Ads

Selasa, 23 Februari 2016

Kisah si Bangau Putih Jilid 042

“Orang muda yang gagah. Pendapatmu itu mewakili pendapat umum, akan tetapi hendaknya dimengerti benar bahwa pendapat umum bukan merupakan ukuran akan kebenaran dan keadilan kekuasaan Tuhan. Terdapat banyak rahasia tersimpan di balik semua peristiwa yang terjadi. Apapun yang terjadi di dalam kehidupan ini, sudah pasti sesuai dengan kehidupan ini, sudah pasti sesuai dengan kewajaran, tidak terlepas dari Hukum Karma yang mencerminkan keadilan kekuasaan Tuhan. Mungkin saja nampaknya tidak adil, bahkan ada kalanya suatu peristiwa dianggap janggal dan tidak adil sama sekali oleh kita, namun hal itu hanya membuktikan betapa lemah dan bodohnya kita.

Akal kita, batin kita, pikiran kita, sama sekali tidak mampu menjangkau rahasia itu. Ada seorang bayi begitu terlahir sudah harus menderita, entah karena kemiskinan keluarganya, atau karena cacad badan, atau karena tertimpa bencana alam dan sebagainya. Menurut pendapat akal kita, tentu saja hal itu sama sekali tidak adil! Ada orang yang hidupnya penuh dengan kecurangan dan kejahatan, nampaknya hidup serba mewah, mulia dan senang. Sebaliknya, orang yang kita anggap berbudi mulia, baik dan dermawan, hidupnya serba kekurangan atau menderita karena penyakit yang berat dan lama. Nah, semua itu hanya sekedar bukti bahwa akal pikiran kita tidak akan mampu menguak rahasia kekuasaan Tuhan!”

“Paman, kalau begitu, apa gunanya kita membela kebenaran dan menentang kejahatan kalau hasilnya belum tentu menguntungkan kita?”

Suma Lian membantah dengan hati penasaran. Mendengar bantahan keponakannya itu, Suma Ciang Bun tertawa.

“Ha-haha, Suma Lian, pertanyaanmu itu mengejutkan dan mengherankan, seolah-olah engkau bukan keturunan keluarga Pulau Es saja, seolah-olah engkau bukan murid terkasih dari paman Gak Bun Beng! Kalau kita membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan, dengan pamrih hasil yang menguntungkan apakah hal itu dapat disebut perbuatan gagah seorang pendekar? Ketahuilah, lahir dan matinya seorang manusia seutuhnya berada dalam kekuasaan Tuhan yang menentukan. Bagaimana mengisi kehidupan, antara kelahiran dan kematian itulah tugas hidup seorang manusia. Dan aku merasa yakin, demi keadilan Tuhan, bahwa kekuasaan yang menentukan itu tentu disesuaikan dengan mutu dan nilai kehidupan yang diisi oleh manusia sendiri. Jadi, tugas kita hanyalah selalu harus menjauhkan segala macam kebencian iri hati, pementingan diri sendiri, dan sebagainya. Sesudah itu, selesailah, karena yang lain-lain berada di tangan Tuhan dan kita harus menyerahkannya dengan penuh keimanan akan kekuasaan Tuhan.”

Sin Hong menundukkan mukanya. Dia dapat merasakan kebenaran ucapan pendekar itu. Bagaimanapun juga, manusia adalah mahluk yang lemah sekali. Biarpun kebanyakan manusia merasa dirinya besar dan berkuasa, namun sesungguhnya itu hanyalah kesombongan kosong belaka. Jangankan menguasai hidup matinya, bahkan menguasai sehelai rambut pun tidak! Rambut itu tumbuh sendiri di luar kekuasaan manusia yang mengaku memilikinya. Penyerahan diri ke dalam kekuasaan Tuhanlah satu-satunya jalan tempat manusia berlindung, di samping, tentu saja, segala ikhtiar sekuatnya.

“Aku sudah mendengar akan semua itu, Paman.” Suma Lian mendesak, “akan tetapi, aku tetap merasa penasaran mengapa kakek buyut dan kedua nenek buyutku di Pulau Es, juga para locianpwe di Istana Gurun Pasir, enam orang yang terkenal memiliki kesaktian dan nama mereka pernah menggemparkan dunia persilatan itu, di dalam usia tua sekali meninggal dunia secara menyedihkan, yaitu tewas di tangan orang-orang sesat”.

