Ads

Selasa, 01 Maret 2016

Kisah si Bangau Putih Jilid 065

“Yo Han, benarkah apa yang akan kau katakan itu penting sekali? Kalau tidak penting jangan bicara!”

“Suhu, teecu tidak berani main-main. Teecu tahu ada waktu untuk main-main dan ada waktu untuk bersungguh-sungguh, dan apa yang akan teecu katakan ini menurut teecu penting sekali.” kata Yo Han sambil bangkit berdiri lagi.

“Kalau begitu, bicaralah.” kata Sin Hong, percaya sepenuhnya kepada murid yang baru berusia sembilan tahun lebih itu.

Semua mata ditujukan kepada Yo Han dengan penuh perhatian, namun anak itu sama sekali tidak nampak gugup walaupun yang memandangnya adalah orang-orang dewasa.

“Begini, Suhu dan para Paman yang terhormat, juga engkau, enci Siang Cun. Aku telah mendengarkan semua percakapan tadi dan aku membayangkan adanya hal-hal aneh dalam peristiwa ini. Menurut nalar, kalau Ngo-heng Bu-koan tadinya bersahabat erat dengan Kim-liong-pang, bahkan ada pengikatan perjodohan, hal itu dapat dianggap bahwa tentu Kim-liong-pang merupakan perkumpulan orang gagah pula, bukan perkumpulan penjahat. Maka, andaikata benar bahwa putera ketua Kim-liong-pang yang melakukan perkosaan dan pembunuhan itu, tidak mungkin orang tuanya dan juga perkumpulannya yang menjunjung tinggi kegagahan akan membelanya! Kalau mereka membela mati-matian sampai mengorbankan nyawa, tentu mereka merasa yakin bahwa mereka itu benar! Seperti halnya Ngo-heng Bu-koan sendiri yang menyangkal keras ketika dituduh telah membunuh seorang anggauta Kim-liong-pang dan ada pedang Ngo-heng Bu-koan ditemukan di dekat mayat anggauta Kim-liong-pang itu.”

“Tapi itu fitnah!” Siang Cun berseru.

“Akan tetapi ada bukti pedang.“ Yo Han berkata dengan maksud memancing.

“Ah, pedang itu bukan bukti mutlak. Bisa saja pedang kami dicuri orang dan dijadikan bukti palsu!” Gadis itu membantah lagi.

“Nah, justeru ini yang menjadi maksudku, enci Siang Cun. Fitnah dan bukti palsu! Kalau pedang Ngo-heng Bu-koan dapat dicuri orang dan dijadikan bukti palsu, bukankah topi dari putera Kim-liong Pangcu itu pun dapat dicuri orang dan dijadikan bukti palsu pula? Nah, kemungkinan ke tiga yang kumaksudkan adalah fitnah dan bukti palsu itu! Siapa tahu, ada orang ke tiga yang bermain curang di sini, yaitu menjatuhkan fitnah kepada putera Ciok Pangcu, kemudian menjatuhkan fitnah sama dan fihak sini untuk mengadu domba.“

“Tidak mungkin!” seorang murid Ngo-heng Bu-koan bangkit berdiri dan membantah dengan suara keras. “Siapa orang yang mau melakukan perbuatan gila itu dan apa maksudnya?”

“Itulah yang harus diselidiki,” kata Yo Han dengan sikap serius. “Aku tadi hanya mengatakan kemungkinan ke tiga, mungkin terjadi demikian mungkin juga tidak.”

“Luar biasa....!” Tiba-tiba Bhe Kauwsu berseru dan matanya terbelalak memandang kepada Yo Han. “Tan-taihiap, muridmu ini sungguh seorang anak yang luar biasa cerdiknya! Kemungkinan itu memang ada! Bagaimana tidak pernah terpikirkan oleh aku yang sudah setua ini?”

“Ah, Bhe Kauwsu terlalu memuji!” kata Sin Hong merendah walaupun di dalam hatinya dia merasa bangga dan juga kagum karena dia melihat adanya kemungkinan besar dalam ucapan muridnya tadi. “Yo Han hanya ngawur saja.”

