Ads

Rabu, 17 Februari 2016

Kisah si Bangau Putih Jilid 017

Suma Lian sengaja memanaskan hati mereka untuk mengetahui mengapa mereka itu memusuhi kedua orang pamannya.

“Bocah sombong!” bentak nenek itu yang jelas memperlihatkan sikap membenci wanita muda. “Beng-san Siang-eng adalah cucu Pendekar Super Sakti dari Pulau Es! Kenyataan ini saja sudah cukup bagi kami untuk memusuhi mereka!”

Kini mengertilah Suma Lian, juga Beng-san Siang-eng mengapa nenek dan kakek itu memusuhi mereka. Kiranya mereka itu, golongan sesat, selalu tak pernah melupakan keluarga Pendekar Pulau Es dan selalu memusuhi keluarga itu setiap kali ada kesempatan. Hal ini membuat Suma Lian menjadi semakin marah.

Akan tetapi gadis yang pemberani ini tidak memperlihatkan kemarahannya, sebaliknya ia malah tertawa. Suara ketawanya nyaring dan bebas, tidak ditahan-tahan atau ditutupi mulutnya sehingga nampak rongga mulutnya yang kemerahan dan kilatan giginya yang putih.

“Heh-he-hi-hi-hik! Hek-sim Kui-bu dan Hok Yang Cu, dua orang kakek dan nenek tua bangka yang mau mampus, orang-orang macam kalian ini berani memusuhi keluarga para Pendekar Pulau Es? Dengar baik-baik, aku bernama Suma Lian? She Suma, ingat! Aku adalah cucu buyut dalam dari kakek buyut Suma Han. Hayo cepat kalian berlutut minta ampun, kemudian minggat dari sini jangan memperlihatkan ekor kalian lagi sebelum aku mewakili keluarga para Pendekar Pulau Es untuk menghajarmu!”

Mendengar ucapan yang amat merendahkan itu, si nenek sudah menjadi marah dan mencak-mencak, akan tetapi kakek itu malah menjadi girang sekali dan dia tertawa bergelak.

“Ha-ha-ha, sungguh baik sekali nasibku! Jadi engkau she Suma, keturunan langsung Pendekar Pulau Es? Ha-ha-ha-ha, sudah lama sekali aku ingin mendapatkan seorang wanita she Suma, dan baru sekarang agaknya akan berhasil, ha-ha-ha!”

Dan tiba-tiba saja dia sudah menubruk ke arah Suma Lian, tangan kirinya mencengkeram ke arah muka gadis itu, akan tetapi dengan kecepatan kilat tangan kanannya menyusul dengan cengkeraman ke arah dada kiri Suma Lian. Serangan ini tidak sopan, akan tetapi juga amat berbahaya karena gerakannya cepat sekali dan dari kedua telapak tangan yang mencengkeram itu menyambar hawa pukulan yang cukup dahsyat!

Melihat betapa kakek yang lihai itu menyerang Suma Lian, Beng-san Siang-eng tentu saja menjadi khawatir sekali, akan tetapi mereka belum merasa perlu turun tangan karena di situ juga masih ada nenek yang mereka tahu amat lihai pula itu.

Suma Lian adalah murid terakhir dari Bu Beng Lokai di samping Pouw Li Sian yang menjadi sumoinya. Selama delapan tahun, Suma Lian dan Pouw Li Sian menerima gemblengan yang amat tekun dari Bu Beng Lokai, dan kini boleh dibilang semua inti ilmu kepandaian kakek itu telah diwariskan, tentu saja dipilih yang ampuh-ampuh saja.

Sebelum menjadi murid Bu Beng Lokai, sebagai puteri ayah ibu pendekar sakti, tentu saja sejak kecil Suma Lian telah menerima gemblengan orang tuanya, maka tentu saja ia kini telah memiliki ilmu silat yang hebat. Menghadapi serangan kakek pendek botak, ia tidak menjadi gentar atau gugup, hanya gemas karena kakek itu ternyata seorang yang benar-benar tidak sopan, begitu menyerang hendak mencengkeram buah dadanya!