Kembali Suma Ciang Bun tersenyum.
“Orang muda memang selalu ingin tahu dan penasaran. Akan tetapi sikap demikian itu baik sekali. Jangan mudah puas dan selidikilah segala sesuatu dengan seksama sampai engkau mengerti benar. Agaknya aku dapat menjawab pertanyaanmu itu, Lian-ji, karena aku dapat menyelami watak orang-orang tua yang gagah perkasa itu dan aku dapat menduga mengapa mereka itu tewas dalam perkelahian melawan kaum sesat. Kematian memang hanya satu macam saja, yaitu nyawa meninggalkan badan, akan tetapi ada berbagai macam cara kematian. Tidak ada kematian yang lebih membanggakan daripada kematian yang terjadi ketika sedang melaksanakan tugas. Tugas seorang pendekar adalah menentang kejahatan, berarti menentang golongan sesat.

Agaknya itulah yang membuat para orang tua gagah itu lebih suka memilih kematian ketika mereka sedang menentang golongan sesat. Hal itu pada umumnya oleh para pendekar dianggap mati sebagai harimau, tidak mati sebagai seekor babi. Dan ini ada hubungannya dengan perputaran hukum karma tadi. Perajurit mati dalam perang, pendekar mati dalam pertempuran melawan golongan sesat. Ini sudah tepat namanya.”

“Semua keterangan Locianpwe itu sungguh membuka mata batin dan menambah pengertian saya. Terima kasih, Locianpwe,” kata Sin Hong dengan pandang mata kagum. “Akan tetapi, dalam kesempatan ini saya mohon agar Locianpwe suka menerangkan kepada saya yang bodoh ini, apa sesungguhnya hakekat hidup dan mati. Mengapa kita dilahirkan, hanya untuk dimatikan pada akhirnya? Apa artinya semua ini Locianpwe?”

Suma Ciang Bun tersenyum. Persis seperti yang sering kali direnungkan ketika mulai menyendiri dalam pertapaan!

“Orang muda yang gagah. Siapakah kita ini yang akan mampu membicarakan rahasia yang hanya diketahui Tuhan? Segala bentuk kelahiran di dunia pasti akan diakhiri dengan kematian. Hal ini sudah terbukti di atas bumi ini. Kalau ada kelahiran tanpa kematian, maka kelahiran seperti itu tentu terjadi bukan di dunia ini. Keadaan yang menyebutnya Sorga atau Nirwana atau sudah bersatu dengan Tuhan. Lebih tepat kalau kita bicara tentang kehidupan di atas dunia ini, kehidupan kita bersama yang sama kita rasakan. Kita hanya dapat bicara tentang pengalaman, hal-hal yang kita ketahui dari pengalaman orang lain.

Sebelum kita terlahir, kita ini tidak ada. Kita lalu ada setelah terlahir dan hidup. Kemudian, setelah mati, kembali keadaan kita lenyap dan kembali menjadi tidak ada! Nah, keadaan tidak ada itu, sebelum terlahir dan sesudah mati, bukanlah urusan kita, melainkan urusan yang ditangani oleh kekuasaan Tuhan. Bukan hak maupun kewajiban kita untuk menyelidikinya, pula, bagaimana kita dapat menyelidiki sesuatu yang berada di luar jangkauan kemampuan akal budi dan pikiran kita? Lebih baik kita bicarakan tentang keadaan yang ada saja, yaitu keadaan hidup kita ini. Hak kita adalah menghayati kehidupan ini sepenuhnya, kewajiban kita adalah mengisi kehidupan ini sebagaimana mestinya, memupuk kebaikan dan menjauhi kejahatan, tanpa pamrih mendapatkan upah. Adapun semua penilaian tentang prilaku kita semasa hidup, kita serahkan saja kepada Tuhan!”

Kalau Sin Hong mendengarkan dengan penuh hormat. Suma Lian sebaliknya menjadi kagum. Dulu, telah beberapa kali ia mendengar pamannya ini bicara, akan tetapi alangkah bedanya cara pamannya bicara. Kini pamannya demikian pasrah, demikian dekat dengan Tuhannya. Agaknya itulah hasil pertapaannya, hasil perenungan di dalam samadhinya, dan Suma Lian menjadi kagum, juga terharu.