“Tidak, tidak! Kemungkinan ke tiga itu memang ada! Ah, kenapa aku tidak menduga akan hal itu dan siang-siang mengadakan perundingan dengan Kim-liong-pang? Harus diadakan perundingan itu untuk bersama-sama melakukan penyelidikan akan kemungkinan ketiga itu!”

“Akan tetapi, Suhu. Keadaan sudah begini meruncing, kedua pihak telah kehilangan banyak anggauta yang roboh tewas. Sakit hati sudah semakin bertumpuk, bagaimana mungkin Suhu dapat mengadakan perundingan dengan pihak Kim-liong-pang? Teecu kira mereka tidak akan mau menerima uluran tangan Suhu.” kata pula murid Ngo-heng Bu-koan itu.

Bhe Kauwsu mengangguk-angguk.
“Engkau benar juga, memang sekarang sudah terlambat. Sayang baru sekarang ada anak cerdik ini yang mengingatkan, kalau dulu sebelum jatuh banyak korban.“

“Bhe Kauwsu, dalam keadaan seperti ini, memang tidak baik bahkan berbahaya kalau engkau yang pergi ke sana, mungkin akan menambah panasnya suasana dan menimbulkan kesalah pahaman kedua pihak. Biarlah saya yang akan mewakilimu pergi menghadapi pimpinan Kim-liong-pang untuk membicarakan kemungkinan ke tiga itu, menawarkan perdamaian dan kerja sama untuk menyelidiki persoalan ini.”

“Ah, kalau Taihiap suka, sungguh kami merasa beruntung dan berterima kasih sekali!” kata guru silat Bhe dengan girang.

“Akan tetapi, Suhu. Apakah hal itu tidak akan merendahkan nama dan kehormatan Suhu khususnya dan para murid Ngo-heng Bu-koan pada umumnya? Mereka yang lebih dulu memulai permusuhan dan penghinaan yang teramat besar, memperkosa murid perguruan kita dan membunuhnya. Sudah patutkah kalau sekarang pihak kita yang melakukan pendekatan untuk berdamai? Kita akan dianggap takut!” yang bicara ini adalah seorang murid kepala lain dari Ngo-heng Bu-koan dan semua murid yang hadir dalam perjamuan makan itu mengangguk-angguk menyatakan setuju.

Yang mereka bela bukan hanya kebenaran, melainkan juga nama dan kehormatan perguruan mereka.

Mendengar ucapan murid kepala ini, Bhe Kauwsu mengerutkan alisnya dan dia pun mengangguk-angguk dan menjadi ragu. Memang kalau dipikirkan, yang memulai permusuhan itu adalah pihak Kim-liong-pang, maka kalau kini pihak Ngo-heng Bu-koan yang membuat langkah pertama ke arah perdamaian, seolah-olah pihak Bu-koan merasa takut! Dia memandang kepada Sin Hong dengan sinar mata ragu-ragu.

“Ucapan murid kami itu memang benar, Tan-taihiap. Permusuhan antara perguruan kami dan Kim-liong-pang sudah terlampau berlarut-larut. Sudah banyak korban kedua pihak berjatuhan. Kalau sekarang tiba-tiba Taihiap muncul sebagai utusan kami untuk mengajak damai, sungguh, hal itu dapat disalah artikan, disangka bahwa kita takut atau lebih celaka, kita disangka benar bersalah.”

Sin Hong mengangguk-angguk, di dalam hati membenarkan pendapat itu. Memang serba salah. Didiamkan, permusuhan itu akan semakin menghebat, kalau dia mendamaikan, maka akan tersinggung kehormatan dan nama Ngo-heng Bu-koan.

Tiba-tiba terdengar suara Yo Han, nyaring dan bersungguh-sungguh.
“Ada jalan yang baik!”






Kembali semua orang memandang kagum, hanya Sin Hong yang mengerutkan alisnya, menganggap muridnya itu terlalu lancang walaupun di dalam hati dia semakin mengagumi muridnya itu yang ternyata diam-diam memperhatikan percakapan dan bahkan ikut memikirkan dan mencari jalan keluar! Akan tetapi sebelum dia menegurnya, Bhe Gun Ek sudah menanggapi.