Dengan gerakan amat lincah ia pun melangkah mundur mengelak sehingga kedua tangan kakek itu yang tadi mencengkeram dada dan kepala, tidak dapat menjangkaunya dan sebagai sambutan, kakinya melayang tinggi dari samping mengarah muka lawan!

Kaget juga kakek pendek itu ketika tiba-tiba gadis itu selain dapat menghindarkan cengkeramannya, juga membalas dengan tendangan yang demikian kuat dan cepatnya. Namun, dia tidak mengelak, melainkan memutar lengan kanannya ke kanan untuk menangkap kaki kiri gadis itu yang menyambar ke arah mukanya dari samping.

Suma Lian cepat menarik kembali kakinya, maklum bahwa lawannya amat lihai sehingga dari keadaan terserang dapat mengubah kedudukan penyerang! Dan kakek itu pun tertawa bergelak melihat gadis itu menarik kembali kakinya.

“Ha-ha-ha, kakimu kecil dan indah, harum pula!” Dia memuji dengan nada mengejek.

Tentu saja Suma Lian menjadi marah, akan tetapi gadis ini memang pandai sekali menyembunyikan perasaannya, bahkan ia pun tersenyum mengejek.

“Hemmm, tua bangka buruk dan busuk. Mukamu demikian jelek dan kotor sehingga untuk menjadi penjilat kaki pun belum cukup berharga!”

Begitu melihat kakek itu terbelalak dan menjadi merah mukanya karena marah mendengar penghinaan itu, Suma Lian sudah menerjang dengan pukulan tangan kiri ke arah ubun-ubun kepala kakek pendek itu sedangkan tangan kanannya menampar ke arah dada. Gerakannya cepat dan kuat. Pukulan ke arah ubun-ubun itu dilakukan dengan kelima jari dibentuk paruh meruncing, seperti paruh seekor burung garuda mematuk ubun-ubun yang botak itu.

Jangan dipandang ringan tangan yang berjari mungil ini karena saat itu dipenuhi tenaga Swat-im Sin-kang, yang membuat hawa yang menyambar dari tangan itu terasa dingin sekali dan kalau sampai ubun-ubun kepala itu terkena hantaman ini, tentu akan berlubang atau setidaknya tentu isinya akan terguncang hebat dan orangnya tewas. Juga tamparan ke arah dada itu bukan main-main, mengandung tenaga dahsyat sehingga sekiranya mengenai sasaran, tulang-tulang iga akan patah-patah dan jantung di dalam dada dapat copot karena guncangannya!

“Hyaaahhhhh....”

Kakek itu kini terkejut dan sambil mengeluarkan seruan ini, dia melempar tubuh ke belakang dan berjungkir balik. Akan tetapi, gerakan Suma Lian luar biasa cepatnya, disusulnya tubuh yang berjungkir balik itu dan kini tangan kanannya menghantam pula dari atas.

Kakek itu yang baru saja berjungkir balik, tidak sempat pula untuk mengelak dan terpaksa dia pun mengangkat lengan kiri menangkis.

“Dukkk....!” Dua lengan bertemu dan akibatnya, tubuh kakek itu bergulingan sambil menggigil kedinginan!

“Swat-im Sin-jiu....!” serunya kaget.

“Hemmm, baru engkau mengenal kesaktian keluarga Pulau Es, ya? Nah, terimalah ini!”

Bentak Suma Lian dan dengan cepatnya ia pun menerjang terus, sekali ini tubuhnya merendah sampai hampir menelungkup dan tiba-tiba saja tubuh itu mencelat ke atas, kedua tangan mendorong dan sekali ini ia mempergunakan tenaga sakti yang diwarisi dari gurunya, yaitu Tenaga Inti Bumi!






Serangan yang dilakukan dengan lebih dahulu menjatuhkan diri ke atas tanah ini sama sekali tidak terduga oleh lawan sehingga kakek itu terkejut dan tidak sempat mengelak. Dia harus menangkis lagi dan kini, maklum akan kelihaian gadis itu, dia menangkis dengan kedua tangan didorongkan sambil mengerahkan seluruh tenaga sinkangnya.

“Desss....!”