Dari ayah ibunya ia sudah banyak mendengar tentang Suma Ciang Bun, tentang keadaannya yang luar biasa, kecondongannya untuk menyukai sesama jenisnya, yaitu laki-laki. Karena itu sampai setua itu dia tidak pernah menikah dan lebih suka hidup menyendiri di lereng Tapa-san yang sunyi itu.

Setelah bercakap-cakap dan menyerahkan Yo Han untuk dititipkan sementara waktu di tempat tinggal Suma Ciang Bun, Sin Hong dan Suma Lian lalu berpamit untuk memulai dengan perjalanan mereka melakukan penyelidikan terhadap Tiat-liong-pang yang kabarnya menghimpun para tokoh hitam untuk memberontak itu.

Mereka pun ingin berusaha membebaskan ayah ibu Yo Han yang menjadi tawanan para tokoh hitam itu, di samping kepentingan Sin Hong yang hendak menyelidiki rahasia pembunuhan ayahnya, juga untuk menentang Sin-kiam Mo-li yang dia tahu amat jahat.






Yo Han suka tinggal untuk sementara waktu dengan kakek yang amat ramah dan halus budi itu, apalagi karena Sin Hong berjanji bahwa setelah selesai tugasnya, dia pasti akan datang menjemput muridnya.

Sementara itu, Tiat-liong-pang kini mulai memperkuat diri, menerima banyak anggauta baru. Bahkan sedikit demi sedikit, orang-orang suku Mongol anak buah Agakai, mulai menyusup masuk lewat perbatasan bergabung dengan Tiat-liong-pang. Semua anak buah itu mulai dilatih perang-perangan, dan para tokoh sesat yang menjadi pembantu Siangkoan Lohan, sibuk disebar ke selatan untuk menghimpun kekuatan dan membujuk perkumpulan-perkumpulan untuk mendukung rencana pemberontakan mereka.

Bi-kwi belum dipercaya untuk bertugas keluar. Ia ditugaskan untuk ikut melatih pasukan-pasukan kecil yang terdiri dari anak buah Tiat-liong-pang yang kini telah menjadi semacam benteng. Tentu saja Bi-kwi tidak berdaya selama suaminya masih berada di situ dan selalu diawasi. Ia akan dapat mencoba untuk membebaskan diri, mengandalkan kepandaiannya walaupun di situ masih terdapat banyak orang pandai, akan tetapi sukar baginya untuk menjamin keselamatan suaminya. Masih baik bahwa mereka berdua mendapatkan sebuah kamar yang cukup luas, walaupun setiap malam kamar itu tidak pernah sunyi dari penjaga yang mengepungnya.

Ketika Bi-kwi pada malam hari memberitahukan kepada suaminya, Yo Jin, akan peristiwa kematian Pouw Ciang Hin, kakak Pouw Li Sian, mengemukakan dugaannya bahwa kakak gadis itu tewas secara aneh dan kemungkinan besar dibunuh oleh Siangkoan Liong dan kaki tangannya.

Yo Jin yang berwatak gagah dan jujur itu lalu menjadi marah.
“Huh, orang-orang macam apa yang kau bantu ini? Kita tidak boleh tinggal diam saja! Engkau harus memberitahukan hal itu kepada nona Pouw Li Sian. Kalau tidak kau lakukan hal itu, sama saja dengan membantu mereka melakukan pembunuhan keji terhadap kakak gadis itu!”

Bi-kwi dapat menyetujui keinginan suaminya itu. Ia pun merasa muak melihat sepak terjang Siangkoan Liong dan ia yang bermata tajam dan berpengalaman luas itu segera dapat melihat apa yang sama sekali tidak dapat diduga oleh Pouw Li Sian yaitu bahwa dalam peristiwa kematian kakak gadis itu, terdapat hal-hal yang tidak wajar. Maka ketika mendapat kesempatan bertemu berdua saja dengan Li Sian, Bi-kwi lalu berbisik,

“Nona Pouw, mari ke sini, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting mengenai kematian kakakmu.”

Li Sian mengenal Bi-kwi dari cerita Siangkoan Liong. Pemuda itu memberitahu kepadanya bahwa Bi-kwi adalah seorang tokoh sesat yang amat jahat dan licik, maka ia harus berhati-hati terhadap wanita cantik itu. Akan tetapi, ketika Bi-kwi menyebut tentang kematian kakaknya, ia pun segera mengangguk dan mengikuti wanita itu ke sebuah sudut bangunan dimana mereka tersembunyi dan mudah melihat kalau ada orang lain datang menghampiri tempat itu.