“Anak yang baik, ada akal apa lagikah di dalam kepalamu yang amat cerdik itu! Katakanlah!”

Yo Han mengerling kepada suhunya dan memandang dengan sinar mata minta perkenan! Sin Hong tersenyum melihat ini. Bagaimanapun juga, muridnya yang lancang ini sama sekali tidak bermaksud menyombongkan dirinya, dan bahkan selalu minta persetujuannya. Dia pun mengangguk dan berkata,

“Kalau engkau memang ada pendapat yang baik, katakanlah.”

Yo Han lalu bangkit berdiri dan dengan wajah bersungguh-sungguh dia berkata,
“Pendapat Bhe Kauwsu memang benar. Permusuhan itu sudah terlalu meruncing sehingga kalau yang mendamaikan itu anggauta atau utusan dari satu pihak, tentu mendatangkan perasaan rendah diri. Akan tetap kalau Suhu bertindak atas nama sendiri, sebagai orang luar yang berusaha mendamaikan antara kedua sahabat yang kini bermusuhan, saya kira tidak akan mendatangkan perasaan tidak enak. Dan saya yakin kalau Suhu mau turun tangan mendamaikan, tentu akan membuat pihak Kim-liong pang dapat menerima alasan dan mau bekerja sama untuk melakukan penyelidikan akan kemungkinan adanya pihak ketiga itu.”

Bhe Gun Ek bertepuk tangan dengan hati girang dan mereka yang hadir tersenyum dan mengangguk-angguk. Juga Bhe Siang Cun segera berkata,

“Adik Yo Han memang luar biasa sekali, entah gurunya akan mau melaksanakan usulnya ataukah tidak,” berkata demikian, gadis itu melirik ke arah Sin Hong.

Wajah Sin Hong berubah kemerahan dan diam-diam dia mendongkol juga kepada muridnya, karena pendapat muridnya itu seolah-olah mendesak dan mendorongnya ke sudut. Sekali ini dia tidak mungkin mundur, karena kalau dia menolak, seolah-olah dia enggan untuk mendamaikan kedua pihak. Akan tetapi kalau dia maju, berarti dia bertindak atas nama sendiri dan hal ini mengandung bahaya bahwa dia akan diterima sebagai musuh oleh pihak Kim-liong-pang.

Yo Han agaknya dapat melihat isi hati gurunya melalui sinar mata dan wajah gurunya yang berubah kemerahan. Dengan suara takut-takut dia pun berkata kepada gurunya,

“Suhu selalu mengajarkan kepada teecu bahwa seorang gagah pantang mundur untuk melakukan pekerjaan yang dianggap benar, adil dan baik. Dan teecu yakin bahwa mendamaikan Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang adalah pekerjaan yang benar dan adil.”

Mau tidak mau Sin Hong tersenyum. Muridnya ini memiliki kelihaian dalam bicara. Dia merasa seolah-olah sudah ditodong dan tidak mampu mengelak lagi. Secara halus anak kecil ini menyudutkannya dan menyerangnya dengan pelajaran yang diajarkannya sendiri kepada murid itu.

“Hemmm, Yo Han. Bagus engkau masih ingat akan pelajaran itu. Dengan demikian, bagaimana kalau sekarang aku menyuruh engkau yang menjadi orang yang berusaha mendamaikan kedua pihak yang bermusuhan itu? Maukah engkau menemui pimpinan Kim-liong-pang dan bicara dengan mereka, berusaha mendamaikan permusuhan mereka dengan pihak Ngo-heng Bu-koan?”

Semua orang, termasuk Bhe Gun Ek dan puterinya, terkejut dan heran mendengar ini. Seorang anak kecil berusia sembilan tahun lebih disuruh menjadi juru damai antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang? Sungguh tidak mungkin! Mana pihak Kim-liong-pang akan sudi mendengarkan omongan seorang bocah? Ngo-heng Bu-koan sendiri tidak akan mau bicara mengenai permusuhan mereka dengan seorang bocah seperti Yo Han kalau dia bukan murid Tan Sin Hong!

Akan tetapi dengan suara lantang dan sikap gagah, Yo Han berkata dengan suara sungguh-sungguh,

“Tentu saja teecu mau, Suhu! Kalau Suhu memerintahkan, sekarang juga teecu akan suka menemui ketua Kim-liong-pang!”