Hebat sekali pertemuan tenaga itu dan akibatnya, tubuh yang pendek itu terjengkang dan kembali bergulingan. Namun, Hok Yang Cu sudah meloncat bangun dengan cepat, mukanya agak pucat dan di tepi mulutnya nampak darah. Ternyata pertemuan tenaga sinkang melalui dua telapak tangan tadi telah mengguncangkan tubuhnya dan membuat dia terluka di sebelah dalam tubuh sehingga muntahkan darah segar. Kemarahan dan penasaran membuat kakek itu lupa diri dan dia sudah meloloskan sabuknya, sabuk kulit yang ujungnya dipasangi pisau beracun.

Dua orang kakek Gak tadinya merasa kaget, kagum dan gembira bukan main melihat betapa keponakan mereka itu mampu menandingi, bahkan membuat kakek pendek botak itu dua kali roboh bergulingan!

Akan tetapi kini mereka merasa khawatir lagi melihat betapa Hok Yang Cu, melolos senjata sabuk yang mengerikan itu karena mereka dapat melihat betapa kedua batang pisau yang ujungnya menghitam itu tentulah mengandung racun. Juga mereka melihat betapa nenek Hek-sim Kui-bo kini juga memutar tongkatnya, maka mereka pun cepat saling memberi tanda dan keduanya sudah mencabut pedang dan meloncat ke depan, menghadang nenek buruk itu.

“Lian-ji, apakah engkau memerlukan pedang?” teriak Gak Jit Kong kepada keponakannya.

Akan tetapi Suma Lian tersenyum dan menggeleng kepalanya.
“Paman, menghadapi tua bangka yang sudah mau mampus ini perlu apa menggunakan pedang? Sebaiknya kedua Paman mundur dan nonton saja, biarlah aku akan menghajar anjing tua betina dan jantan ini sampai mereka lari terbirit-birit menyembunyikan ekor di selangkangnya!”

“Bocah sombong lihat senjataku!”

Bentak Hok Yang Cu yang kembali menyerang penuh semangat walaupun tadinya dia sudah merasa gentar. Kini dia marah sekali dan masih belum mau melihat kenyataan, belum mau percaya bahwa dia kalah oleh gadis muda!

Juga nenek Hek-sim Kui-bo menerjang ke depan dengan tongkat hitamnya, akan tetapi dua orang kakek kembar sudah menyambutnya dengan pedang mereka. Terjadilah perkelahian mati-matian antara nenek buruk itu melawan dua orang kakek kembar yang memainkan pedang mereka dengan cepat dan saling membantu.

Serangan sabuk berujung pisau beracun itu amat berbahaya, namun dengan tenang Suma Lian menggerakkan kakinya dan ia sudah mempergunakan langkah-langkah ajaib dari Ilmu Sam-po Cin-keng yang luar biasa. Jangankan baru diserang oleh seorang yang bersenjata sabuk berpisau, bahkan dengan ilmu langkah ajaib ini, yang sudah dikuasainya dengan baik, Suma Lian akan berani memasuki barisan senjata dengan tangan kosong, mempergunakan kelincahannya dan keampuhan ilmu langkah-langkah ajaib itu!

Dengan mudah ia menghindarkan diri dari serangan bertubi-tubi yang dilakukan oleh kakek pendek botak, bahkan dapat membalas dengan tamparan atau tendangan yang membuat kakek itu kadang-kadang terdesak hebat.

Pengeroyokan kedua orang kakek kembar Gak terhadap nenek itu membuat Hek-sim Kui-bo repot juga. Biarpun tingkat kepandaiannya lebih tinggi tingkatnya dibandingkan masing-masing pendekar Gak itu, namun ketika mereka maju berbareng sebagai Beng-san Sian-eng, nenek itu kewalahan.

Dua orang kakek kembar ini selain memiliki dasar ilmu silat yang tinggi dan ampuh, juga kalau maju berdua seperti satu orang berbadan dua saja. Mereka dapat bergerak otomatis saling bantu sehingga seperti seorang lawan yang berkepala dua dan bertangan kaki empat!