“Apakah yang hendak kau bicarakan dengan aku, Enci?”

Tanya Li Sian dan setelah kini mereka berdiri berhadapan dekat dan ia memperhatikan wajah wanita itu, ia melihat betapa wajah yang cantik itu membayangkan kekhawatiran dan juga sinar matanya nampak lembut, bukan seperti mata seorang yang berwatak jahat.

“Nona Pouw, aku merasa kasihan sekali kepadamu dan tidak ingin melihat engkau akan tertipu semakin jauh. Ketika kita semua menyaksikan kematian kakakmu, perwira Pouw Ciang Hin, di dalam hutan itu, aku pun ikut menyaksikan dan aku melihat suatu hal yang amat penting yang menunjukkan dengan jelas kepadaku bahwa kakakmu itu sama sekali tidak tewas karena berkelahi melawan perwira kerajaan.”

Pouw Li Sian mengerutkan alisnya dan memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik ke arah wajah wanita cantik itu. Ia teringat akan pesan Siangkoan Liong bahwa ia harus berhati-hati terhadap wanita yang amat jahat dan licik. Siapa tahu, wanita ini hendak mempergunakan suatu tipu muslihat yang licik terhadap dirinya.

“Apa maksudmu yang sebenarnya, Enci? Sudah jelas bahwa mendiang kakakku itu tewas dalam perkelahian dan lawannya juga tewas. Apa buktinya dugaanmu itu bahwa dia tidak tewas dalam perkelahian melawan perwira kerajaan itu?”

“Memang tadinya aku pun percaya akan keterangan mereka bahwa kakakmu mati bersama lawannya berkelahi. Akan tetapi ketika aku memperhatikan lukanya, dan melihat betapa perwira kerajaan yang menjadi lawannya itu mati sambil memegang senjatanya, yaitu sebatang golok, aku pun menjadi curiga. Aku mendekat dan melihat keadaan luka pada kakakmu yang membawa kematian itu dan aku pun yakin setelah melihat dari depan dan belakang, bahwa kakakmu itu tewas bukan oleh perwira yang menjadi lawannya itu.”

“Apa buktinya? Coba terangkan yang jelas,” kata Li Sian, jantungnya berdebar tegang walaupun ia belum percaya benar dan masih mencurigai wanita ini.

“Pada jenazah kakakmu itu terdapat beberapa luka sabetan golok, pada paha, pangkal lengan kiri, dan pundak kanan. Akan tetapi tiga luka yang jelas disebabkan oleh bacokan golok itu bukan luka yang mematikan. Luka yang menyebabkan kematian kakakmu adalah luka tusukan pada dada yang menembus ke punggung dan hal ini kulihat benar dari arah depan dan belakang. Jadi, kakakmu bukan tewas oleh golok di tangan perwira itu, melainkan oleh tusukan pedang dari depan, yang dilakukan dengan kuat sekali. Luka itu kecil, hanya dapat diakibatkan tusukan pedang, bukan bacokan atau tusukan golok.”

Sepasang mata Li Sian terbelalak, kecurigaannya lenyap dan ia nampak ragu-ragu, mulai percaya karena ia pun teringat akan luka-luka di tubuh kakaknya, akan tetapi sebelum ini ia tidak memikirkan sejauh itu.

“Lalu.... kalau menurut pendapatmu bagaimana, Enci?” tanyanya, suaranya gemetar karena ia mendapat perasaan yang amat tidak enak.

“Aku pernah melihat perwira yang menjadi lawan kakakmu itu, nona Pouw. Kalau tidak keliru, dia seorang kepercayaan Coa Tai-ciangkun, panglima yang menjadi komandan pasukan perbatasan yang agaknya bersekutu dengan Tiat-liong-pang. Dan melihat tanda pangkat yang dipakainya, dia memiliki pangkat yang lebih tinggi dari kakakmu. Dan itu dibuktikan dengan adanya tiga luka bacokan golok pada tubuh kakakmu, sedangkan pada tubuh perwira itu, hanya ada satu luka tusukan pedang, dari punggung yang menembus ke dada.