Mendengar jawaban ini, Bhe Gun Ek, Bhe Siang Cun dan para murid Ngo-heng Bu-koan tertegun, ada juga yang tersenyum geli dan menganggap jawaban itu merupakan suatu kesombongan kanak-kanak saja. Akan tetapi Sin Hong tahu benar bahwa muridnya itu tidak akan berlagak, melainkan akan sungguh-sungguh berangkat kalau dia memerintahkannya. Diam-diam dia bersyukur. Muridnya ini bukan hanya mengemukakan pendapat, melainkan juga berani mempertanggung-jawabkannya.

“Baiklah, Yo Han. Engkau pergi menemui Kim-liong-pang dan aku akan menemanimu.”

Yo Han bersorak girang.
“Kalau Suhu menemani tecu, semua akan beres!”

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar dan beberapa orang murid yang dipimpin oleh Phoa Hok Ci masuk sambil menggotong sesosok mayat yang masih berlumuran darah!

Ketika semua orang bangkit, Bhe Gun Ek meloncat dekat mayat itu dan berseru kaget.
“Ciang Lun....!” Dan dia menoleh kepada Phoa Hok Ci, bertanya dengan suara gemetar. “Apa yang telah terjadi dengan dia?”

Phoa Hok Ci menjatuhkan diri berlutut di depan kaki guru silat itu dan berkata dengan suara terkandung isak tangis,

“Suhu... ketika teecu keluar kampung, teecu melihat dari jauh sute Ciang Lun sedang berkelahi, dikeroyok oleh dua orang murid Kim-liong-pang. Teecu tidak dapat melihat jelas muka mereka, akan tetapi teecu mengenal baju yang ada lambang perkumpulan itu. Ketika melihat teecu lari menuju ke tempat itu, mereka lalu melarikan diri, meninggalkan sute Ciang Lun yang sudah terluka parah. Ketika teecu membawa sute pulang, di tengah perjalanan dia tewas. Ah, Suhu sendiri maklum betapa dekatnya teecu dengan sute Ciang Lun, dia seperti adik teecu sendiri dan kini.... ah, terkutuk orang-orang Kim-liong-pang!”

Phoa Hok Ci bangkit berdiri, mukanya pucat dan basah air mata. Dia mengepal tinju dan matanya menjadi beringas. Agaknya, kalau di situ terdapat orang Kim-liong-pang, tidak akan ada yang mampu mencegahnya mengamuk dan menyerang musuh besar itu.

“Tidak ada damai dengan anjing-anjing Kim-liong-pang!”

Tiba-tiba Phoa Hok Ci berteriak dan para murid Ngo-heng Bu-koan menyambut dengan teriakan setuju. Pada saat mengeluarkan teriakan itu, Phoa Hok Ci memandang ke arah Sin Hong dengan mata melotot, seolah-olah Sin Hong yang ingin mendamaikan permusuhan itu merupakan seorang anggauta Kim-liong-pang yang harus dimusuhinya!

Melihat ini guru silat Bhe segera berkata kepada muridnya itu.
“Sudahlah, lekas rawat baik-baik jenazah sutemu ini. Carikan peti yang baik dan kita lakukan upacara sembahyang di ruangan depan.”

Phoa Hok Ci dan teman-temannya mengangkat jenazah itu keluar dari ruangan itu, dan Bhe Gun Ek berkata kepada Sin Hong,

“Taihiap, urusan menjadi semakin kacau sekarang! Kau lihat sendiri betapa kejamnya orang-orang Kim-liong-pang. Aku tidak dapat menyalahkan Hok Ci atas kemarahannya karena Ciang Lun yang menjadi korban itu memang amat dekat dengan dia, seperti adik kandung saja. Dia kehilangan kekasihnya yang diperkosa dan dibunuh, kemudian sekarang dia kehilangan sute yang disayangnya, dan keduanya terbunuh oleh orang-orang Kim-liong-pang atau begitu menurut dugaan. Bahkan pembunuh sutenya dilihatnya dari jauh sebagai dua orang yang mengenakan pakaian Kim-liong-pang. Tentu saja dia merasa sakit hati dan mendendam kepada Kim-liong-pang. Dan setelah peristiwa ini, agaknya hemmm, rencana kita tadi terpaksa harus ditunda dulu, Taihiap.”

