikuasai oleh nafsu apa pun, batin yang diperhamba nafsu, merupakan batin yang tidak sehat, yang sudah gelap seperti buta sehingga segala yang dilakukan oleh jasmaninya hanya untuk menuruti dorongan nafsu itu semata.

Belajar untuk menjadi “orang baik” tidak ada gunanya selama batin masih lemah, masih mudah dicengkeram nafsu, mudah diperhamba nafsu. Yang penting bukan ingin menjadi orang baik, melainkan membuka mata batin, menyadarkan batin agar tidak sesat, tidak lemah, waspada selalu akan keadaan diri sendiri selalu dalam keadaan waspada sehingga tidak lengah dan tidak mudah dinina-bobokkan oleh nafsu.

“Ha-ha-ha-he-he-heh! Kalian manusia-manusia tolol! Memang aku yang melakukan itu semua, aku yang memperkosa dan membunuh Pong Siok Cin, membunuhi para murid Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang, aku yang mengadu domba antara kalian! Untuk apa? Agar ikatan perjodohan antara Bhe Siang Cun dan Ciok Lim terputus karena Siang Cun harus menjadi isteriku! Ha-ha-ha, hanya akulah yang pantas memiliki diri Siang Cun yang molek, ha-ha-ha!”

“Keparat! Di mana anakku Siang Cun sekarang?” bentak Bhe Kauwsu dengan marah, tangannya sudah gemetar karena menurutkan kemarahannya ingin dia membunuh murid murtad itu.

“Siang Cun? Ha-ha-ha, di kuil tua, diperkosa oleh Si Bangau Putih, mungkin sekarang sudah mampus pula, heh-heh!”

“Bohong! Jahanam itulah yang hendak memperkosanya, akan tetapi untung aku segera datang mencegahnya.... Dia melukainya dengan jarum beracun, akan tetapi sekarang telah selamat!” Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan muncullah Sin Hong.

Mendengar ini, lega rasa hati Bhe Kauwsu dan kini tidak dapat dicegah lagi, pedangnya digerakkan menusuk dada Phoa Hok Ci! Pada saat yang sama pedang di tangan Ciok Pangcu juga bergerak membabat ke arah leher orang jahat itu.

Tubuh itu terkulai dengan dada berlubang dan leher putus! Para murid Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan juga menggerakkan senjata mereka dan sekejap saja tubuh Phoa Hok Ci menjadi korban puluhan senjata, menjadi hancur tidak karuan lagi bentuknya!

“Sudah cukup!” Tiba-tiba Sin Hong membentak, suaranya nyaring sekali sehingga semua orang terkejut dan melangkah mundur. “Kalian semua adalah orang-orang gagah, mengapa kini dikuasai nafsu amarah dan dendam kebencian, berubah menjadi orang-orang yang demikian kejam?”

Semua orang, termasuk Ciok Kam Heng dan Bhe Gun Ek, tidak menjawab, hanya menundukkan muka dengan rikuh dan malu karena baru sekarang mereka melihat kenyataan itu, betapa sadis dan kejamnya mereka tadi karena dibakar oleh dendam kebencian.

“Ayahhh....!”

Tiba-tiba terdengar jeritan dan Siang Cun datang berlari-lari, disambut ayahnya. Gadis itu menubruk dan merangkul ayahnya sambil menangis terisak-isak.

Bhe Gun Ek mengelus rambut kepala puterinya dan menepuk-nepuk pundaknya.
“Sudahlah, Siang Cun, tenanglah. Jahanam keparat itu sudah kami bunuh.”

Siang Cun, menghentikan tangisnya, memandang ke kanan kiri dan seperti orang dalam mimpi ia bertanya,

“Mana dia? Mana manusia iblis itu? Akan kubunuh dia.!”

“Dia sudah mati di tangan kami, Siang Cun. Nah, itu dia!” Ayahnya menunjuk ke bawah.

Siang Cun memandang dan seperti terpukau melihat tumpukan daging dan tulang yang sudah menjadi onggokan tak berbentuk itu. Tiba-tiba ia merampas pedang di tangan ayahnya, lalu meloncat ke depan dan hendak membacokkan pedangnya ke arah onggokan daging dan tulang itu. Akan tetapi tiba-tiba lengannya ditangkap orang dari belakang.

“Nona sadarlah. Yang sesat biarlah sesat seperti Phoa Hok Ci itu. Akan tetapi tidak perlu Nona menjadi demikian kejam karena dendam kebencian. Dia sudah mati dan jasmaninya tidak berdosa.”

Siang Cun menoleh dan ketika ia melihat bahwa yang menahannya adalah Sin Hong, ia lalu melepaskan pedangnya dan berlari kepada ayahnya, kembali merangkul ayahnya sambil menangis keras.

**** 068 ****