Jadi menurut perhitunganku, kakakmu memang berkelahi melawan perwira itu, akan tetapi kakakmu terdesak dan menderita tiga luka itu. Kemudian, kalau tidak keliru dugaanku, muncul seorang lain yang membunuh perwira itu dari belakang dengan tusukan pedang. Orang itu tentu lihai sekali sehingga sekali tusuk dia mampu merobohkan perwira itu. Kemudian, dengan mudah dia membunuh pula kakakmu yang sudah luka-luka itu dengan tusukan pedang dari depan “

“Akan tetapi, pedang kakakku yang berada di situ juga berlumuran darah!”

Bi-kwi tersenyum.
“Apa sukarnya itu, pembunuh itu dapat saja mengambil pedang kakakmu dan melumurinya dengan darah perwira itu yang masih bercucuran.”

“Akan tetapi siapakah orang yang sekeji itu membunuh kakakku, dan mengapa pula dia mengatur muslihat agar kelihatannya kakakku tewas dalam perkelahian melawan perwira itu? Apa alasannya?”

Li Sian bertanya, penasaran walaupun ia melihat bahwa pendapat wanita ini memang sangat mungkin terjadi.

“Sukar untuk menduga siapa pelaku pembunuhan itu. Akan tetapi, aku merasa yakin bahwa dia tentulah seorang pembantu Siangkoan Lohan, di antara tokoh-tokoh yang lihai itu. Dan siasat itu sengaja dilakukan orang untuk mengelabuhimu, nona Pouw.”

“Apa? Untuk mengelabuhi aku? Mengapa?”

“Ini hanya dugaanku belaka. Engkau seorang gadis muda yang menurut pendengaranku memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, bahkan ilmu-ilmu dari Pulau Es pun kau kuasai, tentu Siangkoan Lohan ingin mengikatmu. Dan agaknya, kakakmu itu adalah seorang perwira yang setia kepada kerajaan sehingga dia mungkin akan membuka rahasia pemberontakan Tiat-liong-pang ini kepadamu. Nah, karena itu, mereka harus membunuh kakakmu dan yang menerima tugas adalah rekannya yang lebih lihai, yaitu perwira yang tewas pula itu. Dan agaknya perwira itu memang dikorbankan, dibunuh agar nampaknya kakakmu tewas dalam perkelahian melawan rekannya sendiri. Tentu hal ini selain untuk mengelabuhimu agar engkau tidak menyangka buruk terhadap Tiat-liong-pang, juga untuk menanamkan kebencian dalam hatimu terhadap pasukan kerajaan.”

“Ahhh....!”

Sepasang mata Li Sian terbelalak, karena ia teringat akan sikap dan kata-kata kakak kandungnya sebelum mereka dipisahkan oleh kemunculan Siangkoan Liong. Dan kakanya berjanji akan mengunjunginya dan bicara panjang lebar seminggu kemudian, akan tetapi tahu-tahu dia tewas.

“Memang kakakku pernah memperingatkan aku dalam pertemuan pertama itu, memperingatkan aku tentang Tiat-llong-pang.”

“Ah, kalau begitu sudah pasti tepat dugaanku tadi, Nona. Kakakmu itu telah mengetahui akan rahasia busuk dari Tiat-liong-pang dan hendak memperingatkanmu, maka mereka telah mendahuluinya, membunuhnya dengan siasat agar engkau tidak menduga buruk terhadap mereka.”

“Akan tetapi Tiat-liong-pang adalah perkumpulan orang gagah! Sejak kecil dahulu mendiang ayahku telah bersahabat dengan Siangkoan Lohan, dan kalau sekarang mereka hendak melakukan pemberontakan, hal itu adalah wajar, bukan? Setiap orang gagah tentu tidak rela melihat tanah airnya dijajah oleh bangsa Mancu dan sedapat mungkin hendak membebaskan rakyat dari penjajahan!” Li Sian membela. “Menurut perkiraanku, kakakku itu mulai menyadari akan kebaikan gerakan perjuangan Tiat-liong-pang, maka dia hendak membalik dan hendak membantu Tiat-liong-pang. Hal ini agaknya diketahui oleh pihak tentara kerajaan maka kakakku dibunuh.”

“Itulah cerita yang sengaja mereka buat untuk mengelabuhimu, nona Pouw. Akan tetapi kalau benar demikian halnya, lalu dari mana datangnya luka tusukan pedang yang menewaskan kakakmu? Harap jangan lengah dan bodoh, nona Pouw, dan waspadalah terhadap bujuk-rayu Siangkoan Liong itu. Dia seorang pemuda yang bukan hanya lihai sekali ilmu silatnya, akan tetapi juga amat cerdik dan pandai membawa diri, sehingga gadis-gadis yang berhati polos dan jujur sepertimu ini akan mudah sekali terjatuh dan....”