Sin Hong menarik napas panjang dan bangkit dari tempat duduknya.
“Aku mengerti, Bhe Kauwsu, dan sebaiknya kami mohon diri untuk melanjutkan perjalanan. Kehadiran kami hanya mengganggu saja.”

“Ah, sama sekali tidak, Taihiap. Bahkan tadinya kami amat mengharapkan bantuan Taihiap untuk mendamaikan urusan ini, akan tetapi kini para murid sedang marah-marahnya, dan saya sendiri tentu saja juga penasaran karena kembali kehilangan seorang murid yang baik.”

Sin Hong lalu menggandeng tangan Yo Han meninggalkan rumah perguruan silat yang besar itu, bahkan lalu keluar dari kota Lu-jiang. Setiba mereka di luar kota, hari telah mulai gelap, senja telah mendatang.

“Suhu, apa yang akan kita lakukan sekarang?” Yo Han bertanya.

Sin Hong menoleh dan memandang muridnya sambil tersenyum.
“Apa yang akan kita lakukan? Melanjutkan perjalanan, apalagi?"

“Tapi permusuhan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang itu.“

“Ah, itu bukan urusan kita, Yo Han. Perlu apa kita mencampuri urusan orang lain?” Sin Hong mencela muridnya.

Hening sejenak dan kedua orang itu melanjutkan perjalanan tanpa berkata-kata. Yo Han berjalan dan sambil menundukkan mukanya. Tiba-tiba dia bertanya,

“Suhu, kalau teecu melihat dua orang berkelahi dan berusaha mati-matian untuk saling bunuh, apakah yang harus teecu lakukan?”

“Hemmm, tentu engkau harus melerai mereka dan berusaha untuk mendamaikan mereka, atau kalau kau tahu bahwa seorang di antara mereka jahat dan hendak menekan, kau harus membantu yang lemah tertindas.”

“Suhu, bukankah kalau teecu mencampuri berarti teecu mencampuri urusan orang lain?”

Mendengar nada suara muridnya, Sin Hong menoleh dan dia pun tersenyum, dan dia mengerti apa yang dimaksudkan muridnya yang cerdik itu lalu dia menarik napas panjang.

“Baiklah, Yo Han. Aku pun sedang memikirkan cara bagaimana aku akan dapat menghentikan permusuhan antara Ngo-heng Bu-koan dan Kim-liong-pang. Karena kedua pihak berkeras kepala, maka aku tidak ingin lagi mencampuri. Jangan-jangan malah akan dimusuhi kedua pihak.”

“Suhu telah berkenalan dengan pihak Bu-koan dan tahu akan isi hati Bhe-kauwsu, akan tetapi belum mengenal pihak Kim-liong-pang. Kalau Suhu berkunjung ke sana dan berkenalan, teecu kira tidak akan sukar mencari jalan tengah ke arah perdamaian.”

“Usulmu baik sekali. Baiklah, mari kita pergi ke bukit Kim-liong-san itu, setidaknya kita dapat menyelidiki bagaimana sesungguhnya keadaan pihak yang bermusuhan dengan Ngo-heng Bu-koan itu.”

Yo Han merasa girang sekali, akan tetapi dia hanya mengangguk dan mengikuti suhunya menuju ke bukit yang nampak dari situ walaupun cuaca sudah mulai remang-remang.

Tiba-tiba Sin Hong menarik lengan muridnya dan menyelinap ke dalam semak-semak. Dia melihat bayangan orang. Yo Han juga mengintai dari balik semak-semak dan dia pun melihat dua orang laki-laki sedang menggotong tubuh seorang laki-laki lain yang agaknya telah tewas. Karena cuaca remang-remang, maka Sin Hong tidak dapat mengenal wajah kedua orang itu.

“Engkau tunggu saja di sini, aku akan membayangi mereka.” bisiknya kepada Yo Han.