Harus diakui bahwa biarpun mereka lebih dahulu mempelajari ilmu silat dibandingkan Suma Lian, namun pada waktu itu, tingkat kepandaian Suma Lian jauh melampaui kedua orang pamannya. Hal ini adalah karena memang bakat gadis itu jauh lebih besar, juga karena kedua orang saudara kembar ini belum menguasai inti dari ilmu-ilmu silat tinggi ayah mereka.

Walaupun demikian, karena maju berdua, cukup merupakan lawan yang amat lihai dan kuat. Dengan Ilmu Pedang Pengacau Langit (Lo-thian Kiam-sut) mereka berdua dapat membendung gelombang serangan tongkat Hek-sim Kui-bo, bahkan kini dengan pedang mereka, Beng-san Siang-eng mulai mendesak nenek yang menjadi repot dan harus main mundur, gelisah sekali melihat betapa teman yang diandalkannya, si pendeta pendek itu juga terdesak hebat oleh gadis yang amat lihai itu!

Perkelahian antara Suma Lian dan Hok Yang Cu memang berat sebelah. Tingkat kepandaian gadis itu memang jauh lebih tinggi dan wataknya yang nakal dan jenaka membuat Suma Lian sengaja mempermainkan lawan. Kalau ia menghendaki, tentu saja sejak tadi ia sudah mampu merobohkan lawan, bahkan kalau perlu membunuhnya, akan tetapi dasar gadis yang memiliki watak aneh dan kadang-kadang suka ugal-ugalan, maka ia pun lebih senang mempermainkannya!

Tiba-tiba terdengar suara kanak-kanak berseru,
“Enci Lian, hajar setan pendek itu, Enci!”

Suma Lian menengok dan ternyata Souw Hui Lian menggandeng tangan Gak Ciang Hun telah muncul di ambang pintu depan. Wanita itu tentu saja merasa khawatir mendengar suara perkelahian di luar dan sampai lama tidak ada tanda kemenangan di pihak suaminya, maka sambil menuntun tangan puteranya ia pun keluar untuk menonton.

Ketika ia melihat betapa suaminya mengeroyok nenek buruk itu, sedangkan keponakan wanita itu dengan tangkasnya dapat menandingi kakek bersabuk itu dengan tangan kosong saja, hati Hui Lian menjadi kagum dan girang bukan main. Jelas bahwa di situ tidak ada musuh lain kecuali dua orang itu. Maka ia pun cepat mencabut pedangnya dan meninggalkan puteranya di ambang pintu dan ia sendiri cepat meloncat dan membantu suami-suaminya untuk mengeroyok Hek-sim Kui-bo!

Dan melihat betapa Suma Lian menandingi kakek pendek sambil berloncat cepat dan aneh dan gadis itu tersenyum-senyum mengejek, Ciang Hun menjadi gembira dan berseru kepada gadis itu untuk menghajar lawannya.

Ketika Suma Lian menengok, kesempatan ini dipergunakan oleh Hok Yang Cu untuk menyerangnya dengan hebat. Sabuknya bergerak dan sebatang pisau beracun meluncur ke arah tenggorokan gadis itu. Cepat bukan main serangan ini dan tahu-tahu pisau itu telah terbang menyambar ke arah tenggorokan Suma Lian yang berkulit halus mulus dan putih bersih! Namun, Suma Lian tahu akan hal ini. Ia teringat akan seruan Ciang Hun, maka kini tangannya menangkis, dan jari-jari tangannya yang kecil mungil itu menyentik ke arah pisau.

“Tringggg....!”

Pisau itu terpental, membalik dan terdengar kakek ini berteriak kesakitan ketika pisau yang membalik itu tahu-tahu telah melukai pundaknya! Sebuah tendangan membuat tubuhnya yang tersentak kaget ini terlempar dan jatuh terbanting lalu bergulingan.

“Kui-bo…. lari....!” teriaknya dan tanpa menanti jawaban temannya lagi, dia pun terus menggelinding ke pekarangan depan dan meloncat bangun lalu melarikan diri menghilang ke dalam kegelapan malam.