“Diam! Itu bukan urusanmu!”

Li Sian membentak dengan muka berubah merah, lalu ia pergi meninggalkan Bi-kwi. Wanita ini hanya menghela napas panjang, dan ia mengambil keputusan bahwa kalau tidak dapat menggandeng Li Sian sebagai kawan untuk menentang persekutuan itu, ia akan maju sendiri. Bagaimanapun juga, ia sudah bersumpah di dalam hatinya untuk meninggalkan jalan kejahatan, bahkan akan menentang kejahatan.

Pemberontakan yang akan dilakukan Tiat-liong-pang ini sama sekali bukanlah menentang penjajah, melainkan pemberontakan yang jahat, persekutuan dengan kaum sesat dan ia pun sudah mendengar betapa Siangkoan Liong dicalonkan menjadi kaisar kalau pemberontakan itu berhasil! Ia pun cepat menuju ke kamarnya untuk menemui suaminya dan membicarakan urusan itu.

Sementara itu, dengan muka masih merah dan jantungnya berdebar, dada terasa panas, Li Sian lari meninggalkan Bi-kwi dan segera pergi mencari Siangkoan Liong.

Pada saat itu, Siangkoan Liong sedang bercakap-cakap dengan ayahnya, yaitu Siangkoan Lohan, di ruangan sebelah dalam. Karena hatinya terguncang dan ia menjadi amat penasaran dan tidak sabaran Li Sian tidak peduli dan langsung saja memasuki rumah induk untuk mencari Siangkoan Liong. Hatinya seperti ditusuk-tusuk. Kalau benar semua dugaan Bi-kwi itu, lalu bagaimana? Bagaimana kalau memang benar Siangkoan Liong menjalankan siasat busuk itu dan bahkan pemuda itu telah berhasil membujuk rayu sehingga ia terjatuh!

Seperti yang dikhawatirkan Bi-kwi tadi, ia telah jatuh! Ia telah menyerahkan dirinya bulat-bulat kepada Siangkoan Liong, karena memang ia tertarik dan katakanlah tergila-gila kepada pemuda itu, merasa bahwa ia memang mencinta pemuda itu! Bagaimana kalau benar Siangkoan Liong membunuh atau menyuruh bunuh kakaknya dan menguasai tubuhnya hanya sebagai siasat busuk belaka untuk menguasainya, bukan karena cinta kasih? Hampir Li Sian menjerit membayangkan semua kemungkinan itu! Ia akan dapat menjadi gila kalau semua itu ternyata benar demikian!

Ketika dengan tergesa-gesa ia memasuki rumah induk yang luas itu, ia mendengar suara Siangkoan Liong di sebuah ruangan samping yang daun pintunya tertutup. Ia cepat mengerahkan tenaganya agar tidak sampai ada suara pada langkah kakinya dan ia pun mendekati daun pintu itu. Dengan cukup jelas ia mendengar percakapan antara Siangkoan Liong dan suara wanita yang dikenalnya adalah suara Sin-kiam Mo-li!

"Sudahlah, Mo-li. Jangan kau ganggu aku sekarang ini! Aku sedang sibuk dan aku tidak ada nafsu untuk...." suara Siangkoan Liong ini seperti orang yang jengkel dan terganggu.

"Kongcu, engkau sungguh tidak adil!" Terdengar suara Sin-kiam Mo-li memotong, suaranya direndahkan agar lirih sehingga terdengar mendesis. "Engkau tahu betapa aku mengagumimu, tergila-gila kepadamu dan mendambakan kasih sayangmu. Aku sudah pantas menerima kasih sayangmu sebagai balas jasa atas semua bantuanku, bukan? Tidak setiap hari, hanya kadang-kadang kalau aku sudah amat rindu, Kongcu. Marilah, kasihanilah aku, karena aku seperti seorang yang kehausan membutuhkan air cintamu...."

"Mo-li, jangan ganggu aku. Nanti saja, besok atau lusa kalau aku sudah tidak sibuk lagi."