Anak ini mengangguk, maklum bahwa kalau dia ikut, hanya akan merepotkan saja dan mungkin akan menggagalkan usaha gurunya yang akan melakukan penyelidikan. Sin Hong berkelebat dan lenyap dari depan muridnya, membuat Yo Han terbelalak kagum.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, mudah saja bagi Sin Hong untuk membayangi kedua orang itu sampai dekat tanpa mereka melihat atau mendengar gerakannya. Dengan jantung berdebar Sin Hong dapat mengenal seorang di antara mereka, yaitu Phoa Hok Ci, murid kepala dari Ngo-heng Bu-koan yang paling mendendam kepada Kim-liong-pang itu.

Dari Bhe Kauwsu dia mendengar betapa korban pertama di pihak Ngo-heng Bu-koan adalah seorang murid perempuan dan gadis yang diperkosa lalu dibunuh itu adalah kekasih Hok Ci dan korban terakhir adalah seorang sute yang paling dekat dengan Hok Ci.

Kini dua orang yang menggotong sesosok mayat itu, masuk hutan kecil di lereng Kim-liong-pang dan mereka berhenti. Sin Hong cepat menyelinap ke belakang sebatang pohon terdekat. Dia mengintai dan mendengarkan dengan hati-hati karena merasa curiga akan sikap mereka.

“Suheng, kita apakan mayat itu? Kita kubur di sini?”

Orang ke dua bertanya dan tahulah Sin Hong bahwa dia seorang murid Ngo-heng Bu-koan pula, adik seperguruan Phoa Hok Ci.

“Kubur di sini? Huh, enaknya! Kita biarkan dia di sini agar besok pagi ada orang Kim-liong-pang yang melihatnya. Tinggalkan golokmu itu di tubuhnya, atau biar kutusukkan golok itu di tubuh mayat ini!”

Phoa Hok Ci menerima golok di tangan sutenya dan sekali bergerak goloknya itu menancap sampai dalam di dada mayat. Tidak ada darah keluar, tanda bahwa mayat itu sudah sejak tadi tewas.

“Tapi.... Suheng, golok itu ada tanda perguruan kita.”

“Bagus, memang itu yang kukehendaki. Biar mereka tahu bahwa putera ketua mereka dibunuh oleh orang-orang Ngo-heng Bu-koan!”

“Aih, bagaimana Suheng ini? Bukankah suhu sedang berusaha untuk mengadakah perdamaian dengan pihak Kim-liong-pang? Perbuatan Suheng ini akan menambah besar dendam dan permusuhan! Aku tadi sudah sangsi ketika Suheng mengajak aku, mengeroyok Ciok Lim, biarpun aku juga tidak suka kepadanya, apalagi mengingat bahwa dia tersangka utama dalam perkosaan dan pembunuhan sumoi kita.”

Phoa Hok Ci mengambil pedang milik Ciok Lim yang sudah menjadi mayat itu. Pedang itu tadinya masih terselip di sarung pedang yang tergantung di punggung, hal ini saja menunjukkan bahwa pemuda putera ketua Kim-liong-pang ini agaknya dibunuh secara mendadak sehingga dia tidak sempat membela diri.

“Aku memang menghendaki agar kedua pihak bermusuhan! Biarlah kedua pihak hancur, kecuali Bhe Siang Cun! Ia seorang yang harus hidup dan menjadi Isteriku!”

“Suheng.... apa.... apa maksudmu.?” Orang kedua itu agaknya terkejut bukan main mendengar ucapan Phoa Hok Ci itu.

“Sudah sejak dulu kurindukan Siang Cun, dan kujelaskan niatku memperisteri gadis itu, akan tetapi suhu dengan halus menolak, bahkan hendak menjodohkan aku dengan Cin-sumoi. Aku merasa penasaran, dan lebih sakit hatiku ketika suhu menerima pinangan Ciok Lim ini! Tidak ada jalan lain bagiku kecuali menggagalkan perjodohan itu dan untuk itu, Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan harus menjadi musuh besar yang saling bermusuhan! Aku tidak mencinta Cin-sumoi, cintaku hanya untuk Bhe Siang Cun, maka biarlah Cin-sumoi menjadi korban pertama untuk membuka permusuhan antara kedua pihak, dan aku berhasil.... ha-ha-ha, aku berhasil! Apalagi malam ini, Ciok Lim, telah tewas dan untuk kematian ini, pihak Kim-liong-pang pasti akan membalas dendam dan tidak ada kekuatan lain di dunia ini yang akan mampu menghapus dendam di antara mereka!”