Sementara itu, Hek-sim Kui-bo yang memang sudah terdesak oleh kedua orang kakek kembar itu, menjadi semakin repot ketika Hui Lian maju membantu kedua orang suaminya.

Tingkat kepandaian Hui Lian tidak banyak selisihnya dengan tingkat suaminya. Apalagi ketika ia melihat betapa temannya semakin terdesak. Pada saat Hok Yang Cu terkena pisau beracunnya sendiri, hanya beberapa detik kemudian, pedang Gak Jit Kong juga sudah melukai pangkal lengan kanannya, dan tendangan Hui Lian juga mengenai pahanya, maka ia pun terhuyung ke belakang dan mendengar seruan temannya, ia pun terus meloncat ke pekarangan dan menghilang di dalam kegelapan malam.

“Kejar mereka.!”

Hui Lian berseru, siap untuk mengejar. Akan tetapi sebuah tangan yang halus menyentuh tangannya.

“Sebaliknya tidak usah, Bibi. Musuh yang sudah melarikan diri tidak perlu dikejar, apalagi dalam gelap begini. Mereka adalah orang-orang yang curang dan berbahaya. Pula, menurut kata ayah, keluarga Pulau Es tidak pernah memusuhi orang-orang golongan hitam, hanya menentang perbuatan mereka yang jahat. Kalau mereka tidak menyerang, tidak perlu dilayani.”

“Ia benar. Mari kita masuk saja,” kata Gak Jit Kong dan mereka lalu memasuki rumah dan menutup daun pintu depan dengan rapat.

“Wah, enci Lian sungguh hebat! Kakek pendek yang lihai itu dijadikan bola olehnya!” kata Ciang Hun gembira.

“Itulah hasilnya kalau belajar dengan baik dan tekun,” kata Hui Lian kepada puteranya.

“Engkau harus meniru encimu, Suma Lian, kami berterima kasih sekali karena kalau tidak ada engkau, entah bagaimana jadinya dengan kami berempat.”

“Ah, Bibi, kita adalah orang sekeluarga sendiri, tidak perlu bersikap sungkan. Pula, kurasa dua orang penjahat tadi tidak akan mudah saja mengalahkan Bibi dan Paman berdua.”

“Sudahlah, Lian-ji, tidak perlu memuji kami. Yang jelas, kami berdua sudah ketinggalan jauh dalam ilmu silat dibandingkan denganmu dan biarlah kami akan berlatih dengan tekun. Akan tetapi, setelah urusan yang mengganggu kami ini dapat dihindarkan, sekarang engkau harus menceritakan keperluanmu datang berkunjung ini.”

Suma Lian menarik napas panjang. Memang selalu ditahannya berita yang tidak menyenangkan itu karena keluarga ini sedang menghadapi ancaman bahaya. Setelah kini bahaya itu lewat, tentu saja ia harus menceritakannya.

“Aku datang berkunjung karena diutus oleh kong-kong, Paman, Beliau minta agar Paman berdua dan sekeluarga suka datang menengok beliau karena pada waktu ini kong-kong sedang menderita sakit.“

“Ayah sakit.?” Dua orang kakek kembar itu berseru hampir berbareng.

“Lian-ji, kenapa tidak dari kemarin engkau memberi tahu kami?” Gak Jit Kong menegur dengan muka sedih.

“Ayah sakit apakah, Suma Lian?” sambung Gak Goat Kong.

“Aku memang menahan berita ini ketika melihat keluarga Paman terancam bahaya agar jangan menambahi gelisah. Sebetulnya, penyakit kong-kong adalah penyakit biasa, yaitu kelemahan seorang yang usianya sudah terlalu tua, demikian menurut keterangan kong-kong sendiri. Karena itu, diharap agar Paman sekalian suka berkunjung ke sana sekarang juga.”

“Ah, ayah.“

Kedua orang kembar itu merasa gelisah dan berduka, mengingat betapa selama ini mereka gagal mencari ayah mereka, sampai kurang lebih sepuluh tahun semenjak ayah mereka meninggalkan Puncak Telaga Warna, mereka tidak pernah lagi mendengar tentang ayah mereka, apalagi melihatnya.