"Sibuk apa? Bukankah sudah banyak pembantu yang melatih pasukan? Ingatlah, bukankah aku pula yang telah membantu sehingga gadis mulus itu terjatuh ke dalam pelukanmu? Betapa dengan susah payah aku menggunakan akal membiarkan ia minum anggur rahasiaku yang mengandung rangsangan-rangsangan kuat, dan ditambah pula dengan kekuatan sihirku pada malam itu, bahkan dibantu pula oleh Thian Kek Sengjin yang dapat kubujuk. Dan engkau sudah melupakan semua jasaku itu?"

"Ssttt.... jangan lancang mulut, Mo-li. Dinding pun mungkin mempunyai telinga. Sudahlah biar kuberjanji, malam nanti aku akan menantimu dalam kamarku!"

"Hi-hi-hik, begitu baru pujaanku yang tampan dan gagah! Sampai malam nanti, Kongcu." kata wanita itu dan Sin-kiam Mo-li keluar ruangan itu, diikuti oleh Siangkoan Liong.

Melihat mereka Li Sian tidak mampu menahan kemarahan dan rasa penasaran di dalam hatinya lagi. Jelaslah bahwa antara Siangkoan Liong dan Sin-kiam Mo-li nenek yang masih cantik jelita itu, terdapat hubungan gelap! Maka ia pun segera meloncat keluar dari balik pilar itu, mengejutkan mereka berdua. Tanpa mempedulikan Sin-kiam Mo-li, Li Sian lalu menghampiri Siangkoan Liong yang juga memandang dengan mata terbelalak dan hati tidak enak melihat betapa wajah gadis itu marah dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi!

“Sian-moi, kau....“

Dia maju dan mengembangkan kedua lengan seolah-olah hendak memeluk Li Sian. Akan tetapi gadis itu menahan langkahnya, berhenti kurang lebih dua meter dari pemuda itu, matanya memandang tajam penuh selidik.

“Siangkoan Liong!” bentaknya dan sebutan ini saja sudah amat mengejutkan hati pemuda itu. “Aku menuntut penjelasan darimu!”

“Sian-moi ada apakah? Apakah yang telah terjadi dan penjelasan apa yang kau inginkan?”

Siangkoan Liong yang memang merupakan seorang pemuda luar biasa itu sudah dapat menguasai dirinya dan bersikap tenang, sementara itu Sin-kiam Mo-li memandang dengan mulut tersenyum penuh kemenangan. Bagaimanapun juga, gadis itu telah ternoda, berarti telah dapat ditundukkan. Ia tidak percaya bahwa gadis yang telah terjatuh ke dalam pelukan Siangkoan Liong itu akan berani atau mau memberontak.

“Moli, sebaiknya engkau keluar dulu dan biarkan aku bicara empat mata dengan Sian-moi.”

“Tidak perlu! Boleh saja ia menghadiri karena ia pun agaknya merupakan anggauta komplotanmu yang jahat!” kata pula Li Sian dan kedua orang itu saling pandang, jelas nampak ada kekagetan dalam pandang mata mereka.

“Sian-moi, aku tidak mengerti.“

“Katakan terus terang, siapakah yang telah membunuh kakakku Pouw Ciang Hin?” bentak Li Sian sambil menatap tajam.

Siangkoan Liong yang sudah menduga buruk, telah siap siaga. Wajahnya tidak berubah mendengar pertanyaan ini dan dia bahkan bersikap seperti orang terheran-heran lalu tersenyum.

“Ah, Sian-moi, apakah engkau sudah lupa? Ataukah kedukaanmu membuat engkau menjadi bingung? Sudah jelas, kau lihat sendiri betapa kakakmu itu tewas dalam perkelahian melawan perwira kerajaan, mati sampyuh (keduanya tewas).“

“Bohong! Kakakku mati oleh tusukan pedang sedangkan lawannya itu bersenjatakan golok! Hayo katakan saja, siapa yang membunuh kakakku, dan mengapa kalian semua melakukan tipu muslihat itu untuk mengelabuhi aku tentang kematian kakakku? Hayo jawab sejujurnya!”

Tentu saja, betapa kuat pun batinnya, Siangkoan Liong terkejut bukan main mendengar pengungkapan rahasia itu dari mulut Li Sian.

“Ah, itu fitnah belaka! Dari siapa engkau mendengar fitnah itu, Sian-moi?”