“Suheng....! Kau.... kau gila.!”

“Ha-ha-ha, memang aku gila, tergila-gila kepada Siang Cun dan apa pun yang akan terjadi, ia harus menjadi milikku. Kau dengar, Sute? Ia harus menjadi milikku, aih, Siang Cun jantung hatiku.!”

“Suheng, jadi kalau begitu, Cin-sumoi bukan terbunuh oleh Ciok Lim, melainkan oleh... Suheng sendiri? Dan Suheng yang memperkosanya lalu membunuhnya?”

“Hemmm, hanya orang tolol seperti engkau yang tidak mengerti! Aku memperkosa dan membunuhnya agar api kebencian dan permusuhan mulai bernyala.”

“Suheng mencuri topi milik Ciok Lim dan meninggalkannya di dekat mayat Cin-sumoi?”

“Benar!”

“Dan pembunuhan-pembunuhan yang lain itu.... pembunuhan terhadap murid perguruan kita yang tidak diakui oleh pihak Kim-liong-pang, kemudian pembunuhan terhadap murid Kim-liong-pang yang tidak kita akui, semua itu adalah perbuatanmu pula?”

“Benar.”

“Dan kematian sute sore tadi... juga engkau yang membunuhnya?”

“Benar!”

“Suheng! Engkau telah gila, dan mengapa.... mengapa kau ceritakan semua ini kepadaku? Mengapa engkau berani mengakui semua itu kepadaku?”

“Karena engkau takkan mampu membuka mulut lagi!”

Tiba-tiba pedang di tangan Hok Ci menyambar dan pedang itu telah menembus dada dan jantung murid Ngo-heng Bu-koan itu. Dia roboh terjengkang dan matanya terbelalak, mulutnya mengeluarkan jerit tertahan dan dia pun tewas seketika, roboh terlentang dengan pedang masih menancap di dadanya dan agaknya memang dibiarkan tinggal di dada itu oleh Hok Ci.

Sin Hong terkejut bukan main dan merasa menyesal. Sungguh tidak disangkanya sama sekali bahwa Phoa Hok Ci akan membunuh sutenya sehingga dia pun tidak menyangka sesuatu dan tidak keburu mencegah pembunuhan yang terjadi di depan matanya ini. Tak disangkanya bahwa permusuhan hebat antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan itu terjadi karena perbuatan Phoa Hok Ci yang agaknya sudah gila!

Orang ini tergila-gila kepada Bhe Siang Cun dan karena pinangannya ditolak, juga karena besarnya nafsu menguasai dirinya untuk memiliki Siang Cun, dia tidak segan-segan melakukan segala perbuatan yang amat kejam. Dia memperkosa mendiang Bong Siok Cin, sumoinya sendiri, lalu membunuhnya, dan meninggalkan topi milik putera ketua Kim-liong-pang yang dicurinya di dekat mayat sumoinya itu. Dan dia pun masih memperbesar permusuhan dan dendam antara kedua pihak dengan melakukan pembunuhan-pembunuhan lagi, baik murid Kim-liong-pang yang dibunuhnya, maupun murid Ngo-heng Bu-koan sendiri!

Dan siang tadi dia membunuh sutenya yang paling dekat dengan dia, mungkin selain untuk memperbesar dendam, juga karena sutenya itu mengetahui atau mencium bau akibat perbuatannya yang jahat. Seperti juga pembunuhan dilakukan terhadap sutenya ini dengan dua tujuan, pertama agar sutenya tidak dapat menceritakan hal-hal yang kiranya mencurigakan, dan kedua agar ada bukti bahwa kematian putera ketua Kim-Liong-pang adalah karena perbuatan sute itu, murid Ngo-heng Bu-koan! Dan dia membunuh sutenya agar kelihatan bahwa mereka berdua itu tewas bersama dalam suatu perkelahian.