“Di mana dia?” tanya Gak Jit Kong. “Jauhkah dari sini?”

“Tidak jauh, hanya di lereng Cin-ling-san, nampak dari sini pegunungan itu kalau siang hari, Paman.”

Dua orang kembar itu terkejut dan girang. Ternyata ayah mereka berada di gunung sebelah! Malam itu mereka tidak tidur lagi dan mereka berdua bertanya tentang ayah mereka dan mereka berdua terharu bukan main mendengar betapa ayah mereka kini berjuluk Bu Beng Lokai (Pengemis Tua Tanpa Nama) dan bahkan ketika untuk pertama kalinya bertemu dengan Suma Lian, kakek itu seperti seorang jembel tua yang kotor dan tidak waras!

“Aih, akulah yang berdosa terhadap ayah mertuaku.“ Tiba-tiba Hui Lian menangis ketika melihat betapa dua orang suaminya berlinangan air mata. “Akulah yang membuat kalian berdua menjadi anak-anak yang tidak berbakti, membuat hati ayah kalian menjadi merana dan kecewa.“

Hui Lian menangis sesenggukan, tak dapat ditahan lagi kesedihannya dan ia pun merangkul puteranya. Ciang Hun ikut menangis ketika melihat betapa ibunya menangis sedih.

Melihat sikap isteri mereka itu, Beng-san Siang-eng menjadi terharu dan wajah mereka diliputi kedukaan,

“Hui Lian, kamilah yang bersalah terhadap ayah!” kata Gak Jit Kong.

“Engkau tidak bersalah, dan biarlah kami yang akan mohon ampun kepada ayah.” sambung Gak Goat Kong.

Suma Lian adalah seorang gadis yang memiliki perasaan yang peka, mudah tersentuh sehingga ia mudah riang gembira dan jenaka, akan tetapi mudah pula terharu. Melihat Hui Lian menangis, diikuti puteranya, dan melihat pula sikap dua orang kakek kembar itu yang gagah perkasa dan masing-masing mengakui kesalahan dengan isteri mereka, ia pun merasa terharu sekali sampai kedua matanya menjadi basah.

Ia dapat merasakan cinta kasih yang besar antara dua orang kembar itu dengan isteri mereka. Keadaan mereka itu memang amat ganjil bagi Suma Lian dan ia tidak dapat menyelaminya, namun ia dapat merasakan kasih sayang yang amat mendalam di dalam keluarga orang kembar ini.

“Paman dan Bibi, harap jangan berduka. Ketahuilah bahwa kong-kong sering membicarakan tentang Paman dan Bibi dengan sikap yang amat mencinta dan rindu, dari kata-katanya aku dapat memastikan bahwa beliau sama sekali tidak marah kepada kalian, apalagi membenci.”

Mendengar ini, dua orang saudara kembar itu memandang kepada Suma Lian dengan sinar mata penuh harapan.

“Suma Lian, benarkah kata-katamu itu ataukah hanya hiburan belaka untuk kami?” tanya Gak Goat Kong.

“Paman, mana aku berani membohong?”

“Sudahlah, mari kita semua berangkat. Andaikata ayah marah-marah kepada kita sekalipun, hal itu sudah sepatutnya dan kita hanya tinggal minta maaf kepadanya. Yang penting, kita dapat bertemu dan menghadap ayah. Aih, Lian-ji, betapa kami selama bertahun-tahun ini bersusah payah mencari ayah namun selalu gagal,” kata Gak Jit Kong.

Konflik atau pertentangan yang terjadi antara kita dengan orang lain, sama sekali tidak dapat diatasi dengan prasangka, dengan sikap ingin benar sendiri dan ingin menang sendiri. Konflik akan makin memuncak kalau kita saling menilai keadaan orang lain itu, karena penilaian selalu dipengaruhi keadaan hati seseorang, didasari rasa suka dan tidak suka yang timbul dari si aku yang merasa diuntungkan atau dirugikan.

Kalau kita sedang bertentangan dengan seseorang, biasanya kita selalu menilai orang itu, segala sikap dan perbuatannya terhadap kita yang tentu saja menimbulkan nilai buruk karena orang itu kita anggap merugikan dan penilaian ini akan menambah tebalnya kebencian dan permusuhan.