“Tidak peduli dari siapa! Pokoknya katakanlah siapa pembunuh kakakku dan mengapa ada siasat buruk itu untuk mengelabuhi aku?”

Tiba-tiba muncul Toat-beng Kiam-ong Giam San Ek dan dia segera berkata dengan suara lantang,

“Siangkoan-kongcu, tadi aku melihat ia bicara bisik-bisik dengan Bi-kwi!”

“Ah, kalau begitu siluman betina itu yang telah menyebar fitnah jahat!” Siangkoan Liong berseru marah. “Aku harus menegur wanita itu!”

Dan dia pun segera meloncat pergi untuk mencari Bi-kwi di kamarnya, diikuti oleh Sin-kiam Mo-li dan Toat-beng Kiam-ong. Melihat ini, Li Sian juga cepat mengikuti karena ia ingin kepastian, siapa yang benar antara mereka.

Sementara itu, Bi-kwi telah berada di dalam kamarnya,
“Telah kuceritakan kepada Pouw Li Sian itu tentang pembunuhan atas diri kakaknya, dan kurasa badai akan segera datang menyerang.”

“Hemmm, biarkan saja, aku tidak takut,” kata Yo Jin dengan gagah. “Bagaimanapun juga, anak kita telah selamat, dan kita tidak boleh membantu perbuatan jahat.”

Bi-kwi merasa terharu sekali melihat kegagahan suaminya. Ia maju merangkul suaminya, merasa bahwa sekali ini mereka terancam bahaya maut yang amat berbahaya dan ia tidak berdaya menyelamatkan suaminya.

“Engkau memang benar, dan aku merasa berbahagia sekali berada di sampingmu karena sikapmu yang gagah membangkitkan semangatku. Memang kita telah tertipu. Mereka itu sama sekali bukan perkumpulan orang-orang gagah yang hendak menentang penjajah dan membebaskan nusa bangsa dari penjajahan, melainkan sekelompok orang-orang jahat yang bersekutu untuk memberontak, demi diri sendiri. Siangkoan Lohan telah mengumpulkan tokoh-tokoh dunia hitam di sini, dan aku mendengar bahwa usaha pemberontakan ini hanyalah untuk cita-cita agar kelak puteranya dapat diangkat menjadi kaisar kalau pemberontakan itu berhasil. Ibu Siangkoan Liong adalah seorang puteri istana, karena itu Siangkoan Lohan merasa bahwa puteranya itu adalah seorang pangeran dan karenanya patut untuk menjadi kaisar. Itulah yang mendorong adanya pemberontakan mereka, bukan karena kesadaran politik untuk membebaskan nusa bangsa dari belenggu penjajahan.”

Yo Jin bangkit berdiri dan mengepal tinju.
“Dan engkau hendak mereka paksa menjadi kaki tangan mereka, membantu usaha mereka yang jahat itu? Tidak, isteriku, tidak boleh sama sekali!”

“Jangan khawatir suamiku, jangan khawatir. Aku pun setuju denganmu, aku tidak sudi membantu mereka. Akan tetapi, hal ini akan mengakibatkan bahaya besar mengancam keselamatan kita.”

“Tidak mengapa! Aku tidak takut. Mati hidup berada di tangan Tuhan dan jauh lebh baik mati sebagai seorang terhormat dan bersih daripada hidup sebagai kaki tangan orang-orang jahat!”

Bi-kwi semakin kagum dan terharu. Ia merangkul dan mencium suaminya dengan kedua mata basah air mata. Dalam keadaan berangkulan itulah pintu depan jebol ditendang orang dan muncullah Siangkoan Liong, Sin-kiam Mo-li, dan Toat-beng Kiam-ong dengan sikap garang! Dan di belakang mereka, muncul pula Pouw Li Sian yang mukanya nampak pucat!

Bi-kwi cepat menyembunyikan suaminya di belakang tubuhnya, menghadapi mereka dengan sikap tenang namun waspada, maklum bahwa badai yang sudah disangkanya akan muncul itu kini telah tiba.

“Bi-kwi, engkau berani menyebar fitnah, meracuni hati Sian-moi dengan berita bohong!” bentak Siangkoan Liong dengan sikap marah walaupun suaranya masih terdengar halus seperti biasa. “Hayo cepat engkau tarik kembali fitnah itu dan mengaku salah agar aku masih dapat mempertimbangkan apakah engkau dapat dimaafkan atau tidak.”