Bukan main kaget dan marahnya hati Sin Hong dan diam-diam dia kagum sekali kepada muridnya. Ternyata dugaan Yo Han benar dan tepat! Kemungkinan ke tiga itu bukan kemungkinan lagi melainkan kenyataan! Ada orang ke tiga yang sengaja mengadu domba antara Kim-liong-pang dan Ngo-heng Bu-koan demi kepentingan dirinya sendiri! Dan orang itu bukan lain adalah Phoa Hok Ci, murid utama yang dipercaya oleh Bhe Kauwsu.

Satu-satunya kebodohan dan kelemahan manusia adalah membiarkan si aku merajalela dalam diri kita masing-masing. Kalau si aku sudah merajalela dalam diri, menguasai diri sepenuhnya, maka celakalah hidup ini. Segala malapetaka, kesengsaraan, bersumber dari si aku ini yang mendorong kita untuk mengejar segala macam kesenangan dan menggunakan segala macam cara untuk mencapai hasil pengejaran itu.

Si aku ini yang mendatangkan loba, tamak, iri, dengki, marah, benci takut dan sebagainya. Si aku mengotori dan merusak batin. Si aku bagaikan setan yang menjadi raja dalam batin kita masing-masing dan selama setan itu masih bertahta di dalam batin maka hidup ini penuh konflik, penuh permusuhan, dendam, kebencian dan karenanya terciptalah rasa takut dan kesengsaraan. Kalau setan ini tidak lagi bercokol di dalam batin, maka sinar cinta kasih akan menerangi batin, kekuasaan Tuhan sendiri akan memenuhi batin.

Sin Hong cepat meloncat keluar sambil membentak.
“Phoa Hok Ci, kiranya engkau biang keladi semua permusuhan ini!”

Phoa Hok Ci terkejut bukan main, akan tetapi tangan kirinya bergerak ke arah Sin Hong. Pendekar ini cepat melompat ke samping untuk menghindarkan diri dari sambaran pasir hitam yang mengandung racun itu! Akan tetapi tiba-tiba tangan kanan murid Ngo-heng Bu-koan itu bergerak dan asap hitam bergumpal-gumpal membuat penglihatan Sin Hong tertutup.

Ketika pendekar ini meloncat lagi ke samping agak jauh dan memandang, ternyata Phoa Hok Ci telah lari jauh sekali! Sin Hong terkejut. Dia mengenal ilmu dari golongan hitam dan biasanya hanya orang-orang seperti para tokoh Pek-lian-kauw yang memiliki senjata rahasia seperti itu. Bagaimana mungkin seorang murid Ngo-heng Bu-koan dapat mempergunakan senjata rahasia dari golongan sesat? Tentu orang itu telah diam-diam berguru kepada tokoh sesat, pikirnya. Akan tetapi Sin Hong cepat meloncat dan melakukan pengejaran.

Kembali dia terkejut. Kiranya Phoa Hok Ci memiliki ilmu kepandaian tinggi dan mampu berlari cepat sekali! Sin Hong menemui kesulitan karena cuaca sudah mulai gelap dan dia tidak mengenal lapangan. Tidak seperti Phoa Hok Ci yang agaknya sudah hafal benar akan keadaan di wilayah itu sehingga Sin Hong belum juga mampu menyusul orang yang melarikan diri, walaupun dia masih belum kehilangan jejaknya.

Phoa Hok Ci berlari cepat. Dia merasa jerih untuk melawan Sin Hong, karena dia tahu benar betapa lihainya pemuda yang pernah menjadi tamu di Ngo-heng Bu-koan itu. Dan yang amat mengecilkan hatinya adalah semua rahasianya. Dia harus bertindak cepat kalau tidak ingin menemui kegagalan dalam akhir rencananya yang sudah berjalan demikian baiknya. Tanpa disadarinya, dia lari melalui dekat tempat di mana Yo Han bersembunyi menanti gurunya.

Yo Han terkejut melihat orang lari berkelebat di dekat tempat persembunyiannya. Dan dia mengenal orang itu sebagai Phoa Hok Ci! Selagi dia bangkit berdiri dan memandang keheranan ke arah larinya orang itu, tiba-tiba saja gurunya telah berada di dekatnya.