Akan tetapi, cobalah kita mulai mengarahkan pengamatan kepada diri kita sendiri, sikap dan perbuatan kita sendiri tanpa penilaian, melainkan pengamatan yang waspada, tanpa memihak, menyalahkan atau membenarkan diri sendiri. Maka, akan nampak jelas bahwa segala sebab yang mengakibatkan pertentangan, sebagian besar terletak dalam diri kita sendiri masing-masing. Dan pengamatan terhadap diri ini akan dapat mendatangkan perubahan, dan ini menghapus pertentangan, karena konflik ke luar hanyalah pencerminan dari konflik yang terjadi dalam diri sendiri.

Pengamatan kita terhadap diri sendiri, setiap saat, akan mengubah semua ulah kita terhadap orang lain, tidak mudah mata kita dibutakan oleh nafsu belaka, tidak mudah kita menjadi “mata gelap” seperti dikatakan orang-orang bijaksana di jaman dahulu bahwa musuh yang paling kuat, paling berbahaya, paling licik, adalah diri sendiri, pikiran sendiri! Setan pembujuk dan penipu bukan berada di luar diri kita sendiri! Karena itu, pengamatan yang waspada terhadap diri sendiri akan melumpuhkan setan ini!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali berangkatlah keluarga Beng-san Siang-eng yang terdiri dari dua orang suami, satu isteri dan satu anak itu, mengikuti Suma Lian, menuju ke Pegunungan Cin-ling-san yang luas dan mempunyai banyak bukit-bukit. Di satu di antara lereng bukit inilah kini tinggal Bu Beng Lokai.

Bukit itu mempunyai sumber air dan tanahnya amat subur, penuh dengan pohon-pohon besar. Di tengah sebuah di antara hutan-hutan yang memenuhi bukit yang merupakan anak bukit Pegunungan Cin-ling-san ini terdapat sebuah pondok. Tidak besar, hanya terbuat dari kayu-kayu pohon besar, dan mempunyai dua buah kamar saja. Namun pondok itu terawat bersih, dan di depannya bahkan terdapat sebuah taman bunga yang indah.

Inilah tempat tinggal Bu Beng Lokai bersama dua orang muridnya, yaitu Suma Lian dan Pouw Li Sian. Muridnya yang bernama Suma Lian telah kita kenal, dan Suma Lian masih terhitung cucu keponakannya sendiri, atau lebih tepat, cucu keponakan mendiang isterinya. Adapun muridnya yang ke dua, juga seorang gadis yang bernama Pouw Li Sian, usianya sebaya dengan Suma Lian, hanya lebih muda beberapa bulan saja.

Seperti Suma Lian, Pouw Li Sian ini juga tekun belajar silat dan kini telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Ia juga cantik manis, dengan tahi lalat kecil di dagunya yang meruncing, menambah manis. Akan tetapi, wataknya sungguh jauh berbeda dengan Suma Lian. Kalau Suma Lian seorang gadis lincah, jenaka gembira yang kadang-kadang ugal-ugalan, dengan pakaian yang nyentrik dan seenaknya, sebaliknya Pouw Li Sian adalah seorang gadis yang cantik dan halus gerak-geriknya, sopan santun tutur katanya, dan biarpun pakaiannya juga sederhana dan tambal-tambalan seperti pakaian gurunya dan pakaian Suma Lian, namun potongan pakaian itu rapi dan sopan.

Di dalam kisah SULING NAGA sudah diceritakan betapa Pouw Li Sian ini adalah seorang keturunan bangsawan tinggi. Mendiang ayahnya adalah seorang menteri, seorang bangsawan tinggi yang berjiwa satria.

Ketika Pouw Tong Ki, demikian nama menteri itu, masih duduk sebagai Menteri Pendapatan, dia bentrok dengan pembesar tinggi Hou Seng, thaikam (orang kebiri) yang menjadi kekasih kaisar karenanya mempunyai kedudukan yang amat tinggi dan kekuasaan yang tak terbatas.

Dalam bentrokan inilah Pouw Tong Ki kena fitnah dan bahkan terbunuh oleh kaki tangan Hou Seng yang bersekutu dengan datuk-datuk sesat dari golongan hitam. Seluruh keluarganya terbasmi dan ditangkap sebagai pemberontak karena difitnah, kecuali Pouw Li Sian, puteri menteri itu yang dapat diselamatkan oleh Bu Beng Lokai. Ketika peristiwa itu terjadi, Pouw Li Sian baru berusia dua belas tahun dan bersama Suma Lian ia lalu diajak pergi oleh Bu Beng Lokai sebagai muridnya.

Kini Li Sian telah berusia dua puluh tahun, dan selama delapan tahun itu ia ikut bersama gurunya dan sucinya (kakak seperguruannya), merantau dan hidup menempuh kesulitan dan kekerasan, kekurangan dan akhirnya, dua tahun yang lalu, gurunya menetap di dalam hutan di lereng bukit Pegunungan Cin-ling-San itu.

Li Sian, seperti juga Suma Lian, amat sayang kepada gurunya, karena selain sebagai penyelamat dirinya, juga Bu Beng Lokai merupakan satu-satunya orang yang melindungi dan menyayangnya. Seperti juga Suma Lian ia tidak menyebut suhu (guru) kepada Bu Beng Lokai, melainkan kong-kong (kakek) dan hal ini diterima dengan senang oleh kakek itu karena dia merasa seolah-olah puteri menteri itu adalah seorang cucunya sendiri, seperti Suma Lian. Dan hubungan antara Suma Lian dan Pouw Li Sian juga akrab sekali karena mereka hidup berdua di bawah asuhan kakek sakti itu sehingga mereka seolah-olah kakak beradik saja.

Ketika melihat kakek itu makin lemah karena usia yang tua, sudah mendekati seratus tahun, nampak semakin malas dan lebih sering bersamadhi atau tidur, mulailah kedua orang kakak beradik seperguruan itu merasa khawatir.

Akhirnya kakek itu pun harus mengalah dan mengakui keunggulan sang waktu. Segala sesuatu di dunia ini akan berakhir, akan lenyap ditelan waktu sedikit demi sedikit. Demikian pula kehidupan manusia. Sang waktu, melalui usia akan menelan manusia sedikit demi sedikit, tanpa terasa manusia mendapatkan dirinya semakin tua, makin dekat dengan saat akhir di mana dia harus mengakui kelemahan dirinya, mengakui betapa kehidupan ini tidaklah abadi, dan kematian akan menjemputnya dan mengakhiri segala perjalanan hidupnya.

Ketika kakek itu lebih banyak berbaring dengan lemah, dan seringkali dalam tidur mengigau memanggil-manggil nama kedua anak kembarnya, Suma Lian lalu memberanikan diri mengajukan usul kepada kong-kongnya, setelah berunding dengan sumoinya, Li Sian.

“Kong-kong, bagaimana kalau aku pergi ke Beng-san dan menemui kedua orang paman Gak Jit Kong dan Gak Goat Kong, memberitahu mereka bahwa Kong-kong berada di sini dan mengajak mereka datang ke sini?” demikian usulnya sambil duduk di tepi pembaringan kakek itu, sementara itu Li Sian memijati kaki gurunya.

Kakek itu membuka matanya dan sejenak sepasang mata itu mengeluarkan sinar, akan tetapi menjadi redup kembali, kemudian dia menghela napas panjang dan terdengar kata-katanya, seperti kepada diri sendiri, hanya lirih saja.

“Ahhh, mereka tidak akan mau datang menengokku, mereka telah melupakan ayah mereka.“

Melihat, sikap kong-kongnya ini, Suma Lian lalu berunding dengan sumoinya dan Pouw Li Sian juga merasa setuju untuk mengundang putera kembar guru mereka itu. Akhirnya diputuskan bahwa Suma Lian yang akan pergi mengabarkan kepada Beng-san Siang-eng, sedangkan Pouw Li Sian tinggal di rumah untuk menjaga dan melayani semua keperluan gurunya.